Dari Gunting Rambut Hingga Doktor Kehormatan: Kisah Tan Sri Oh Siew Nam dan Warisan Beasiswa untuk Mahasiswa Malaysia
Baca dalam 60 detik
- Universitas Canterbury menganugerahkan doktor kehormatan kepada tokoh bisnis Malaysia, Tan Sri Oh Siew Nam, atas kontribusinya di bidang bisnis, keuangan, dan filantropi.
- Penghargaan ini menggarisbawahi peran penting beasiswa Colombo Plan dalam mengubah hidup penerimanya, sekaligus menjadi inspirasi bagi mahasiswa internasional, termasuk dari Indonesia.
- Oh Siew Nam mendirikan beasiswa untuk mahasiswa Malaysia di UC sebagai bentuk balas budi, membuka peluang pendidikan bagi generasi penerus.

Universitas Canterbury (UC) di Christchurch, Selandia Baru, menganugerahkan gelar doktor kehormatan kepada tokoh bisnis dan keuangan Malaysia, Tan Sri Datuk Oh Siew Nam. Penghargaan ini diberikan sebagai pengakuan atas kontribusinya yang luas di bidang bisnis, keuangan, pelayanan publik, dan filantropi, sekaligus menegaskan kembali pentingnya akses pendidikan lintas negara.
Gelar tersebut diserahkan dalam acara wisuda Fakultas Teknik UC, dan diwakili oleh putranya, Andrew Oh. Bagi Oh Siew Nam, penghargaan ini bukan sekadar simbol prestise, melainkan puncak dari perjalanan hidup yang dimulai dari keterbatasan ekonomi. Kisahnya menjadi cermin bagaimana sebuah kesempatan dapat mengubah arah hidup seseorang secara fundamental.
Lahir di era kolonial, Oh Siew Nam memulai pendidikan tingginya di Universitas Malaya, Singapura, dengan harapan mendapatkan tunjangan pemerintah untuk menjadi guru. Namun, perubahan kebijakan pada 1957—tahun kemerdekaan Malaysia—menggagalkan rencananya. Ia harus berjuang membiayai kuliah dan biaya asrama sendiri, bahkan rela berjalan kaki ke kampus demi menghemat uang transportasi dan memotong rambut teman-temannya dengan tarif 90 sen, yang sering dibayar lebih oleh mereka yang iba.
Kesempatan datang pada 1958 ketika ia menerima beasiswa Colombo Plan untuk belajar teknik elektro di UC. Beasiswa ini, menurut pengakuannya, adalah titik balik yang menentukan. Setelah lulus pada 1962, ia menikahi Margaret Lois Oh, seorang perawat asal Christchurch, sebelum kembali ke Malaysia dan membangun karier cemerlang di industri telekomunikasi, bisnis, dan keuangan. Ia pernah menjabat sebagai asisten pengawas di Telekom Malaysia, kemudian memimpin Federal Flour Mills Berhad Group, serta menjadi ketua PPB Group Berhad dan anggota dewan Bank Negara Malaysia dari 1989 hingga 2015.
Di luar karier korporatnya, Oh Siew Nam juga aktif dalam kegiatan filantropi, terutama di bidang pendidikan. Bersama istrinya, ia mendirikan beasiswa untuk mahasiswa Malaysia di UC sebagai bentuk penghormatan kepada ibunya, Tan Tang Mooi. Beasiswa ini diharapkan dapat memberikan kesempatan serupa bagi generasi muda Malaysia untuk meraih pendidikan berkualitas di luar negeri, sebagaimana yang pernah ia rasakan.
Penghargaan ini juga menyoroti peran penting program beasiswa internasional seperti Colombo Plan dalam membangun koneksi antarbangsa. Bagi Indonesia, kisah Oh Siew Nam relevan mengingat banyak mahasiswa Indonesia yang juga menempuh pendidikan di Selandia Baru dan Australia melalui skema serupa. Keberhasilan para penerima beasiswa ini tidak hanya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di negara asal, tetapi juga mempererat hubungan diplomatik dan ekonomi antarnegara.
Menurut pengamat pendidikan internasional, penghargaan semacam ini memberikan pesan kuat tentang nilai jangka panjang dari investasi di bidang pendidikan. “Beasiswa bukan hanya bantuan finansial, tetapi juga katalis perubahan sosial dan ekonomi,” ujar seorang analis yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, perlu terus mendorong mobilitas mahasiswa untuk memperluas wawasan dan jaringan global.
Di tengah meningkatnya biaya pendidikan tinggi dan ketidakpastian ekonomi global, kisah Oh Siew Nam menjadi pengingat bahwa ketekunan dan dukungan yang tepat dapat membuka pintu kesuksesan. Pertanyaannya, akankah pemerintah dan institusi di Indonesia semakin serius dalam menyediakan beasiswa serupa bagi generasi muda? Atau justru sebaliknya, semakin mempersempit akses pendidikan bagi mereka yang kurang mampu? Jawabannya akan menentukan masa depan sumber daya manusia Indonesia di kancah global.



