Taman Museum Adachi Kembali Jadi yang Terbaik di Jepang, 23 Tahun Beruntun
Baca dalam 60 detik
- Museum Adachi di Shimane mempertahankan predikat taman Jepang nomor satu versi majalah AS selama 23 tahun berturut-turut.
- Penilaian dilakukan oleh pakar taman dari berbagai negara dengan fokus pada kualitas dan harmoni dengan bangunan.
- Pencapaian ini menegaskan konsistensi perawatan taman yang dilakukan setiap hari sepanjang tahun.

Museum Seni Adachi di Prefektur Shimane, Jepang barat, kembali mencatatkan namanya sebagai pemilik taman Jepang terbaik di dunia versi majalah Amerika Serikat, Sukiya Living Magazine. Pengumuman yang dirilis Selasa (26/8/2025) itu menegaskan dominasi museum tersebut selama 23 tahun beruntun, sebuah rekor yang sulit ditandingi institusi lain.
Dalam penilaian bertajuk "The Journal of Japanese Gardening" edisi 2025, para ahli taman dari Jepang dan mancanegara memberikan skor berdasarkan sejumlah kriteria, termasuk kualitas desain, keasrian, serta keselarasan taman dengan arsitektur di sekitarnya. Hasilnya, taman Museum Adachi mengungguli Villa Kekaisaran Katsura di Kyoto yang menempati posisi kedua, dan Yamamoto-tei di Tokyo di posisi ketiga.
Pencapaian ini bukan sekadar soal estetika. Taman Museum Adachi dirancang dengan filosofi bahwa "taman adalah kanvas". Setiap elemen, mulai dari susunan bebatuan, hamparan lumut, hingga pepohonan yang dipangkas presisi, dirawat setiap hari sepanjang tahun oleh tim khusus. Perawatan intensif inilah yang membuat taman selalu tampil prima, tidak hanya saat musim semi atau gugur, tetapi juga di tengah salju atau panas terik.
Didirikan pada 1970 di kota Yasugi, museum ini juga dikenal karena koleksi lukisan Jepang modern karya Taikan Yokoyama dan seniman lain. Namun, bagi banyak pengunjung, taman justru menjadi daya tarik utama. Direktur Museum Adachi, Takanori Adachi, berharap para pengunjung dapat menikmati keindahan taman yang menampilkan ekspresi berbeda setiap harinya. "Setiap hari, taman ini bercerita hal yang baru," ujarnya.
Bagi Indonesia, tren apresiasi terhadap taman Jepang juga meningkat, seiring dengan maraknya pembangunan kawasan hunian dan komersial yang mengadopsi konsep hijau. Namun, menurut pengamat lanskap, tantangan terbesar adalah konsistensi perawatan. "Di Indonesia, banyak taman indah yang terbengkalai karena kurangnya perawatan rutin. Museum Adachi menunjukkan bahwa keindahan adalah hasil kerja keras harian, bukan sekadar desain awal," kata seorang praktisi lanskap yang enggan disebut namanya.
Keberhasilan Museum Adachi juga menyoroti pentingnya peran taman dalam industri pariwisata. Di Jepang, taman-taman bersejarah menjadi magnet wisatawan mancanegara, termasuk dari Indonesia. Data Japan National Tourism Organization menunjukkan kunjungan wisatawan Indonesia ke Jepang terus meningkat pasca-pandemi, dan taman-taman seperti Adachi menjadi salah satu destinasi favorit.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah Museum Adachi mampu mempertahankan rekor ini di tengah persaingan yang semakin ketat. Beberapa taman di Kyoto dan Tokyo terus berbenah, sementara tren taman modern mulai bermunculan. Namun, dengan komitmen perawatan harian yang sudah terbukti selama puluhan tahun, bukan tidak mungkin rekor ini akan terus bertambah. Yang jelas, bagi para pecinta taman, Adachi tetap menjadi tolok ukur keunggulan yang sulit digeser.



