Dua Bintang Kabuki Muda Siap Bawa Seni Tradisional Jepang ke London: Bisakah Menembus Pasar Global?
Baca dalam 60 detik
- Aktor Kabuki Ichikawa Somegoro VIII dan Onoe Tatsunosuke III akan menggelar tur internasional perdana di Sadler's Wells Theatre, London, pada Januari 2027.
- Mereka memanfaatkan popularitas Kabuki yang melonjak berkat film 'Kokuho' yang dinominasikan Oscar, untuk menarik penonton baru di luar Jepang.
- Tur ini menjadi ujian apakah seni tradisional Jepang mampu bertahan dan berkembang di panggung global, sekaligus membuka peluang bagi seni serupa dari Asia, termasuk Indonesia.

Dua aktor Kabuki muda Jepang, Ichikawa Somegoro VIII dan Onoe Tatsunosuke III, mengumumkan rencana tur internasional perdana mereka ke Inggris pada Januari 2027. Langkah ini diambil di tengah melonjaknya popularitas Kabuki setelah kesuksesan film "Kokuho" yang dinominasikan dalam ajang Academy Awards. Mereka akan tampil di Sadler's Wells Theatre, London, membawa tiga lakon klasik yang diharapkan mampu memikat penonton yang belum pernah mengenal Kabuki.
Dalam konferensi pers di Foreign Correspondents' Club of Japan, Onoe yang baru berusia 20 tahun menegaskan bahwa momentum ini tidak boleh disia-siakan. "Kami tidak ingin ini hanya menjadi tren sesaat, tetapi harus diwariskan ke generasi berikutnya," ujarnya. Ia akan membawakan tarian "Fuji Musume" (Gadis Wisteria), sementara Somegoro akan tampil dalam "Yuki no Shakkyo" (Jembatan Batu di Salju). Keduanya akan berduet dalam "Meoto Dojoji" (Pasangan di Kuil Dojoji).
Pilihan lakon tersebut bukan tanpa pertimbangan. Somegoro, yang baru berusia 21 tahun dan berasal dari keluarga besar seni peran Jepang, menjelaskan bahwa ketiga karya ini dipilih karena mudah dinikmati tanpa pengetahuan sebelumnya. "Penonton bisa mengapresiasi keindahan dan musiknya secara langsung," katanya. Strategi ini tampaknya dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara seni tradisional yang sering dianggap elitis dengan penonton modern yang lebih akrab dengan konten digital.
Fenomena "Kokuho" memang menjadi katalis utama. Film yang dirilis pada 2025 ini mengangkat kehidupan di balik panggung Kabuki dan berhasil menembus pasar internasional, meski gagal membawa pulang piala Oscar untuk kategori tata rias dan gaya rambut. Onoe mengakui bahwa kesuksesan film, ditambah dengan maraknya pertunjukan baru dan siaran daring, telah mendorong kebangkitan Kabuki baik di dalam maupun luar negeri.
Somegoro, yang juga dikenal sebagai promotor Kabuki di dunia maya, menekankan pentingnya pengalaman langsung. "Media sosial hanyalah pintu gerbang. Kabuki harus ditonton secara langsung," tegasnya. Pernyataan ini menggarisbawahi tantangan besar: bagaimana mempertahankan esensi seni pertunjukan di tengah gempuran digitalisasi. Tur London ini menjadi ujian nyata apakah strategi promosi modern mampu mengubah minat daring menjadi kehadiran fisik di teater.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran berharga. Seni pertunjukan tradisional seperti wayang orang, sendratari, atau teater modern kerap menghadapi masalah serupa: bagaimana menarik generasi muda tanpa kehilangan akar budaya. Keberhasilan Kabuki memanfaatkan film, media sosial, dan kolaborasi internasional bisa menjadi model bagi pengelola seni di tanah air. Namun, perlu diingat bahwa pasar seni global sangat kompetitif, dan dukungan pemerintah serta swasta menjadi kunci.
Tur ini juga berpotensi membuka pintu bagi pertukaran budaya yang lebih luas. Jika Kabuki mampu mengisi teater London, bukan tidak mungkin seni pertunjukan Asia lainnya, termasuk dari Indonesia, akan menyusul. Pertanyaannya, apakah para pelaku seni dan pemangku kebijakan di Indonesia siap menangkap peluang ini? Atau justru akan membiarkan momentum serupa berlalu begitu saja?



