Sir Alex Ferguson Tak Tertandingi: 13 Gelar Premier League yang Mungkin Tak Akan Pernah Disamai
Baca dalam 60 detik
- Sir Alex Ferguson memuncaki daftar manajer terbaik Premier League dengan 13 trofi, dua kali lipat dari peraih terbanyak berikutnya.
- Pep Guardiola dan Arsene Wenger menyusul di posisi kedua dan ketiga, dengan masing-masing enam dan tiga gelar, namun gaya bermain mereka juga mengubah wajah sepak bola Inggris.
- Mikel Arteta, satu-satunya manajer aktif peraih gelar, berpotensi naik peringkat seiring ambisi Arsenal yang kian besar.

Sir Alex Ferguson tetap menjadi standar emas manajer Premier League setelah mempersembahkan 13 gelar bagi Manchester United, rekor yang lebih dari dua kali lipat pencapaian manajer lain dalam sejarah kompetisi. Dominasi pria Skotlandia itu selama dua dekade awal Premier League tidak hanya soal jumlah trofi, tetapi juga kemampuannya membangun ulang tim secara berkelanjutan—dari era Eric Cantona hingga trio Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, dan Carlos Tevez—yang membuatnya layak menempati posisi puncak dalam daftar manajer terbaik sepanjang masa.
Dalam daftar yang disusun berdasarkan gelar, hanya empat manajer yang berhasil memenangkan lebih dari satu trofi sejak liga dimulai pada 1992. Selain Ferguson, nama-nama seperti Pep Guardiola, Arsene Wenger, dan Jose Mourinho menghiasi jajaran atas. Namun, di balik statistik, terdapat nuansa yang lebih dalam: bagaimana setiap manajer mendefinisikan era mereka, menghadapi tekanan, dan meninggalkan warisan yang melampaui sekadar angka.
Pep Guardiola, yang menempati peringkat kedua, tidak hanya mengumpulkan enam gelar dalam satu dekade bersama Manchester City, tetapi juga merevolusi cara bermain sepak bola Inggris—dari level elite hingga akar rumput. Gaya permainan berbasis penguasaan bola yang ia bawa dari Barcelona sempat diragukan akan cocok dengan kerasnya sepak bola Inggris, namun kini menjadi standar baru. City bahkan menjadi tim Inggris pertama yang meraih empat gelar beruntun, sebuah pencapaian yang sebelumnya dianggap mustahil.
Arsene Wenger, yang berada di posisi ketiga, mungkin hanya memenangkan tiga gelar, tetapi satu di antaranya adalah musim tanpa kekalahan yang legendaris pada 2003-04—prestasi yang belum pernah ditiru. Wenger, yang datang dari Jepang dengan reputasi yang dipertanyakan, justru memprofesionalkan Arsenal dan membangun tim yang dianggap salah satu yang terbaik dalam sejarah Premier League. Namun, kegagalannya meraih gelar lagi dalam 14 tahun terakhir menjadi catatan tersendiri.
Di luar tiga besar, terdapat nama-nama seperti Jurgen Klopp, yang hanya memenangkan satu gelar tetapi tiga kali mengumpulkan lebih dari 90 poin—sebuah angka yang biasanya cukup untuk juara. Klopp sering diibaratkan sebagai Andy Murray-nya Premier League: penuh energi, dicintai penggemar, tetapi harus berhadapan dengan lawan generasional seperti Guardiola. Jika bukan karena rivalitas itu, Liverpool mungkin akan mendominasi.
Claudio Ranieri, yang menempati peringkat keenam, masuk dalam daftar berkat keajaiban Leicester City pada 2015-16, ketika tim yang dianggap kandidat degradasi dengan odds 5.000-1 berhasil menjadi juara. Kisah tersebut menjadi salah satu dongeng terbesar dalam sejarah olahraga, dan Ranieri pantas mendapat tempat di jajaran elite. Sementara itu, Roberto Mancini, Kenny Dalglish, dan Carlo Ancelotti melengkapi sepuluh besar dengan pencapaian masing-masing, termasuk gelar dramatis Manchester City pada 2012 yang ditentukan oleh gol di menit akhir.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, daftar ini bukan sekadar nostalgia. Banyak dari manajer tersebut menjadi inspirasi bagi pelatih-pelatih lokal yang mengikuti perkembangan taktik global. Keberhasilan Arteta, misalnya, menunjukkan bahwa kesabaran dan visi jangka panjang dapat membawa klub kembali ke puncak—pelajaran yang relevan bagi klub-klub Indonesia yang kerap berganti pelatih dengan cepat.
Dengan kepergian Guardiola pada musim panas ini, pertanyaan besarnya adalah: akankah ada manajer baru yang mampu menantang dominasi Ferguson? Arteta, dengan skuad Arsenal yang semakin kuat, menjadi kandidat kuat. Namun, untuk menyamai rekor 13 gelar, dibutuhkan konsistensi selama lebih dari dua dekade—sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terulang di era sepak bola modern yang penuh tekanan dan perubahan.



