Trent Alexander-Arnold Buka Suara: Cemoohan Fans Liverpool Masih Menghantuinya
Baca dalam 60 detik
- Bek Real Madrid itu mengaku masih menerima hujatan dari pendukung Liverpool 14 bulan setelah hengkang, dan berharap suatu saat mendapat pengertian.
- Alexander-Arnold menegaskan cemoohan di stadion maupun media sosial tidak mencerminkan hubungan personalnya dengan fans saat bertemu langsung.
- Gagal masuk skuad Inggris untuk Piala Dunia 2026, ia bertekad menjadikan kekecewaan sebagai motivasi untuk kembali memperkuat The Three Lions.

Trent Alexander-Arnold mengaku masih menerima cemoohan dari sebagian pendukung Liverpool, 14 bulan setelah memutuskan hengkang ke Real Madrid. Dalam wawancara terbarunya dengan Mirror, pemain berusia 27 tahun itu menyebut reaksi tersebut "menyakitkan", terutama karena ia menghabiskan dua dekade membela klub yang ia dukung sejak kecil.
Meski mengaku mampu menanggungnya, Alexander-Arnold berharap suatu hari para penggemar memahami keputusan yang ia ambil untuk mengembangkan karier di luar Anfield. "Saya bisa memikul ejekan dan kekecewaan itu. Tapi saya berharap suatu hari ada sedikit pengertian tentang keputusan yang saya buat untuk hidup saya sendiri," ujarnya. Ia menambahkan bahwa rasa sakit itu muncul karena besarnya pengorbanan yang ia berikan selama 20 tahun membela Liverpool.
Ketegangan ini mencuat nyata saat Real Madrid menelan kekalahan 0-1 dari Liverpool di Anfield pada ajang Liga Champions November lalu. Alexander-Arnold menjadi sasaran sorakan negatif dari tribun. Namun, ia menegaskan mampu memisahkan perlakuan di stadion dan dunia maya dari interaksi hangat yang ia rasakan saat pulang ke Merseyside untuk mengunjungi keluarga. "Tidak satu pun interaksi langsung yang saya alami mencerminkan apa yang muncul di media sosial," katanya.
Sepanjang musim lalu, Alexander-Arnold tampil dalam 35 dari 62 pertandingan Real Madrid di semua kompetisi. Ia menyebut perundungan daring sebagai "bagian menyedihkan dari kehidupan" pada 2026, dan menilai sebagian pesan yang diterimanya sudah "melewati batas". Baginya, serangan tersebut tidak mewakili klub yang ia cintai maupun kampung halamannya. "Ini bukan berarti semua orang di Liverpool menerima kepergian saya—tentu tidak. Tapi itu sangat berbeda dengan hal-hal yang melampaui ranah sepak bola," tegasnya.
Di luar persoalan dengan fans, Alexander-Arnold juga mengungkapkan kekecewaannya setelah gagal masuk skuad Inggris untuk Piala Dunia 2026. Ia mengaku berharap besar dipanggil pelatih Thomas Tuchel, namun kabar yang diterimanya justru sebaliknya. "Saya jujur, saya penuh harapan. Saat menutup telepon, saya benar-benar hancur. Saya harap staf pelatih mengerti bahwa saya marah," kenangnya. Dengan 34 caps, ia menegaskan tetap ingin membela negaranya dan akan selalu siap jika dipanggil kembali.
Kekecewaan itu kini ia ubah menjadi motivasi untuk musim baru. "Saya ingin menjadikannya bahan bakar untuk kembali ke skuad Inggris dan mengenakan seragam timnas. Itu target saya dan saya berharap bisa mencapainya," ujarnya. Bagi pengamat sepak bola, sikap Alexander-Arnold menunjukkan kedewasaan dalam menghadapi tekanan, baik dari suporter maupun seleksi tim nasional.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Alexander-Arnold menjadi cermin bagaimana tekanan publik—baik di stadion maupun media sosial—dapat memengaruhi performa dan mental pemain. Fenomena ini juga terjadi di liga domestik, di mana pemain yang pindah klub kerap menjadi sasaran hujatan. Namun, seperti ditunjukkan Alexander-Arnold, fokus pada tujuan dan menjaga hubungan baik dengan komunitas bisa menjadi kunci untuk bertahan. Pertanyaannya, akankah para pemain Indonesia mampu meniru ketangguhan mentalnya?



