Ketegangan FIFA Memuncak: Montagliani Minta Infantino Batalkan Kunjungan ke Turnamen Remaja
Baca dalam 60 detik
- Presiden CONCACAF, Victor Montagliani, secara terbuka meminta Gianni Infantino untuk tidak menghadiri turnamen U-14 CFU di Republik Dominika, menyoroti krisis tata kelola FIFA.
- Langkah ini memperkuat tekanan dari UEFA, AFC, dan CONCACAF terhadap Infantino, yang berencana mencalonkan diri kembali untuk periode keempat hingga 2031.
- Insiden ini berpotensi mempengaruhi citra FIFA di kawasan berkembang, termasuk Indonesia yang tengah aktif membangun sepak bola nasional.

Ketegangan di tubuh FIFA kembali mencuat ke permukaan. Victor Montagliani, Presiden Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF), secara terang-terangan meminta Presiden FIFA Gianni Infantino untuk membatalkan rencananya menghadiri turnamen remaja di Republik Dominika akhir pekan ini. Alasan di balik permintaan tersebut bukan soal teknis pertandingan, melainkan kekhawatiran bahwa kehadiran Infantino justru akan mengalihkan perhatian dari esensi kompetisi di tengah gelombang kritik terhadap kepemimpinannya.
Permintaan Montagliani disampaikan melalui surat resmi yang dikirim kepada Infantino pada Jumat lalu. Dalam surat yang dilihat oleh Reuters, Montagliani secara eksplisit menyebut adanya "krisis tata kelola yang melanda FIFA" sebagai pertimbangan utama. Ia menilai bahwa kehadiran Infantino di ajang CFU U-14 Series akan memicu sorotan media yang berlebihan, sehingga mereduksi makna teknis dari turnamen pembinaan usia muda tersebut. "Media akan fokus pada situasi ini, yang sayangnya akan mengalihkan perhatian dari sisi teknis kompetisi remaja CFU," tulis Montagliani, yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden Dewan FIFA.
Langkah Montagliani ini bukan sekadar formalitas. Ia mewakili tiga konfederasi besar—UEFA, AFC, dan CONCACAF—yang selama ini menjadi penopang utama FIFA. Tekanan terhadap Infantino menguat setelah rencana kontroversial untuk menjual sebagian saham Piala Dunia gagal total. Kini, isu mosi tidak percaya dari kekuatan regional sepak bola dunia menjadi semakin nyata. Infantino sendiri tengah berupaya memperpanjang masa kepemimpinannya hingga 2031, namun dukungan dari sejumlah asosiasi nasional dan pejabat kunci mulai menguap.
Menariknya, di tengah badai kritik, Infantino tetap disambut hangat oleh pejabat Republik Dominika. Menteri Olahraga dan Rekreasi setempat, Kelvin Cruz, bahkan menyambut kedatangannya di Punta Cana dengan penuh antusiasme. "Kami sangat menghargai kunjungan Anda. Kehadiran Anda menempatkan Republik Dominika pada radar sepak bola internasional dan membuka prospek besar bagi pertumbuhan sepak bola kami," ujar Cruz dalam pernyataannya. Sambutan ini kontras dengan sikap dingin dari internal FIFA, menunjukkan adanya perpecahan persepsi antara pusat kekuasaan dan negara berkembang yang berharap mendapatkan perhatian dari badan sepak bola dunia.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki relevansi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar dan tengah giat membangun infrastruktur serta pembinaan usia muda, arah kebijakan FIFA sangat berpengaruh. Konflik internal di FIFA dapat memperlambat program pengembangan sepak bola global, termasuk di Asia Tenggara. Selain itu, sikap kritis Montagliani menunjukkan bahwa transparansi dan tata kelola yang baik menjadi tuntutan yang semakin kuat, sesuatu yang juga menjadi sorotan dalam pengelolaan sepak bola nasional Indonesia.
Hingga berita ini diturunkan, FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan Montagliani. Namun, langkah ini menambah daftar panjang tantangan yang dihadapi Infantino. Pertanyaannya, akankah ia tetap memaksakan diri hadir di Republik Dominika dan menghadapi potensi kecaman publik, atau justru mengambil langkah mundur untuk meredakan ketegangan? Keputusan ini akan menjadi ujian nyata bagi kemampuan Infantino dalam mengelola krisis, sekaligus menentukan arah kepemimpinan FIFA dalam beberapa tahun ke depan.



