Scalable Capital Buka Akses ChatGPT dan Claude untuk Transaksi Saham: Langkah Pertama Bank Eropa
Baca dalam 60 detik
- Broker Jerman Scalable Capital memungkinkan nasabah menggunakan ChatGPT dan Claude untuk analisis portofolio dan eksekusi trading, sebuah terobosan di industri perbankan Eropa.
- Layanan ini merupakan langkah awal menuju integrasi AI yang lebih dalam, dengan CEO Scalable meyakini potensi peningkatan return investasi meski masih perlu pembuktian.
- Langkah ini berpotensi mengubah cara investor ritel di Eropa dan Indonesia berinteraksi dengan platform investasi, mendorong adopsi AI di sektor keuangan.

Broker Jerman, Scalable Capital, mengambil langkah berani dengan membuka akses bagi nasabahnya untuk menggunakan platform kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT dan Claude dalam melakukan transaksi serta menganalisis portofolio. Langkah ini diumumkan pada Selasa (25/8) dan disebut sebagai yang pertama di Eropa, menandai babak baru dalam integrasi AI di industri keuangan.
Layanan baru ini hadir sebagai kanal tambahan di samping aplikasi dan situs web yang selama ini digunakan untuk mengakses akun. Scalable Capital menegaskan bahwa fitur ini dilengkapi berbagai lapisan keamanan untuk melindungi data dan transaksi nasabah. Dengan demikian, nasabah kini memiliki fleksibilitas lebih dalam mengelola investasi mereka, baik melalui antarmuka konvensional maupun melalui percakapan dengan AI.
Erik Podzuweit, pendiri sekaligus Co-CEO Scalable Capital, menyebut layanan ini sebagai "langkah pertama" menuju adopsi AI secara massal di kalangan nasabahnya. Ia mengakui bahwa masih banyak orang yang ragu untuk mempercayakan portofolio mereka kepada AI. "Banyak orang mungkin masih ragu untuk membiarkan ChatGPT melihat atau mengelola portofolio mereka. Jadi, ini adalah langkah awal," ujarnya kepada Reuters. Podzuweit juga mengemukakan hipotesis bahwa penggunaan AI rata-rata dapat menghasilkan return yang lebih baik, meski ia menekankan bahwa hal ini masih perlu dibuktikan.
Langkah Scalable Capital ini tidak bisa dilepaskan dari persaingan ketat di lanskap perbankan Jerman yang sudah padat. Kehadiran perusahaan fintech seperti Scalable telah meningkatkan kompetisi, menawarkan jalur investasi yang lebih mudah dan murah bagi investor ritel dibandingkan bank tradisional. Dengan mengintegrasikan AI, Scalable berusaha memperkuat posisinya sebagai inovator dan menarik lebih banyak nasabah yang melek teknologi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting. Adopsi AI dalam platform investasi dapat menjadi tren yang diikuti oleh perusahaan sekuritas dan platform investasi di dalam negeri. Dengan penetrasi internet yang tinggi dan minat generasi muda terhadap investasi, integrasi AI berpotensi meningkatkan literasi keuangan dan efisiensi pengambilan keputusan. Namun, hal ini juga menuntut kesiapan regulasi dan keamanan siber yang mumpuni untuk melindungi investor.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat adopsi AI akan diikuti oleh platform lain di Eropa dan Asia. Apakah langkah Scalable akan menjadi katalis bagi perubahan regulasi di sektor keuangan? Atau justru memicu kekhawatiran baru tentang keamanan dan etika penggunaan AI dalam pengelolaan dana nasabah? Yang jelas, langkah ini membuka pintu bagi era baru di mana AI bukan hanya alat bantu, tetapi mitra dalam pengambilan keputusan finansial.



