Perburuan Anak Burung Gannet di Skotlandia Dihentikan: Tradisi 500 Tahun Kalah oleh Sains
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Skotlandia membatalkan izin perburuan gannet muda di Sula Sgeir tahun ini, menyusul kekhawatiran atas populasi yang belum pulih dari wabah flu burung.
- Keputusan ini memicu dilema antara pelestarian alam dan warisan budaya komunitas Ness, yang telah melakukan tradisi ini sejak abad ke-16.
- Kelompok pemburu dapat mengajukan izin baru pada 2027, namun masa depan praktik ini masih belum pasti di tengah tekanan konservasi.

Untuk pertama kalinya dalam hampir lima abad, tradisi perburuan anak burung gannet di sebuah pulau terpencil Skotlandia resmi dibekukan. NatureScot, badan warisan alam Skotlandia, menolak permohonan lisensi dari kelompok pemburu 'Men of Ness' yang ingin menangkap hingga 2.000 ekor gannet muda di Pulau Sula Sgeir tahun ini. Keputusan ini diambil setelah kajian ilmiah terbaru menunjukkan bahwa populasi burung laut tersebut masih rentan, terutama setelah wabah flu burung yang mematikan pada 2021โ2023.
Perburuan yang dikenal sebagai Guga Hunt ini bukan sekadar kegiatan berburu biasa. Setiap tahun, para pria dari Isle of Lewis menempuh perjalanan laut sejauh 64 kilometer melintasi perairan ganas menuju Sula Sgeir, pulau tak berpenghuni di lepas pantai barat laut Skotlandia. Di sana, mereka menangkap anak gannet dari tebing menggunakan galah khusus, kemudian membunuhnya dan mengawetkannya dengan garam sebelum kembali ke kampung halaman. Daging anak burung ini, yang disebut 'guga', menjadi hidangan tradisional yang direbus lama dan disajikan dengan kentang.
Keputusan NatureScot didasarkan pada data ilmiah terkini yang menunjukkan bahwa populasi gannet di Sula Sgeir belum pulih sepenuhnya. "Berdasarkan sains paling mutakhir, kami menyimpulkan bahwa dampak buruk mungkin terjadi pada populasi gannet Sula Sgeir pada 2026," demikian pernyataan resmi NatureScot. Badan tersebut juga mengakui adanya penolakan signifikan dari para aktivis hak-hak hewan yang selama ini mengampanyekan penghentian praktik ini. Namun, bagi warga lokal seperti John Malcolm (46), larangan ini terasa berat. "Larangan ini memang tidak bisa dihindari, tetapi ini sungguh disayangkan. Perburuan ini sudah berlangsung 400 tahun dan merupakan praktik yang berkelanjutan," ujarnya.
Secara historis, perburuan burung liar merupakan sumber makanan penting bagi komunitas miskin yang hidup di lingkungan terpencil dan keras. Selain gannet, burung-burung yang bersarang di tebing juga dimanfaatkan untuk diambil telur dan lemaknya. Namun, seiring meningkatnya kesadaran akan konservasi dan perubahan iklim, tradisi semacam ini semakin mendapat sorotan. Di Indonesia, dilema serupa juga terjadi, misalnya dalam perburuan burung walet atau pemanfaatan satwa liar lainnya yang kerap berbenturan dengan upaya pelestarian.
Keputusan Skotlandia ini menjadi preseden penting bagi negara-negara lain yang masih mempraktikkan perburuan tradisional. Di satu sisi, ada warisan budaya yang harus dijaga; di sisi lain, kelangsungan hidup spesies menjadi prioritas. NatureScot menegaskan bahwa para pemburu dapat mengajukan lisensi baru pada 2027, memberikan harapan bagi kelestarian tradisi ini. Namun, dengan kondisi populasi yang belum stabil, apakah tradisi ini akan bertahan menghadapi arus zaman? Atau justru menjadi pelajaran bahwa sains dan tradisi harus berjalan beriringan demi keberlanjutan ekosistem?



