Gianni Infantino Diminta Tak Hadir di Turnamen Remaja: Krisis Tata Kelola FIFA Makin Panas
Baca dalam 60 detik
- Presiden FIFA Gianni Infantino menerima surat resmi dari Presiden Concacaf, Victor Montagliani, yang memintanya membatalkan kehadiran di CFU U-14 Series di Republik Dominika akhir pekan ini.
- Langkah ini menjadi sinyal terbaru dari konfederasi sepak bola yang menolak rencana kontroversial FIFA Forward Enterprise (FFE), yang sempat mengancam posisi Infantino.
- Dukungan terhadap Infantino terbelah: sejumlah asosiasi di Eropa, Amerika Utara, dan Asia menarik dukungan, sementara Conmebol dan CAF masih setia mendampinginya.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali diterpa gelombang ketidakpercayaan di kancah sepak bola global. Kali ini, permintaan agar ia tidak hadir dalam turnamen remaja CFU U-14 Series di Republik Dominika akhir pekan ini datang dari Presiden Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf), Victor Montagliani. Dalam surat yang dilihat BBC, Montagliani secara eksplisit menyebut adanya "krisis tata kelola yang melingkupi FIFA" dan meminta Infantino mempertimbangkan ulang kehadirannya demi menjaga fokus acara pada aspek teknis pembinaan pemain muda.
Permintaan ini bukan sekadar formalitas. Montagliani, yang juga menjabat wakil presiden FIFA, menilai kehadiran Infantino justru akan mengalihkan perhatian media dari esensi kompetisi. "Media akan fokus pada situasi ini, yang sayangnya akan mengurangi makna teknis kompetisi remaja CFU," tulisnya. Ia bahkan meminta Infantino bertindak "atas nama sepak bola" untuk membatalkan rencana kunjungannya. Langkah ini menjadi pukulan simbolis bagi Infantino, yang sebelumnya diundang sebagai tamu kehormatan oleh pemerintah Republik Dominika—undangan yang diduga diajukan sebelum rencana kontroversial FIFA Forward Enterprise (FFE) mencuat dan mengguncang posisinya.
Ketegangan ini berakar dari usulan FFE yang sempat digagas Infantino untuk menjual sebagian kepemilikan Piala Dunia dan kompetisi lain kepada investor swasta. Meski rencana itu akhirnya dibatalkan, dampaknya masih terasa. Tiga konfederasi besar—UEFA, Concacaf, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC)—menandatangani surat terbuka yang menuduh Infantino melanggar kepercayaan "melalui penipuan." Mereka juga mengkritik pemecatan eksekutif senior FIFA, Kevin Lamour, yang dianggap sebagai bentuk pembungkaman kritik. Langkah-langkah ini memperlihatkan retaknya solidaritas di tubuh FIFA, organisasi yang seharusnya menjadi rumah bersama bagi semua konfederasi.
Di sisi lain, Infantino masih memiliki kantong dukungan yang tidak bisa diabaikan. Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (Conmebol) dan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) secara terbuka menyatakan tetap mendukungnya untuk melanjutkan kepemimpinan hingga periode keempat. Di Republik Dominika sendiri, sambutan hangat tetap diberikan. Menteri Olahraga dan Rekreasi negara itu, Kelvin Cruz, menyatakan bahwa kunjungan Infantino menempatkan Republik Dominika "di radar sepak bola internasional" dan membuka peluang besar bagi perkembangan sepak bola lokal. Ini menunjukkan bahwa di tengah kritik, Infantino masih dianggap sebagai figur yang mampu mendongkrak pamor negara berkembang.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi negara kita sebagai salah satu pasar sepak bola terbesar di Asia. Ketika terjadi perpecahan di tingkat FIFA, keputusan yang diambil di Zurich atau Miami bisa berdampak pada alokasi dana pengembangan, jadwal kompetisi, hingga peluang tuan rumah turnamen internasional. Indonesia, yang tengah giat membangun infrastruktur sepak bola, tentu berharap stabilitas di pucuk pimpinan FIFA agar program-program seperti FIFA Forward—yang juga membiayai proyek serupa di tanah air—tetap berjalan mulus. Namun, jika krisis ini berlarut, bukan tidak mungkin terjadi penundaan atau perubahan prioritas pendanaan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Infantino mampu memulihkan kepercayaan yang hilang atau justru semakin terisolasi. Dengan pemilihan presiden FIFA yang akan datang, dukungan dari konfederasi kecil seperti Concacaf dan AFC menjadi penentu. Jika permintaan Montagliani ini diindahkan, itu bisa menjadi sinyal bahwa Infantino mulai mendengarkan kritik. Namun, jika ia tetap memaksakan kehadiran, konflik terbuka dengan Concacaf bisa semakin memanas. Apakah ini awal dari perombakan besar di FIFA, atau hanya episode lain dalam drama kepemimpinan yang sudah berlangsung lama? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi yang jelas, sepak bola dunia sedang berada di persimpangan yang menentukan.



