Para Pemain Sepak Bola Bersatu Desak Perubahan di FIFA: 'Kekuasaan Mengaburkan Penilaian'
Baca dalam 60 detik
- Mikael Silvestre, anggota panel pemain FIFA, melontarkan kritik terbuka terhadap kepemimpinan Gianni Infantino, didukung sejumlah bintang sepak bola dunia.
- Ketegangan memuncak setelah rencana FIFA menjual saham kompetisi, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta menuai penolakan luas dari konfederasi dan asosiasi nasional.
- Dukungan untuk Infantino datang dari Samuel Eto'o, sementara UEFA mengancam boikot dan menuntut perubahan kepemimpinan pada pemilihan Maret mendatang.

Gelombang kritik terhadap kepemimpinan Gianni Infantino di FIFA semakin menguat setelah sejumlah pemain aktif dan mantan bintang sepak bola dunia bersatu menyerukan perubahan. Dalam sebuah pernyataan yang diunggah melalui media sosial, mereka menegaskan bahwa "perubahan diperlukan" di tubuh organisasi sepak bola tertinggi dunia tersebut. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan terhadap Infantino, terutama setelah rencana kontroversialnya untuk menjual saham kompetisi, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta.
Mikael Silvestre, mantan bek Manchester United dan timnas Prancis yang kini duduk di Panel Suara Pemain FIFA, menjadi inisiator pernyataan tersebut. Dalam unggahan di platform X, Silvestre mengangkat tajuk "Cukup!" dan menyatakan bahwa para pemain berbagi kekhawatiran yang sama dengan jutaan penggemar di seluruh dunia. Pernyataan ini kemudian disebarluaskan oleh sejumlah nama besar, seperti bek Inggris Lucy Bronze, pemenang Piala Dunia 1998 Emmanuel Petit, dan mantan kiper Inggris David James.
Isi pernyataan tersebut mengkritik tajam cara FIFA beroperasi di bawah kepemimpinan Infantino. "Kami telah menyaksikan olahraga yang kami cintai menjauh dari nilai-nilai intinya," tulis mereka. "Terlalu lama, keputusan besar diambil tanpa berkonsultasi dengan pemain atau mempertimbangkan penggemar yang menjadi penopang olahraga ini." Mereka juga menegaskan bahwa "kekuasaan telah mengaburkan kemampuan kepemimpinan saat ini untuk membedakan antara kepentingan pribadi dan apa yang terbaik untuk sepak bola." Pernyataan ini ditutup dengan seruan untuk bersatu dari akar rumput hingga puncak, demi mendukung perubahan struktural yang memberikan suara nyata bagi pemain dan penggemar.
Tekanan terhadap Infantino sebenarnya telah berlangsung selama berminggu-minggu, terutama setelah kontroversi seputar FIFA Forward Enterprise (FFE). UEFA, konfederasi sepak bola Eropa, bahkan mengancam akan memboikot semua kompetisi FIFA. Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, menyatakan bahwa ia memperkirakan Infantino akan mundur atau menghadapi tantangan dalam pemilihan pada Maret mendatang. Sejumlah asosiasi nasional, termasuk federasi Inggris, Wales, dan Skotlandia, telah menarik dukungan mereka terhadap Infantino.
Menariknya, keterlibatan Silvestre menunjukkan adanya perlawanan dari dalam tubuh FIFA sendiri. Panel Suara Pemain yang beranggotakan 16 orang itu dibentuk oleh FIFA untuk memantau dan memberikan saran terkait pemberantasan rasisme di sepak bola. Namun, kini panel tersebut justru menjadi wadah kritik terhadap kebijakan Infantino.
Di tengah badai kritik, Infantino masih mendapat dukungan dari Samuel Eto'o, mantan striker Barcelona yang kini menjabat presiden Asosiasi Sepak Bola Kamerun. Eto'o menilai Infantino tidak melakukan kesalahan. "Saya tetap yakin bahwa bagi kami orang Afrika, proyek ini bisa menjadi sesuatu yang luar biasa," ujarnya kepada CNN. "Infantino telah mengubah sepak bola. Dia memberi kesempatan kepada negara-negara yang sebelumnya tidak memiliki akses untuk berpartisipasi dalam turnamen terindah, Piala Dunia. Dia membantu benua kami dan federasi kami berkembang lebih cepat."
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi yang signifikan. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar, Indonesia tentu berharap FIFA dapat dikelola secara transparan dan akuntabel. Rencana penjualan saham kompetisi seperti Piala Dunia kepada investor swasta dapat berdampak pada distribusi pendapatan dan peluang bagi negara berkembang, termasuk Indonesia. Jika perubahan kepemimpinan terjadi, hal ini bisa membuka peluang bagi reformasi yang lebih berpihak pada kepentingan bersama, bukan hanya segelintir pihak.
Pertanyaan besarnya kini adalah: akankah tekanan dari para pemain dan konfederasi cukup kuat untuk menggulingkan Infantino? Atau justru dukungan dari tokoh seperti Eto'o akan memperkuat posisinya? Yang jelas, suara para pemain mulai terdengar, dan mereka tidak lagi ragu untuk berbicara. Masa depan kepemimpinan FIFA akan menjadi ujian apakah organisasi ini mampu berbenah atau justru semakin terpuruk dalam pusaran konflik kepentingan.



