Pocognoli Kandidat Terkuat Kursi Pelatih Skotlandia: Gaya Menyerang dan Rekam Jejak di Belgia Jadi Pertimbangan Utama
Baca dalam 60 detik
- Asosiasi Sepak Bola Skotlandia memprioritaskan Sebastien Pocognoli, mantan pelatih Monaco, untuk menggantikan Steve Clarke yang mundur pasca Piala Dunia.
- Pocognoli, yang membawa Union Saint-Gilloise juara Belgia setelah 90 tahun, dianggap cocok dengan filosofi menyerang yang diinginkan federasi.
- Keputusan final diperkirakan segera diumumkan, mengingat Skotlandia akan memulai Nations League akhir September ini.

Asosiasi Sepak Bola Skotlandia (SFA) dikabarkan telah menetapkan Sebastien Pocognoli sebagai kandidat utama pengganti Steve Clarke. Pelatih asal Belgia berusia 39 tahun itu dianggap sebagai sosok yang tepat untuk membawa angin segar bagi timnas Skotlandia, yang tengah mencari identitas baru setelah kegagalan di Piala Dunia 2026.
Pocognoli bukan nama asing di kancah sepak bola Eropa. Karier kepelatihannya menanjak pesat setelah sukses membawa Union Saint-Gilloise meraih gelar liga Belgia musim 2024-25—gelar pertama klub dalam 90 tahun terakhir. Prestasi itu membuatnya dilirik Monaco, meski petualangannya di Ligue 1 hanya bertahan satu musim dengan finis di posisi ketujuh. Kini, ia kembali menjadi primadona, dan Skotlandia menjadi tujuan berikutnya.
Keputusan SFA untuk mendekati Pocognoli tidak lepas dari kebutuhan mendesak. Skotlandia akan menghadapi empat pertandingan Nations League mulai 26 September, dengan laga tandang ke Slovenia sebagai pembuka. Federasi, yang dipimpin CEO Ian Maxwell dan kepala sepak bola Craig Mulholland, ingin segera mengunci pelatih baru agar tim memiliki waktu mempersiapkan diri secara optimal.
Jika resmi ditunjuk, Pocognoli akan menjadi pelatih asing kedua dalam sejarah timnas Skotlandia, setelah Berti Vogts asal Jerman. Ia juga memiliki kedekatan dengan sepak bola Inggris—pernah bermain untuk West Bromwich Albion dan Brighton—yang bisa memudahkan adaptasi dengan gaya permainan di Kepulauan Britania. Namun, tantangan terbesarnya adalah membangun skuad yang baru saja kehilangan figur sentral seperti Clarke, yang mengundurkan diri setelah tujuh tahun membesut tim.
Gaya kepelatihan Pocognoli dikenal progresif. Ia memakai formasi 3-4-1-2 yang menekankan penguasaan bola dan pressing ketat. "Saya ingin tim yang dominan, baik dengan maupun tanpa bola. Pressing tinggi, counter-pressing, tapi juga penguasaan yang sesungguhnya," ujarnya pernah. Filosofi ini kontras dengan pendekatan pragmatis Clarke, dan bisa menjadi titik balik bagi Skotlandia yang selama ini dikenal solid bertahan namun kurang tajam di lini depan.
Menariknya, Pocognoli juga memiliki pengalaman membina pemain muda. Sebelum menangani tim senior Union Saint-Gilloise, ia bekerja dengan akademi klub dan tim nasional Belgia. Ini sejalan dengan kebutuhan Skotlandia untuk meregenerasi skuad. Asisten pelatih Steven Naismith, yang sempat mendampingi Clarke, dikabarkan siap bertahan di bawah kepemimpinan baru, sebuah sinyal positif untuk kontinuitas.
Bagi pengamat sepak bola, keputusan ini menarik karena menunjukkan arah baru SFA yang berani mengambil risiko. Pocognoli mungkin belum setenar nama-nama lain, tetapi rekam jejaknya di Belgia membuktikan kemampuannya membangun tim dari nol. Pertanyaannya, apakah ia bisa mengulang sukses serupa di panggung internasional yang jauh lebih kompetitif?
Di Indonesia, kabar ini mungkin terasa jauh, tetapi ada pelajaran yang bisa dipetik. Kesuksesan Pocognoli dengan Union Saint-Gilloise—klub yang berada di bawah naungan grup investasi Jamestown, yang juga memiliki saham di Hearts—menunjukkan pentingnya manajemen modern dan dukungan finansial yang stabil. Ini relevan dengan upaya pengembangan sepak bola Indonesia yang tengah gencar membenahi infrastruktur dan kompetisi.
Langkah SFA berikutnya akan dinantikan. Jika Pocognoli resmi diumumkan dalam beberapa hari ke depan, ia langsung dihadapkan pada ujian berat: membangun kembali kepercayaan diri skuad yang sempat terpuruk. Apakah gaya menyerangnya akan menjadi obat bagi lini depan Skotlandia yang tumpul? Atau justru menjadi bumerang karena pertahanan yang rapuh? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: perubahan sedang terjadi di tubuh timnas Skotlandia.



