Menlu Korsel dan Rubio Sepakat Jaga Koordinasi, tapi Isyarat Trump ke Pyongyang Bikin Sekutu Waswas
Baca dalam 60 detik
- Menlu Korea Selatan dan Menlu AS menegaskan komitmen koordinasi terkait isu nuklir Korea Utara di tengah ketegangan hubungan kedua sekutu.
- Langkah Trump mengurangi latihan militer bersama dan melontarkan pujian ke Pyongyang memicu kekhawatiran analis tentang soliditas aliansi Asia.
- Seoul berjanji mendukung dialog AS-Korut, namun janji investasi US$350 miliar berpotensi menjadi sumber gesekan baru.

Percakapan telepon antara Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio pada Senin lalu menghasilkan kesepakatan untuk terus berkoordinasi erat soal penyelesaian masalah nuklir di Semenanjung Korea. Namun, di balik pernyataan resmi yang tampak normatif, tersirat kegelisahan Seoul terhadap arah kebijakan Gedung Putih yang belakangan kerap melontarkan sinyal ambigu ke Pyongyang.
Menurut laporan kantor berita Yonhap, kedua diplomat itu membahas berbagai isu dalam kerangka aliansi AS-Republik Korea. Departemen Luar Negeri AS hanya mengeluarkan pernyataan singkat, menekankan perlunya koordinasi yang erat dalam hal-hal yang fundamental bagi aliansi. Yang menarik, pernyataan Kementerian Luar Negeri Korea Selatan tidak secara eksplisit menyebut komitmen denuklirisasi Korea Utara seperti biasanya, meskipun menonjolkan pentingnya kerja sama atas isu nuklir.
Pernyataan bersama yang dikutip Yonhap menyebutkan kedua pihak sepakat melanjutkan komunikasi dan kerja sama yang erat demi perdamaian di Semenanjung Korea dan penyelesaian masalah nuklir, sambil mempertahankan postur pertahanan gabungan yang solid. Cho juga dilaporkan menyatakan Seoul akan berupaya maksimal memastikan pesan Trump terbaru untuk Korea Utara dapat membuka kembali dialog antara Washington dan Pyongyang.
Ketegangan sebenarnya muncul setelah Trump pekan lalu mengumumkan pengurangan latihan militer gabungan dan memuji Korea Utara yang bersenjata nuklir, sambil mengkritik Seoul yang dinilai tidak membantu upaya denuklirisasi Iran. Langkah ini memicu kekhawatiran di kalangan analis bahwa ketidakpastian Trump dapat menggerus aliansi yang selama puluhan tahun menjaga stabilitas Asia Timur.
Cho sendiri sebelumnya menilai perintah Trump untuk membatasi latihan militer tampaknya sebagian ditujukan untuk menekan Seoul agar mendukung upaya AS di Iran, di samping isu-isu lain yang belum tuntas seperti investasi. Salah satu potensi sumber gesekan adalah janji Korea Selatan untuk menginvestasikan US$350 miliar di Amerika Serikat berdasarkan kesepakatan dagang tahun lalu. Seoul belum mengumumkan detail rencana investasi tersebut, meskipun Washington telah mengirim proposal berisi proyek-proyek yang bisa dipertimbangkan.
Dalam pernyataannya, Cho juga menegaskan komitmen pemerintahannya untuk memberikan kontribusi substantif dalam memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, sambil mengakui kepemimpinan aktif Trump dan AS dalam menangani isu Timur Tengah. Kedua menlu sepakat untuk bertemu dalam waktu dekat guna membahas berbagai isu penting secara mendalam.
Bagi Indonesia, dinamika ini patut dicermati. Sebagai negara yang selama ini konsisten mendukung perdamaian di Semenanjung Korea, setiap perubahan kebijakan AS terhadap Korea Utara berdampak pada stabilitas kawasan Asia yang menjadi mitra dagang utama. Ketidakpastian dalam aliansi AS-Korsel juga dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan di Asia Timur, yang pada gilirannya memengaruhi arus investasi dan perdagangan di kawasan, termasuk bagi Indonesia.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Seoul akan mampu menyeimbangkan tekanan dari Washington dan keinginan untuk menjaga stabilitas di kawasan. Akankah janji investasi besar menjadi alat tawar yang efektif, atau justru menjadi bumerang yang memperumit hubungan kedua negara? Yang jelas, aliansi AS-Korsel tengah diuji di tengah lanskap geopolitik yang semakin cair.



