Rumah Sakit Palsu Mediacorp: Set Serbaguna yang Menghidupkan Adegan Medis di Layar Kaca
Baca dalam 60 detik
- Mediacorp memiliki set rumah sakit permanen dengan peralatan medis fungsional yang dapat disulap menjadi berbagai era, dari kelas B hingga kelas A.
- Set ini menjadi andalan produksi drama karena sulitnya meminta izin syuting di rumah sakit sungguhan, sekaligus menghemat biaya produksi.
- Drama terbaru 'Brighter Days' memanfaatkan set ini untuk berpindah antara tahun 1996 dan 2026, menunjukkan fleksibilitas desain yang tinggi.

Di balik layar industri pertelevisian Singapura, Mediacorp menyimpan satu aset produksi yang kerap luput dari perhatian: sebuah set rumah sakit permanen yang dirancang menyerupai fasilitas medis asli. Dengan tempat tidur pasien berfungsi, monitor detak jantung menyala, hingga ruang operasi yang siap pakai, set ini menjadi tulang punggung bagi puluhan drama yang menampilkan adegan rumah sakit. Keberadaannya bukan sekadar properti biasa, melainkan jawaban atas tantangan logistik yang selama ini membelit produksi drama—izin syuting di rumah sakit sungguhan yang rumit dan biaya sewa yang tinggi.
Set yang terletak di kawasan studio Mediacorp ini dirancang oleh tim artistik yang dipimpin oleh Chen Jia Gu, seorang senior art director. Menurut Chen, set ini terus berevolusi mengikuti kebutuhan produksi. "Karena sangat sulit syuting di rumah sakit yang sibuk, set kami sering dipesan oleh banyak produksi sekaligus, termasuk proyek eksternal. Karena itu, set ini dirancang sangat fleksibel—ruang yang sama bisa diubah dari bangsal kelas B (empat tempat tidur) menjadi kelas A dengan tambahan wastafel dan kamar mandi, tergantung cerita dan kebutuhan syuting," jelasnya. Fleksibilitas ini menjadi kunci efisiensi, mengingat satu set bisa digunakan untuk berbagai judul drama tanpa perlu membangun ulang dari nol.
Yang menarik, peralatan yang digunakan tidak sekadar pajangan. Tempat tidur, brankar, dan monitor detak jantung yang ada di set tersebut merupakan peralatan medis asli yang berfungsi. "Kami mencoba menggunakan peralatan autentik sebisa mungkin untuk membantu aktor masuk ke dalam karakter. Tempat tidur dan monitor detak jantung bukan hanya pajangan—mereka benar-benar berfungsi, dan kami juga menyediakan properti pendukung seperti perban dan masker oksigen untuk melengkapi tampilan," ungkap Chen. Monitor detak jantung bahkan disebut sebagai peralatan termahal di set, menjadi "pemain kunci" yang menghasilkan bunyi detak khas yang membangun atmosfer rumah sakit.
Proses pembangunan set ini sendiri tidak main-main. Sebelum konstruksi, tim memproduksi denah lantai, gambar konstruksi, dan model 3D untuk membantu semua departemen—dari produser, sutradara, hingga kru pencahayaan dan kamera—memvisualisasikan ruang. "Kami menciptakan ruang kerja yang harus terasa autentik bagi aktor namun tetap praktis bagi kru. Misalnya, kami memberi ruang bagi 'anggota keluarga yang khawatir' untuk berkumpul di luar bangsal, sementara kru bekerja dengan aman di sekitar kabel, kamera, tripod, dan peralatan lainnya," jelas Chen. Perencanaan yang matang ini memastikan kelancaran produksi tanpa mengorbankan realisme.
Salah satu keunikan set ini adalah ketiadaan plafon. Demi alasan keselamatan, langit-langit tidak dipasang, sehingga dinding dan ruangan terbuka hingga ke rangka atap studio. Konsekuensinya, tim produksi harus sangat berhati-hati dalam mengatur sudut kamera agar tidak terekam struktur studio. "Karena tidak ada plafon untuk menahan bagian atas dinding, kami juga harus kreatif dalam rekayasa. Kami menggunakan rangka besi berat untuk memperbaiki posisi kerangka. Ini memastikan dinding tetap kokoh dan tidak 'goyah' jika aktor bersandar atau menutup pintu dengan keras," kata Chen. Solusi teknis ini menunjukkan bagaimana keterbatasan justru memicu inovasi.
Drama terbaru yang memanfaatkan set ini adalah "Brighter Days", yang dibintangi Felicia Chin, Romeo Tan, Jeffrey Xu, James Seah, dan Meixin. Ceritanya yang melompat antara tahun 1996 dan 2026 menuntut perubahan suasana yang cepat. "Kami harus sangat kreatif. Misalnya, kami menggunakan kepala tempat tidur kayu untuk menangkap nuansa nostalgia 90-an dan stiker vinyl untuk mengubah warna ruangan dengan cepat antar era," ungkap Chen. Penambahan jendela di koridor juga memungkinkan kamera mengintip ke dalam bangsal, menambah kedalaman visual. Keaslian set ini bahkan membuat aktris Meixin tertidur pulas saat berperan sebagai pasien koma di tengah rekan-rekannya yang beradegan emosional. "Banyak yang iri. Mereka bekerja keras—menangis, bertengkar, berteriak. Saya di sini untuk tidur," candanya.
Bagi industri kreatif Indonesia, praktik Mediacorp ini menawarkan pelajaran berharga. Alih-alih bergantung pada lokasi syuting yang mahal dan birokratis, rumah produksi dapat berinvestasi pada set serbaguna yang tidak hanya menghemat biaya jangka panjang, tetapi juga memberikan kontrol penuh atas estetika dan keselamatan. Dengan tren drama Indonesia yang semakin kompetitif, efisiensi produksi menjadi kunci. Pertanyaannya, akankah rumah produksi Tanah Air mulai mengadopsi model serupa? Atau justru memilih jalan lain, seperti memanfaatkan teknologi virtual production yang semakin terjangkau? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: kebutuhan akan adegan rumah sakit yang realistis tidak akan pernah surut.



