Duka Sepak Bola: Eks Gelandang West Brom, Quevin Castro, Meninggal Dunia di Usia 25 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Mantan pemain West Bromwich Albion, Quevin Castro, mengembuskan napas terakhir setelah kolaps di lapangan saat laga persahabatan di Portugal.
- Kejadian tragis ini menyoroti risiko kesehatan yang dihadapi atlet profesional, terutama di tengah padatnya jadwal pertandingan.
- West Brom berencana memberikan penghormatan khusus untuk Castro pada laga Championship melawan Burnley, Minggu (28/7).

Duka mendalam menyelimuti dunia sepak bola. Quevin Castro, mantan gelandang West Bromwich Albion yang kini membela Real Sport Clube, meninggal dunia pada usia 25 tahun setelah kolaps di lapangan saat laga persahabatan di Lisbon, Portugal, Sabtu (27/7). Kepergian pemain muda ini menjadi pengingat pahit akan risiko kesehatan yang mengintai para atlet di puncak karier mereka.
Castro ambruk pada babak pertama pertandingan persahabatan antara Real Sport Clube, klub divisi ketiga Portugal, melawan Estrela de Amadora, tim papan atas Liga Portugal, di Estadio das Seixas. Asosiasi Sepak Bola Lisbon (AFL) mengonfirmasi bahwa Castro meninggal dunia pada Minggu pagi waktu setempat. Real Sport Clube dalam pernyataan resminya menyebut Castro sebagai "anggota keluarga olahraga kami yang tercinta", menegaskan bahwa ia bukan sekadar pemain, melainkan bagian tak terpisahkan dari keluarga besar klub.
Karier Castro sempat mencuri perhatian ketika bergabung dengan West Brom pada 2021. Debutnya bersama The Baggies terjadi di ajang Carabao Cup melawan Arsenal, dan penampilan keduanya datang melawan Swansea City pada musim yang sama. Setelah itu, ia dipinjamkan ke Burton Albion untuk menambah menit bermain. Sebelum kembali ke Portugal pada musim panas lalu, Castro sempat memperkuat sejumlah klub di Inggris seperti Cambridge City, York City, dan Notts County.
Kabar duka ini langsung mendapat respons dari mantan klubnya. West Brom menyatakan rasa "terpukul" atas kepergian Castro. Sebagai bentuk penghormatan, mereka akan menggelar tepuk tangan selama 25 menit pada laga Championship melawan Burnley, Minggu (28/7), serta mengenakan ban lengan hitam. Tindakan ini menjadi simbol solidaritas dan penghormatan terakhir untuk pemain yang pernah memperkuat tim tersebut.
Peristiwa ini memantik kembali diskusi tentang kesehatan dan keselamatan pemain sepak bola, terutama di tengah padatnya kalender pertandingan. Meski penyebab pasti kolapsnya Castro belum diumumkan, kasus seperti ini kerap dikaitkan dengan masalah kardiovaskular yang sering kali tidak terdeteksi. Di Indonesia, kejadian serupa pernah menimpa pemain Persela Lamongan, Choirul Huda, yang meninggal dunia di lapangan pada 2017. Hal ini menunjukkan bahwa risiko kesehatan di lapangan hijau tidak mengenal batas negara.
Para ahli kesehatan olahraga menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin dan menyeluruh bagi para atlet, termasuk skrining jantung yang lebih ketat. Federasi sepak bola dunia, FIFA, sebenarnya telah memiliki protokol untuk menangani kasus henti jantung mendadak di lapangan, namun implementasinya masih bervariasi di setiap negara. Kasus Castro menjadi pengingat bahwa protokol tersebut harus diterapkan secara konsisten dan menyeluruh.
Kepergian Castro di usia yang sangat muda tentu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan setim, dan para penggemar. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: apakah dunia sepak bola sudah cukup serius dalam menjaga kesehatan para pemainnya? Atau akankah tragedi seperti ini terus berulang sebelum perubahan signifikan dilakukan? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang pasti, sepak bola kehilangan salah satu talenta mudanya yang menjanjikan.



