DFB Hidupkan Kembali Tiket Berdiri untuk Timnas Jerman: Angin Segar bagi Suporter dan Tradisi
Baca dalam 60 detik
- Setelah lebih dari 25 tahun, Jerman kembali menjual tiket berdiri untuk laga kandang timnas putra, dimulai dari Nations League melawan Yunani dan Serbia.
- Kebijakan ini merupakan respons atas tingginya minat suporter dan bertujuan memperkuat atmosfer stadion sekaligus menyediakan opsi tiket yang lebih terjangkau.
- Langkah DFB ini sejalan dengan tren Eropa pasca-2022 dan diharapkan menjadi model bagi negara lain, termasuk Indonesia yang tengah mengembangkan budaya suporter.

Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB) mengumumkan kebijakan yang dinanti-nanti para penggemar: tiket berdiri (standing room) kembali dijual untuk laga kandang tim nasional putra, setelah vakum lebih dari seperempat abad. Keputusan ini mulai berlaku pada pertandingan Nations League melawan Yunani dan Serbia pada September dan Oktober mendatang, menandai babak baru dalam upaya Jerman mendekatkan diri dengan basis suporter paling setia.
Kebijakan ini tidak hanya menyentuh tim putra. DFB menegaskan bahwa tiket berdiri juga akan tersedia untuk laga tim nasional putri dan tim U-21, dua kategori yang sebelumnya sudah pernah menerapkan sistem serupa. Langkah ini dinilai sebagai pengakuan atas peran sentral tribun berdiri dalam budaya sepak bola Jerman, yang selama ini menjadi ciri khas atmosfer stadion-stadion Bundesliga.
Presiden DFB, Bernd Neuendorf, dalam pernyataannya menggarisbawahi bahwa tribun berdiri adalah bagian tak terpisahkan dari pengalaman menonton sepak bola di Jerman. "Dialog kami dengan para penggemar menunjukkan betapa kuatnya keinginan akan area berdiri di pertandingan internasional," ujarnya. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan atmosfer laga sekaligus menyediakan opsi tiket yang lebih ramah kantong, sejalan dengan semangat "sepak bola untuk semua".
Keputusan DFB ini tidak muncul dalam ruang hampa. Selama bertahun-tahun, tribun berdiri dilarang di sebagian besar Eropa karena alasan keamanan. Namun, UEFA mulai melonggarkan aturan pada 2022 dengan mengizinkan sejumlah negara menerapkannya kembali untuk kompetisi tertentu. Jerman sendiri memiliki tradisi panjang dalam hal ini, dengan Borussia Dortmund's South Stand—yang dikenal sebagai "Yellow Wall"—mampu menampung hampir 25.000 penonton berdiri, menjadi salah satu ikon budaya suporter dunia.
Langkah ini juga merupakan bagian dari upaya Jerman memperbaiki hubungan dengan penggemar setelah serangkaian kegagalan di pentas dunia. Pada Piala Dunia 2026, Jerman kembali tersingkir lebih awal—kali ini di babak 32 besar setelah kalah adu penalti dari Paraguay. Ini menjadi kegagalan ketiga berturut-turut di fase gugur awal, memicu kekecewaan mendalam di kalangan suporter. Untuk memulai babak baru, DFB telah menunjuk Juergen Klopp sebagai pelatih kepala, menggantikan Julian Nagelsmann. Kehadiran Klopp, yang dikenal dekat dengan budaya suporter, diharapkan mampu membawa energi baru.
Bagi Indonesia, kebijakan ini menawarkan pelajaran menarik. Meski budaya tribun berdiri belum lazim di liga domestik, antusiasme suporter Indonesia—seperti yang terlihat di tribun-tribun stadion saat laga Timnas—menunjukkan potensi besar untuk mengadopsi pendekatan serupa. Namun, aspek keamanan dan infrastruktur menjadi tantangan utama yang perlu dipelajari dari pengalaman Jerman. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah DFB mampu menjaga keseimbangan antara tradisi, keamanan, dan kenyamanan penonton. Jika berhasil, bukan tidak mungkin negara lain, termasuk Indonesia, akan mengikuti jejak Jerman dalam menghidupkan kembali tribun berdiri sebagai bagian dari identitas sepak bola nasional.



