Keponakan Dolly Parton Minta Penundaan Sidang Perintah Perlindungan, Warisan Sang Legenda di Ujung Sengketa
Baca dalam 60 detik
- Bryan Seaver, keponakan Dolly Parton, mengajukan penundaan sidang perintah perlindungan yang dijadwalkan 9 Oktober karena belum mendapat pendamping hukum.
- Ia menghadapi tuduhan ancaman dan pemerasan dari pihak estate yang dikelola perusahaan She's Alive, namun membantah semua tuduhan sebagai upaya mencari publisitas.
- Kasus ini menyoroti kerentanan pengelolaan warisan selebritas dan potensi konflik internal yang bisa merusak reputasi serta nilai ekonomi sang legenda country.

Bryan Seaver, keponakan mendiang ikon country Dolly Parton, secara resmi meminta penundaan sidang perintah perlindungan (restraining order) yang sedianya digelar 9 Oktober. Permohonan itu diajukan karena ia belum mendapatkan pengacara yang siap mendampinginya, sehingga ia merasa belum mampu menghadapi proses hukum yang menjeratnya.
Parton meninggal dunia pada 25 Agustus di usia 80 tahun. Tak lama setelah kepergiannya, Seaver yang sebelumnya menjabat sebagai kepala keamanan dipecat oleh pihak estate. Perusahaan She's Alive—entitas yang dibentuk untuk mengurus kepentingan Parton pasca-meninggal—kemudian mengajukan perintah perlindungan terhadapnya. Konflik ini mencuat ke publik dan menjadi sorotan media hiburan internasional.
Dalam dokumen yang diajukan ke pengadilan, Seaver yang mewakili dirinya sendiri menyatakan bahwa ia tidak memiliki pengetahuan atau keterampilan hukum yang memadai untuk melanjutkan perkara tanpa pengacara. Ia berharap seorang advokat yang ingin ia rekrut dapat menemuinya paling cepat 5 Oktober. Seaver juga menyatakan tidak akan keberatan jika masa berlaku perintah perlindungan saat ini diperpanjang hingga jadwal sidang baru ditetapkan.
Perintah perlindungan itu diajukan oleh manajer Parton, Danny Nozell, atas nama She's Alive. Dalam berkasnya, Nozell menuduh Seaver melakukan ancaman dan upaya pemerasan terhadapnya. Dokumen yang diperoleh People magazine menyebutkan bahwa Seaver diduga melancarkan "kampanye ancaman, intimidasi, dan paksaan" beberapa pekan sebelum Parton berpulang. Ia juga dituduh menulis janji akan "menghancurkan seluruh merek" dan mengatakan kepada pengacara hiburan Parton, "Saya bukan orang hiburan. Saya pembunuh."
Menanggapi tuduhan tersebut, Seaver membantah keras. Ia menegaskan bahwa teks yang dijadikan bukti telah diambil di luar konteks. Menurutnya, Parton sendiri yang memanggilnya "killer" sebagai lelucon internal di lingkungan kerja. "Dolly memanggil saya killer. Itu lelucon yang kami pakai di sekitarnya. Saya adalah 'baby boy ninja'-nya, dan Danny Nozell mengambil teks itu di luar konteks untuk membayangkan saya mengancamnya," ujarnya seperti dikutip ABC News.
"Perintah perlindungan ini tidak berdasar dan hanya gimmick publisitas. Saya dipecat. Setelah estate bernegosiasi dengan saya dan perusahaan saya untuk layanan selamanya dan menyetujui ketentuan layanan itu, seminggu kemudian mereka memecat saya karena 'ancaman' yang dibuat-buat."
— Bryan Seaver
Seaver juga menegaskan tidak pernah mengancam siapa pun. "Mereka adalah teman, saudara, dan kolega saya," tambahnya. Setelah kabar pemecatannya mencuat, ia dan timnya menyatakan kepada TMZ bahwa mereka "terkejut dan prihatin" atas tindakan yang tidak dijelaskan pasca-kematian Parton. Mereka bertekad memenuhi perintah terakhir Parton untuk melindungi keluarganya dan menolak diintimidasi oleh pihak yang mereka nilai bertindak dengan itikad buruk serta berniat mengambil keuntungan dari sosok yang begitu banyak memberi.
Kasus ini bukan sekadar perselisihan keluarga biasa. Ia menyoroti bagaimana warisan seorang ikon budaya dapat menjadi medan pertempuran hukum begitu sang bintang tiada. Estate Parton, yang diwakili She's Alive, berupaya melindungi aset dan reputasi sang legenda, sementara Seaver merasa hak-haknya sebagai anggota keluarga yang telah dipercaya justru diabaikan. Publik pun terbelah: sebagian melihat ini sebagai upaya sah melindungi warisan, sebagian lain mencium aroma konflik kepentingan di balik pengelolaan estate.
Bagi Indonesia, fenomena sengketa warisan selebritas bukan hal asing. Beberapa kasus warisan musisi atau aktor tanah air juga berujung ke meja hijau, menunjukkan bahwa tanpa perencanaan estate yang matang, potensi konflik keluarga dan kerugian ekonomi bisa membengkak. Pelajaran dari kasus Parton adalah pentingnya tata kelola warisan yang transparan dan komunikasi keluarga yang sehat sejak dini.
Ke depan, sidang yang tertunda akan menjadi ujian bagi kedua belah pihak. Jika Seaver berhasil mendapatkan pengacara, ia berpotensi mengajukan pembelaan yang lebih kuat. Sebaliknya, estate Parton akan berupaya mempertahankan perintah perlindungan demi menjaga stabilitas bisnis dan warisan budaya. Publik menanti apakah penyelesaian damai masih mungkin, atau justru konflik ini akan memakan waktu bertahun-tahun dan menggerus citra salah satu nama paling dihormati dalam sejarah musik country.



