Rafe Spall: Kesuksesan Berjenjang Kini Tergerus Budaya Streaming dan Self-Tape
Baca dalam 60 detik
- Aktor 43 tahun itu menilai kariernya yang bertahap tak akan terulang di era streaming yang menawarkan ketenaran instan.
- Ia menyoroti pergeseran dari teater subsidi ke platform digital, serta praktik self-tape yang menghilangkan interaksi langsung.
- Spall tetap mensyukuri perjalanan kariernya dan menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan pekerjaan di industri yang kompetitif.

Rafe Spall, aktor berusia 43 tahun yang dikenal lewat film Jurassic World: Fallen Kingdom dan serial Trying, mengakui bahwa dirinya mungkin tak akan meraih kesuksesan yang sama jika memulai karier di era sekarang. Menurutnya, menjamurnya layanan streaming telah mengubah peta industri hiburan secara fundamental, menawarkan jalan pintas menuju popularitas global yang tak pernah ia alami.
Dalam wawancara dengan The Sunday Times, Spall mengenang masa-masa awal kariernya di akhir 1990-an dan awal 2000-an, ketika para aktor muda berlomba-lomba menembus teater-teater bergengsi seperti Almeida dan Royal Court di London. Rekan seangkatannya seperti Ruth Wilson, Andrea Riseborough, Benedict Cumberbatch, dan Eddie Redmayne menjadikan panggung teater sebagai batu loncatan utama. "Saat itu, semua orang ingin tampil di teater subsidi," ujarnya. Namun kini, seorang aktor bisa melesat menjadi bintang internasional hanya dalam semalam berkat satu peran di serial Netflix.
Fenomena ini, menurut Spall, menghilangkan proses "pematangan" yang justru ia nikmati. Ia menyebut budaya self-tape โ di mana aktor mengirim rekaman audisi tanpa bertemu langsung dengan sutradara โ sebagai salah satu perubahan paling signifikan. "Kamu tidak bisa duduk bercakap-cakap dan merasakan bagaimana arahnya," keluhnya. Padahal, interaksi semacam itu kerap menjadi ajang belajar yang berharga bagi aktor pemula.
Meski demikian, Spall menegaskan kebanggaannya atas perjalanan karier yang berjenjang. "Hal tersulit adalah mempertahankan pekerjaan. Saya sangat bersyukur," katanya. Ia menambahkan, "Hashtag blessed. Tapi saya tidak menginginkan lebih." Sikap ini mencerminkan kedewasaan seorang pekerja seni yang lebih mementingkan keberlanjutan daripada popularitas sesaat.
Di luar sorotan industri, Spall juga berbagi refleksi tentang perannya sebagai ayah. Ayah dari empat anak โ tiga dari pernikahan sebelumnya dengan Elize du Toit dan satu dari pasangannya saat ini, Esther Smith โ ini mengaku bahwa menjadi orang tua adalah pekerjaan yang penuh trial and error. "Kamu salah setiap hari, tapi yang bisa dilakukan adalah terus mencoba. Mengakui kesalahan itu penting," tuturnya. Ia menambahkan bahwa memiliki anak dengan rentang usia yang lebar memberinya perspektif: "Kamu tahu semua fase akan berlalu, dan justru di momen-momen sulit seperti begadang atau mengganti popok itulah cinta sejati berada."
Menariknya, meski ayahnya, Timothy Spall, adalah aktor kawakan yang membintangi Harry Potter, Rafe mengaku tidak pernah meminta nasihat teknis berakting. "Kami sering mengobrol tentang industri, dan jika ada dua tawaran pekerjaan, saya minta pendapatnya. Tapi saya tidak pernah bertanya cara melakukan aksen Midlands," candanya. Ini menunjukkan bahwa meski lahir dari keluarga seniman, ia tetap membangun identitas profesionalnya sendiri.
Bagi industri hiburan Indonesia, pernyataan Spall menjadi cermin yang relevan. Maraknya platform streaming seperti Netflix, Disney+, dan layanan lokal seperti Vidio telah mengubah cara aktor Tanah Air dipasarkan. Banyak bintang baru yang langsung melejit berkat serial web, tanpa melalui proses panjang di teater atau sinetron. Fenomena ini memunculkan pertanyaan: apakah kita kehilangan kedalaman akting yang biasanya diasah melalui panggung? Atau justru ini adalah evolusi alami yang harus disambut?
Spall sendiri tampak pasrah pada perubahan zaman, namun tetap memegang teguh nilai-nilai yang ia yakini. "Saya sangat bersyukur masih bekerja sampai sekarang," ujarnya. Di tengah gempuran konten instan, ia memilih untuk tetap relevan tanpa kehilangan esensi. Pertanyaannya, akankah generasi aktor baru mampu bertahan sepertinya? Atau justru mereka akan menemukan cara sendiri untuk memaknai kesuksesan?



