Gempa NTT: Korban Jiwa Bertambah Jadi 71, BNPB Fokus pada Penanganan Pengungsi yang Masih Tersebar
Baca dalam 60 detik
- Korban tewas gempa NTT kini 71 orang setelah satu warga Nagekeo meninggal, sementara total pengungsi mencapai 59.647 jiwa.
- Distribusi bantuan terkendala medan Flores yang sulit, memaksa BNPB mengoptimalkan jalur laut dan pengiriman bertahap.
- Pemerintah memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, namun pendataan dan akses desa masih menjadi tantangan utama.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat tambahan satu korban meninggal akibat gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), sehingga total korban jiwa kini mencapai 71 orang. Korban terbaru berasal dari Kabupaten Nagekeo, menyusul rentetan gempa yang terjadi sejak 15 hingga 19 Agustus 2026. Di tengah duka yang mendalam, pemerintah memastikan distribusi bantuan terus berjalan meski medan geografis yang sulit menjadi ujian besar.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers yang digelar Rabu (19/8) mengungkapkan bahwa penanganan pengungsi menjadi prioritas utama. Sebanyak 59.647 warga masih bertahan di titik-titik pengungsian, dengan konsentrasi terbesar di Manggarai. โKami memastikan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, tenda, matras, selimut, serta sanitasi terpenuhi,โ ujarnya, seraya menambahkan bahwa kelompok rentan mendapat perhatian khusus.
Namun, upaya penyaluran bantuan tidak berjalan mulus. BNPB mengakui karakteristik geografis Flores yang terjal dan akses jalan yang labil memperlambat distribusi. Hingga Selasa (18/8) pukul 18.00 WIB, tercatat 398 ton bantuan telah dikirim melalui jalur darat dan udara, dengan 165 ton di antaranya menggunakan moda transportasi udara. Optimasi transportasi laut pun ditempuh untuk menjangkau wilayah yang membutuhkan logistik dalam jumlah besar.
Kendala lain muncul dari banyaknya pengungsi yang memilih mengungsi secara mandiri, menyulitkan tim untuk mendata dan menjangkau mereka secara tepat waktu. โKami butuh waktu untuk mendata, karena akses ke desa-desa tidak mudah dan kondisi jalan masih labil,โ papar Berton. Sebagian warga enggan kembali ke rumah karena bangunan rusak atau khawatir akan gempa susulan, sehingga penanganan pengungsi tidak bisa terpusat di satu lokasi.
Pemerintah pun mengimbau para penyintas untuk tetap tenang, sambil menjamin kebutuhan pokok terus dipenuhi. Langkah ini sejalan dengan komitmen BNPB untuk memperbaiki rumah-rumah warga terdampak, seperti yang sebelumnya disampaikan dalam keterangan resmi. Sementara itu, Kementerian Sosial memastikan dana tali asih bagi korban meninggal dan luka akan segera disalurkan.
Bagi masyarakat Indonesia, bencana ini kembali mengingatkan pada pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa, terutama di kawasan rawan seperti NTT. Selain itu, lambatnya akses logistik menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah daerah dan pusat untuk memperkuat infrastruktur darurat di wilayah terpencil. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah upaya pemulihan pasca-gempa mampu berjalan lebih cepat dibanding respons awal yang terkendala medan?



