Konferensi Pers Timnas Irlandia Dipotong di Serbia: Ketegangan Politik Bayangi Laga Kontra Israel
Baca dalam 60 detik
- Konferensi pers jelang laga Irlandia vs Israel di Backa Topola berakhir ricuh setelah jurnalis Israel melontarkan tuduhan rasisme dan pertanyaan bernada politik.
- Pelatih Heimir Hallgrímsson menegaskan fokus tim adalah bertahan sebagai satu kesatuan di tengah tekanan eksternal yang meningkat.
- Laga kedua Nations League ini menjadi ujian diplomatik bagi FAI yang memilih venue netral karena alasan keamanan.

Konferensi pers menjelang pertandingan Nations League antara Republik Irlandia dan Israel di Backa Topola, Serbia, berakhir prematur pada Sabtu (3/10/2026) setelah sejumlah jurnalis Israel melontarkan pertanyaan bernuansa politik dan tuduhan rasisme. Insiden ini menambah ketegangan yang sudah menyelimuti laga kedua kedua tim, yang sebelumnya diwarnai aksi protes diam para pemain Irlandia saat lagu kebangsaan Israel dikumandangkan.
Pertandingan pertama di Hungaria pada Selasa lalu berakhir dengan kemenangan Irlandia 3-0, namun sorotan publik justru tertuju pada sikap skuad asuhan Heimir Hallgrímsson yang memilih menundukkan kepala dan mengenakan ban lengan selama lagu kebangsaan Israel berkumandang. Tidak ada jabat tangan antar kapten sebelum kick-off, sebuah isyarat yang mempertegas jarak politik antara kedua kubu.
Ketegangan memuncak ketika seorang jurnalis menanyai Hallgrímsson tentang insiden penerbangan Flydubai dari Uni Emirat Arab ke Israel pada Rabu lalu. "Apa pendapat Anda tentang orang-orang yang Anda dukung? Ideologi mereka berbasis pembunuhan," ujar jurnalis tersebut, merujuk pada upaya penyerangan terhadap 170 penumpang Israel. Seorang petugas pers Irlandia segera memotong: "Kami tidak akan menjawab pertanyaan seperti ini hari ini. Kami hanya akan membahas sepak bola."
Namun situasi semakin memanas ketika jurnalis lain menuduh pemain Irlandia menyebut pemain Israel sebagai monyet selama pertandingan. Seorang pejabat FAI berulang kali menegaskan tuduhan itu "sepenuhnya tidak benar" sambil mengambil mikrofon dari tangan jurnalis. "Jangan sentuh saya, jangan sentuh saya," protes jurnalis tersebut, sebelum delegasi Irlandia mengakhiri konferensi pers secara mendadak.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, sebelumnya mengecam sikap para pemain Irlandia dan menuduh Dublin berada di "sisi sejarah yang salah". Pemerintah Israel menilai aksi protes diam tersebut sebagai bentuk permusuhan terhadap negara mereka, sementara publik Irlandia justru memberikan dukungan luas terhadap sikap skuadnya.
Di tengah badai kontroversi, Hallgrímsson memilih menekankan aspek mental dan kebersamaan tim. "Bertahan dari semua ini, keluar sebagai satu kesatuan, itu akan menjadi kemenangan besar bagi saya. Itu datang dari hati saya," ujarnya. Ia mengakui bahwa tekanan dari publik Irlandia turut memengaruhi kondisi psikologis para pemain. "Kami ingin tampil baik, tetapi selalu menjadi tantangan ketika lingkungan sekitar begitu berisik. Kami berusaha fokus pada sisi sepak bola, dan kami telah melakukan banyak hal untuk membantu itu."
"Satu perubahan yang kami lakukan dalam pertandingan terakhir adalah sebelum masuk lapangan, kami melakukan doa kecil dan huddle bersama pemain dan staf, hanya untuk menenangkan kepala sebelum bertanding. Conor Coventry yang memimpin, jadi dia sekarang dipanggil Brother Coventry di skuad." — Heimir Hallgrímsson, pelatih Republik Irlandia
Pendekatan spiritual dan psikologis yang diterapkan Hallgrímsson mencerminkan upaya tim untuk mengelola tekanan non-teknis yang jarang dialami skuad sepak bola nasional. Dalam konteks sepak bola internasional, pertandingan yang melibatkan dimensi politik sering kali menguji ketahanan mental pemain, terutama ketika mereka harus tampil di negara netral dengan pengawasan ketat dari berbagai pihak.
Bagi FAI, keputusan untuk tidak menyelenggarakan laga kandang di Dublin merupakan langkah pragmatis demi keamanan, namun juga menimbulkan konsekuensi diplomatik. Serbia sebagai tuan rumah netral menghadapi dilema serupa: menjadi panggung bagi pertandingan yang sarat muatan politik, atau menegakkan prinsip netralitas olahraga. Sementara itu, UEFA sebagai penyelenggara belum memberikan komentar resmi terkait insiden konferensi pers tersebut.
Pertandingan Minggu nanti tidak hanya menentukan posisi kedua tim di klasemen Nations League, tetapi juga menjadi barometer bagaimana sepak bola Eropa menangani konflik geopolitik yang merembes ke lapangan. Akankah wasit dan pengawas pertandingan mampu menjaga laga tetap berjalan tanpa insiden? Dan yang lebih penting, apakah sepak bola masih bisa menjadi ruang netral ketika politik menuntut untuk masuk ke dalamnya?



