iOS 27 Bawa Tiga Fitur AI di Photos: Edit Foto Makin Presisi, tapi Ada Jebakan
Baca dalam 60 detik
- Apple menyematkan tiga alat berbasis AI di aplikasi Photos iOS 27: Clean Up, Extend, dan Reframe.
- Fitur ini memungkinkan penghapusan objek, perluasan bingkai, dan perubahan perspektif hanya dengan sentuhan jari.
- Meski memudahkan, hasil edit bisa aneh jika digunakan berlebihan dan berisiko menimpa foto asli tanpa cadangan.

Apple resmi meluncurkan iOS 27 yang hadir bersama lini iPhone terbaru, dan kali ini aplikasi Photos mendapat perhatian khusus. Perusahaan asal Cupertino itu menanamkan tiga fitur berbasis kecerdasan buatan yang diklaim mampu mengubah cara pengguna menyunting foto dan video sehari-hari. Bagi pengguna iPhone di Indonesia, pembaruan ini berpotensi mengubah kebiasaan mengedit konten visual, meski ada sejumlah catatan penting sebelum menggunakannya.
Ketiga fitur tersebut adalah Clean Up, Extend, dan Reframe. Clean Up sejatinya sudah diperkenalkan sejak iOS 18, namun kini dirombak dengan algoritma yang lebih canggih. Apple mengklaim hasil editnya lebih presisi dan tampak natural. Pengguna juga diberi pilihan mode Fast atau High Quality, tergantung seberapa lama mereka bersedia menunggu proses pemrosesan. Fitur ini memungkinkan penghapusan objek yang mengganggu, misalnya orang asing yang masuk ke bingkai foto liburan atau noda kopi di meja, dengan cara mencoret atau melingkari area yang ingin dihilangkan.
Sementara Extend menawarkan fungsi kebalikan dari crop: memperluas bingkai foto melampaui batas aslinya. AI akan mengisi area kosong dengan tebakan visual berdasarkan konteks sekitarnya. Fitur ini sangat berguna ketika pengguna ingin sedikit memutar gambar tanpa harus memotong bagian penting, atau mengisi ruang kosong yang timbul akibat rotasi. Namun, semakin luas area yang diperluas, semakin besar pula kemungkinan hasilnya terlihat aneh karena AI harus berimajinasi mengisi bagian yang tidak pernah ada dalam bidikan asli.
Adapun Reframe, atau Spatial Reframing, adalah yang paling ambisius. Fitur ini membangun model 3D dari pemandangan dalam foto sehingga pengguna dapat menggeser sudut pandang kamera. Misalnya, foto yang diambil dari angle terlalu rendah bisa diubah menjadi lebih sejajar dengan objek. Caranya, cukup ketuk Reframe lalu seret gambar untuk mengubah perspektif. Area yang perlu diisi ulang oleh AI akan tampak buram sebelum akhirnya diproses. Sayangnya, jika digunakan berulang kali pada gambar yang sama, hasilnya bisa semakin tidak realistis.
Meski terdengar memudahkan, ada konsekuensi yang perlu diwaspadai. Aplikasi Photos secara default akan menyimpan hasil edit menimpa gambar asli. Artinya, jika pengguna tidak sengaja melakukan penyuntingan yang salah, foto asli bisa hilang. Apple menyediakan opsi Duplicate sebelum mengedit, serta fitur Revert to Original untuk mengembalikan ke versi awal. Langkah ini penting, terutama bagi mereka yang menyimpan momen berharga tanpa cadangan di iCloud atau penyimpanan eksternal.
Dari kacamata industri, langkah Apple ini mempertegas tren adopsi AI generatif di perangkat konsumen. Google dengan Pixel dan Samsung dengan Galaxy AI juga gencar menawarkan fitur serupa. Persaingan pun bergeser dari sekadar kualitas lensa ke kecerdasan perangkat lunak. Bagi pengguna di Indonesia, fitur-fitur ini bisa menjadi nilai jual tersendiri, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang etika manipulasi foto. Di media sosial, gambar yang diedit secara ekstensif berpotensi menyesatkan jika tidak diberi label.
Ke depan, kemampuan AI dalam mengubah realitas visual akan semakin sulit dibedakan dari aslinya. Apple dan pesaingnya perlu memikirkan mekanisme transparansi, misalnya metadata yang menandai hasil editan AI. Sementara itu, pengguna sebaiknya bijak: manfaatkan fitur untuk perbaikan minor, bukan menciptakan ilusi yang jauh dari kenyataan. Apakah kita siap dengan foto yang tak lagi bisa dipercaya sebagai bukti?



