Serangan Udara Militer Myanmar ke Biara Tewaskan 14 Warga Sipil
Baca dalam 60 detik
- Serangan udara di Sagaing menewaskan 14 orang, termasuk lansia yang sedang menjalani retret meditasi.
- Saksi mata menegaskan target serangan adalah biara, bukan kesalahan, dan pesawat kembali menyerang saat proses evakuasi.
- Insiden ini memperkuat temuan PBB tentang serangan udara yang disengaja terhadap warga sipil, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik.

Serangan udara yang dilancarkan militer Myanmar pada Jumat pagi (21/8) menghantam sebuah biara di wilayah Sagaing, menewaskan sedikitnya 14 warga sipil yang sedang mengikuti retret meditasi menyambut masa Prapaskah Buddhis. Peristiwa ini menjadi babak terbaru dari kekerasan berkepanjangan pasca-kudeta 2021, di mana tempat ibadah justru kerap menjadi sasaran.
Menurut dua pejuang perlawanan yang berada di lokasi, pesawat militer menjatuhkan bom di aula biara di Kotapraja Myaung sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Sebelas pria dan tiga wanita tewas, dengan usia korban berkisar antara 50 hingga 70 tahun. Nway Oo Myaung, seorang pejuang pro-demokrasi yang turut mengevakuasi korban, menegaskan bahwa serangan itu bukanlah salah sasaran. "Mereka sengaja menyerang biara," ujarnya, seraya menambahkan bahwa para korban adalah warga lanjut usia yang telah tinggal di pusat meditasi selama tiga bulan.
Seorang pejuang lain yang enggan disebut namanya mengungkapkan bahwa lima korban berasal dari desanya, sementara sembilan lainnya dari desa tetangga. Yang lebih mengkhawatirkan, saat proses pertolongan pertama dilakukan, pesawat kembali datang dan menjatuhkan bom untuk kedua kalinya. "Saat kami mencoba menyelamatkan orang-orang, pesawat datang mengebom lagi," katanya. Hingga berita ini diturunkan, pihak militer Myanmar belum memberikan tanggapan resmi.
Serangan ini menambah panjang daftar kekejaman militer Myanmar yang telah berkuasa sejak merebut kekuasaan dari pemerintah terpilih Aung San Suu Kyi pada Februari 2021. Kudeta tersebut memicu perang saudara yang melibatkan aliansi kelompok pro-demokrasi dan etnis minoritas. Biara dan sekolah, yang seharusnya menjadi tempat perlindungan, justru kerap menjadi sasaran serangan udara. Laporan terbaru dari Mekanisme Investigasi Independen untuk Myanmar (IIMM) yang dirilis pekan lalu menuduh militer melakukan "serangan udara yang tidak pandang bulu dan disengaja terhadap warga sipil". Pemerintah Myanmar, yang dikendalikan junta, membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai "tuduhan sepihak berdasarkan informasi yang tidak dapat diverifikasi".
Konflik Myanmar telah menewaskan lebih dari 100.000 orang dalam lima tahun terakhir. Angka ini menunjukkan betapa brutalnya pertempuran yang terjadi di berbagai front. Bagi Indonesia, situasi ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara yang pernah terlibat dalam upaya mediasi perdamaian Myanmar melalui mekanisme konsensus ASEAN, Indonesia kini berada dalam posisi yang sulit. Serangan terhadap warga sipil yang terus berlanjut membuat tekanan internasional semakin besar, namun junta militer tampaknya tidak menggubris. Pertanyaannya, akankah ASEAN mampu mendorong perubahan nyata, atau justru semakin kehilangan relevansi di mata rakyat Myanmar?
Ke depan, eskalasi serangan udara seperti ini berpotensi memicu gelombang pengungsi baru ke negara-negara tetangga, termasuk Thailand dan India. Bagi Indonesia, stabilitas kawasan Asia Tenggara menjadi taruhan. Jika konflik ini terus berlarut, bukan tidak mungkin dampaknya akan terasa hingga ke Jakarta, baik melalui arus pengungsi maupun meningkatnya ketegangan geopolitik. Namun, apakah komunitas internasional memiliki kemauan politik untuk menekan junta militer secara efektif? Atau akankah biara-biara di Myanmar terus menjadi saksi bisu keganasan perang yang tak kunjung usai?



