Prancis dan Arab Saudi Bangun Tiga Taman Hiburan Bernuansa Manga di Dekat Paris
Baca dalam 60 detik
- Investasi senilai €6 miliar dari Arab Saudi akan menghadirkan tiga taman hiburan di pinggiran Paris, termasuk yang terinspirasi Dragon Ball Z.
- Proyek ini menjadi simbol penguatan hubungan bilateral Prancis-Arab Saudi di tengah upaya diversifikasi ekonomi Saudi.
- Pembangunan bertahap diprediksi memakan waktu bertahun-tahun, dengan potensi dampak besar pada industri pariwisata dan hiburan Eropa.

Prancis dan Arab Saudi menandatangani kesepakatan senilai €6 miliar (sekitar Rp105 triliun) untuk membangun tiga taman hiburan di dekat Paris, salah satunya bertema manga yang terinspirasi dari serial populer Dragon Ball Z. Proyek ambisius ini diumumkan saat kunjungan kenegaraan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, ke Prancis, dan langsung disambut Presiden Emmanuel Macron sebagai langkah besar yang belum terlihat sejak era Disneyland Paris.
Lokasi pembangunan berada di Cergy-Pontoise, kawasan barat laut ibu kota Prancis. Meski tanggal pembukaan resmi belum diumumkan, proyek ini akan dibangun secara bertahap dan diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun. Menurut laporan lokal, taman-taman tersebut kemungkinan akan menempati lahan bekas taman hiburan Mirapolis yang tutup 35 tahun lalu, memberikan kehidupan baru pada kawasan yang sempat mati.
Proyek ini digagas oleh Qiddiya Investment Company (QIC), bagian dari dana kekayaan negara Arab Saudi. Sebelumnya, QIC telah mengumumkan rencana membangun taman Dragon Ball di dekat Riyadh pada 2024. Kini, ekspansi ke Prancis menandai langkah besar dalam strategi Saudi untuk mendiversifikasi ekonominya yang selama ini bergantung pada minyak, dengan berinvestasi di sektor hiburan dan pariwisata global.
Kesepakatan ini juga menjadi simbol eratnya hubungan bilateral kedua negara. Selain taman hiburan, para pemimpin dijadwalkan menandatangani sejumlah perjanjian di bidang kesehatan, transportasi, dan energi selama kunjungan dua hari tersebut. Kunjungan ini juga menjadi ajang diskusi tentang konflik AS-Iran, menunjukkan bahwa kerja sama ekonomi dan geopolitik berjalan beriringan.
Bagi Indonesia, proyek ini memiliki relevansi ganda. Pertama, ini menunjukkan tren investasi Timur Tengah yang semakin agresif di industri hiburan global, yang bisa menjadi pelajaran bagi pengembangan sektor pariwisata dalam negeri. Kedua, popularitas Dragon Ball Z yang sangat besar di Indonesia—dari generasi 90-an hingga kini—menegaskan potensi pasar manga dan anime yang masih terbuka lebar. Jika taman hiburan ini berhasil, bukan tidak mungkin konsep serupa akan dipertimbangkan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mengingat basis penggemar yang kuat.
Macron, yang dikenal sebagai penggemar manga, bahkan sempat mengakhiri konferensi pers dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dengan melakukan gestur tangan khas Dragon Ball. Kegemaran pribadi ini tampaknya menjadi salah satu pendorong di balik proyek ini, selain pertimbangan ekonomi dan geopolitik. Para penasihat presiden mengungkapkan bahwa ide ini berawal dari diskusi santai antara Macron dan bin Salman tentang kecintaan mereka pada komik Jepang, khususnya Dragon Ball Z.
Kunjungan bin Salman juga dimanfaatkan untuk menghadiri penutupan Esports World Cup yang dipindahkan dari Riyadh ke Paris karena masalah keamanan di Timur Tengah. Langkah ini menunjukkan kepercayaan Saudi terhadap Prancis sebagai tuan rumah acara internasional, sekaligus memperkuat citra Prancis sebagai pusat hiburan dan teknologi Eropa.
Dengan pembangunan yang akan memakan waktu bertahun-tahun, proyek ini diprediksi akan menjadi magnet wisatawan baru di Eropa. Namun, pertanyaan yang muncul adalah: apakah taman hiburan bertema manga ini akan mampu bersaing dengan raksasa seperti Disneyland Paris yang sudah mapan? Atau justru akan menciptakan segmen pasar baru yang belum tergarap? Yang jelas, langkah ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas negara dan budaya bisa melahirkan proyek-proyek yang tidak terduga, dan Indonesia perlu memperhatikan tren ini untuk tidak tertinggal dalam industri hiburan global.



