Infantino Bantah Tudingan, Tegaskan FIFA Wajib Ratakan Kesenjangan Finansial Antar Negara
Baca dalam 60 detik
- Presiden FIFA Gianni Infantino menegaskan tugas utamanya adalah mempersempit jurang finansial antara federasi kaya dan miskin, menyusul gagalnya rencana investasi swasta senilai miliaran dolar.
- Tekanan terhadap Infantino meningkat menjelang pemilihan ulang tahun depan, dengan UEFA, AFC, dan CONCACAF dikabarkan mempertimbangkan mosi tidak percaya.
- Infantino mengumumkan Piala Dunia U-15 pertama yang melibatkan 211 negara sebagai bukti komitmennya pada pengembangan sepak bola global, di tengah kritik terhadap kepemimpinannya.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali membela diri di tengah badai kritik yang menerpa kepemimpinannya. Dalam wawancara video yang dirilis FIFA, ia menegaskan bahwa tugas utama organisasi yang dipimpinnya adalah menjembatani kesenjangan finansial yang dalam antara federasi-federasi kaya dan negara-negara berkembang. Pernyataan ini muncul setelah rencana ambisiusnya untuk menjual sebagian hak komersial turnamen kepada investor swasta gagal total, memicu gelombang ketidakpercayaan dari berbagai konfederasi sepak bola dunia.
Infantino, yang menghadapi pemilihan ulang tahun depan, mengakui bahwa ada pihak-pihak yang justru tidak menginginkan pertumbuhan sepak bola di negara lain. "Kami ingin mengembangkan sepak bola di 211 negara anggota," ujarnya dalam pertemuan dengan Uni Sepak Bola Karibia (CFU) di Republik Dominika. Ia menambahkan, "Beberapa pihak, sayangnya, tidak membutuhkan dan tidak ingin yang lain tumbuh, tetapi kami harus mempersempit kesenjangan ini antara negara-negara besar dan semua yang lainnya."
Komentar ini merupakan respons langsung terhadap kegagalan rencana untuk mengumpulkan dana sebesar 4,2 miliar dolar AS dengan menjual 20 persen hak komersial Piala Dunia dan turnamen lainnya. Rencana tersebut, yang sempat ditawarkan hingga 40 juta dolar AS kepada setiap federasi anggota, runtuh setelah mendapat tentangan keras dari berbagai pihak. Kegagalan ini semakin memperunyam posisi Infantino, yang kini menghadapi ancaman mosi tidak percaya dari konfederasi-konfederasi besar seperti UEFA (Eropa), AFC (Asia), dan CONCACAF (Amerika Utara, Tengah, dan Karibia).
Menariknya, Infantino justru memilih untuk menghadiri turnamen U-14 Challenge Series milik CFU di Republik Dominika, meskipun presiden CONCACAF, Victor Montagliani, secara eksplisit memintanya untuk tidak hadir. Montagliani khawatir kehadiran Infantino akan mengalihkan perhatian dari turnamen tersebut di tengah meningkatnya oposisi terhadap kepemimpinannya. Namun, Infantino mengaku puas dengan sambutan yang diterimanya dan menegaskan pentingnya dialog. "Banyak hal terjadi dalam beberapa minggu terakhir, dan penting untuk mendengarkan serta mengekspresikan perasaan," katanya.
Bagi Indonesia, dinamika internal FIFA ini memiliki implikasi yang signifikan. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar, Indonesia termasuk dalam kategori federasi yang akan diuntungkan jika FIFA benar-benar berkomitmen meratakan distribusi dana pembangunan. Program-program seperti FIFA Forward, yang telah mendanai berbagai proyek infrastruktur sepak bola di Indonesia, menjadi bukti nyata bahwa aliran dana dari FIFA sangat berarti bagi pengembangan sepak bola nasional. Namun, ketidakstabilan politik di tubuh FIFA dapat mengancam kelancaran program-program tersebut di masa depan.
Infantino juga mengumumkan rencana penyelenggaraan Piala Dunia U-15 untuk pertama kalinya, yang akan mengundang seluruh 211 negara anggota FIFA. Ajang ini diharapkan menjadi festival sepak bola remaja dengan lebih dari 4.000 anak berpartisipasi. Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan sepak bola akar rumput, sekaligus meredam kritik yang menyebutnya terlalu fokus pada kepentingan komersial. "Kami perlu sumber daya, sponsor, dan penyiar untuk menginvestasikan kembali 100 persen dari apa yang kami hasilkan ke dalam permainan," tegasnya.
Di tengah manuver politik yang semakin memanas, pertanyaan besarnya adalah apakah Infantino mampu bertahan menghadapi tekanan ini. Dengan konfederasi-konfederasi besar yang dikabarkan tengah menyusun strategi untuk menjatuhkannya, masa depan kepemimpinan FIFA menjadi tidak menentu. Apakah Infantino akan berhasil meyakinkan para pemangku kepentingan bahwa visinya untuk sepak bola global yang merata adalah yang terbaik, atau justru langkahnya selama ini hanya akan dikenang sebagai babak kelam dalam sejarah organisasi?



