Ujian Terbesar Emery di Aston Villa: Kehilangan Pilar, Bisakah Bertahan di Papan Atas?
Baca dalam 60 detik
- Aston Villa memulai musim dengan kekalahan telak 0-4 dari Brighton, memperlihatkan kerapuhan skuad setelah ditinggal sejumlah pemain kunci.
- Unai Emery menghadapi tantangan terbesar dalam kariernya di Villa: membangun ulang tim di tengah hiruk-pikuk bursa transfer yang masih berlangsung.
- Kekalahan ini menjadi sinyal awal bahwa persaingan di Premier League musim ini akan semakin ketat, dan Villa harus segera berbenah sebelum bursa transfer ditutup.

Kekalahan telak 0-4 dari Brighton pada laga perdana Premier League akhir pekan lalu menjadi alarm bagi Aston Villa. Lebih dari sekadar kehilangan tiga poin, hasil ini membuka tabir kerapuhan skuad asuhan Unai Emery yang tengah kehilangan sejumlah pilar utamanya. Pertanyaannya kini, sang arsitek asal Spanyol itu akankah mampu kembali membangun tim yang kompetitif di tengah hiruk-pikuk bursa transfer yang masih menyisakan sepuluh hari?
Dari starting XI yang mengantarkan Villa menjuarai Liga Europa pada Mei lalu di Istanbul, hanya lima nama yang tampil sejak menit awal di Brighton. Morgan Rogers dan Ezri Konsa telah hengkang ke Chelsea dan Arsenal, Lucas Digne kembali ke Paris Saint-Germain, sementara Youri Tielemans memilih berseragam Manchester United. Belum lagi status Ollie Watkins yang diragukan, setelah sang striker dicadangkan pada laga tersebut.
Ini bukan kali pertama Villa kehilangan pemain bintang. Musim lalu, mereka juga menjual sejumlah aset utama, namun tetap finis di posisi empat besar dan meraih trofi Eropa pertama dalam 44 tahun. Namun, skala kepergian musim panas ini jauh lebih besar, menimbulkan ketidakpastian yang lebih tinggi apakah Villa mampu bertahan di antara elit sepak bola Inggris.
Emery sendiri enggan mengeluh. Ia justru bertekad untuk membentuk tim baru yang mampu bersaing. "Kami pernah mengalaminya sebelumnya, di berbagai momen berbeda. Dalam empat tahun, mungkin lima kali dalam situasi yang berbeda," ujarnya kepada Sky Sports. "Tanggung jawab saya adalah menganalisis, mencari solusi. Kami punya sepuluh hari di bursa transfer untuk menemukan solusi, dan tentu saja kami akan mencari cara dengan pemain yang ada. Kami selalu bangkit dari situasi seperti ini, dan saya yakin kami akan melakukannya lagi."
Pelatih yang pernah menukangi Valencia, Sevilla, PSG, Arsenal, dan Villarreal ini juga mengingatkan bahwa musim lalu, setelah lima pertandingan, Villa hanya mengoleksi tiga poin dan mencetak satu gol. "Semoga musim ini bisa berjalan seperti itu," katanya, merujuk pada kebangkitan yang akhirnya membawa mereka ke papan atas.
Namun, ada satu hal yang mengganjal: masa depan Ollie Watkins. Ketika ditanya mengapa striker timnas Inggris itu tidak masuk skuad, Emery hanya menjawab dengan teka-teki: "Tanyakan padanya. Saya hanya bisa menjawab dengan diam." Pernyataan ini memicu spekulasi bahwa Watkins mungkin akan menyusul rekan-rekannya hengkang.
Kekalahan di Brighton juga diwarnai kartu merah pemain anyar Joao Gomes, yang menendang lawan. Hal ini menambah daftar masalah Villa, yang harus segera berbenah. Di sisi lain, Brighton pantas merayakan kemenangan perdana mereka, meski juga kehilangan pemain-pemain seperti Jan Paul van Hecke dan Danny Welbeck. Manajer Brighton, Fabian Hurzeler, menegaskan filosofinya: "Kami membutuhkan setiap pemain. Kami akan selalu merekrut pemain muda yang penuh potensi, dan tugas kami adalah mengembangkan mereka. Ini awal yang positif, mari terus dorong mereka."
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi Villa menjadi cermin bagaimana sebuah klub harus beradaptasi dengan dinamika pasar transfer yang agresif. Kepergian pemain bintang adalah keniscayaan, namun yang membedakan klub besar dengan yang lain adalah kemampuan untuk bangkit. Aston Villa di bawah Emery telah membuktikan hal itu, tetapi ujian kali ini terasa lebih berat. Apakah Emery akan mampu melakukan triknya sekali lagi, atau justru ini menjadi awal dari kemunduran Villa? Hanya waktu yang bisa menjawab, dan sepuluh hari ke depan akan menjadi penentu.



