Kebakaran Nevada: 42.000 Warga Mengungsi, Sekolah Ditutup
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 42.000 penduduk sekitar Reno, Nevada, terpaksa meninggalkan rumah akibat kebakaran semak yang dipicu angin kencang.
- Gubernur Nevada telah menetapkan status darurat di Washoe County, sementara lebih dari 700 petugas pemadam dikerahkan untuk menjinakkan api.
- Peristiwa ini menyoroti meningkatnya risiko kebakaran hutan di AS yang dapat berdampak pada ketahanan pangan dan ekonomi global, termasuk Indonesia.

Lebih dari 42.000 warga di sekitar kota Reno, Nevada, Amerika Serikat, terpaksa mengungsi pada Senin (24/8) setelah kebakaran semak yang bergerak cepat melalap area seluas lebih dari 15.000 hektare. Angin kencang dan kondisi kering membuat api menyebar dengan cepat, memaksa pihak berwenang menutup sekolah dan meminta puluhan ribu lainnya untuk bersiap meninggalkan rumah.
Kebakaran yang dijuluki Hawk Fire ini mulai terdeteksi pada Sabtu (22/8) dan dalam dua hari telah membesar secara signifikan. Menurut InciWeb, situs pemantau kebakaran pemerintah AS, api menunjukkan perilaku ekstrem dan berada sekitar delapan kilometer di barat laut pusat kota Reno. Wali Kota Reno, Hillary Schieve, mengungkapkan bahwa selain 42.000 orang yang telah dievakuasi, sekitar 45.000 lainnya telah diperingatkan untuk siap mengungsi sewaktu-waktu.
Hingga saat ini, belum ada laporan korban jiwa, namun setidaknya enam orang mengalami luka-luka, termasuk tiga petugas pemadam kebakaran. Beberapa rumah di kawasan pegunungan dilaporkan hangus terbakar. Otoritas setempat menyebutkan bahwa kebakaran ini dipicu oleh aktivitas manusia, meski penyebab pastinya masih diselidiki. Lebih dari 700 petugas pemadam dikerahkan dengan bantuan helikopter, buldoser, dan mobil pemadam untuk menjinakkan si jago merah yang terus merambat di semak-semak kering.
Gubernur Nevada, Joe Lombardo, telah mengeluarkan deklarasi keadaan darurat untuk Washoe County. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa Hawk Fire menyebar cepat dan mengancam rumah serta infrastruktur. Kepala Pemadam Kebakaran setempat, Richard Edwards, mengingatkan warganya untuk tidak menunda evakuasi. "Api yang didorong angin bergerak sangat cepat ke area pemukiman. Jika Anda sudah diperintahkan mengungsi, jangan menunggu!" ujarnya.
Dalam 48 jam ke depan, kondisi cuaca yang panas, kering, dan berangin diperkirakan masih mendukung meluasnya api. Petugas pemadam memperingatkan bahwa kobaran api berpotensi menyebar ke arah timur laut dan barat laut. Foto-foto yang diunggah di media sosial memperlihatkan kepulan asap tebal dan lidah api yang menjulang di atas pegunungan yang mengelilingi kota.
"Hawk Fire adalah insiden yang sangat dinamis karena digerakkan oleh angin. Kebakaran yang didorong angin bergerak sangat cepat ke area pemukiman kami," kata Kepala Pemadam Kebakaran Richard Edwards.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan meningkatnya frekuensi dan intensitas kebakaran hutan di Amerika Serikat bagian barat, yang sebagian besar dipicu oleh perubahan iklim dan kekeringan berkepanjangan. Bagi Indonesia, fenomena ini relevan karena dapat memengaruhi pasar komoditas global, terutama produk pertanian dan kayu, serta memperkuat urgensi kerja sama internasional dalam penanganan perubahan iklim. Selain itu, pengalaman Nevada dalam manajemen evakuasi dan penanggulangan kebakaran bisa menjadi pelajaran berharga bagi daerah rawan kebakaran di Indonesia, seperti Kalimantan dan Sumatra.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana pemerintah AS dan negara bagian Nevada akan memperkuat sistem peringatan dini dan kapasitas pemadaman untuk menghadapi musim kebakaran yang semakin ekstrem. Sementara itu, warga Reno masih menunggu kepastian kapan mereka dapat kembali ke rumah masing-masing, dengan harapan angin segera mereda dan upaya pemadaman membuahkan hasil.



