Gakpo Jadi Nyawa Liverpool, Jacquet Bukan Satu-satunya Alasan di Balik Start Tak Terkalahkan Iraola
Baca dalam 60 detik
- Cody Gakpo disebut sebagai pemain terbaik Liverpool musim ini oleh analis The Athletic, Duncan Alexander, setelah torehan gol dan assistnya yang konsisten.
- Cedera pergelangan kaki yang membuat Gakpo mundur dari timnas Belanda menjadi alarm bagi Liverpool yang sedang dalam momentum tak terkalahkan di bawah asuhan Iraola.
- Jeremy Jacquet tampil impresif di lini belakang dengan lima clean sheet dari lima start, tetapi ketergantungan pada Gakpo di sektor serang menjadi risiko yang harus segera diantisipasi.

Liverpool tengah menikmati awal musim yang solid di bawah kendali pelatih anyar, Iraola, dengan catatan tak terkalahkan di Premier League. Namun, sorotan utama bukan hanya pada rekrutan mahal di lini belakang, melainkan pada sosok Cody Gakpo yang disebut-sebut sebagai pemain terbaik The Reds sejauh ini. Penampilan gemilang pemain asal Belanda itu membuat Liverpool tetap kompetitif, meski harus kehilangan servisnya untuk sementara waktu akibat cedera pergelangan kaki yang memaksanya mundur dari skuad Oranje.
Gakpo, yang sempat dikaitkan dengan kepindahan ke Tottenham Hotspur atau Manchester City pada bursa transfer musim panas lalu, justru menjelma menjadi figur sentral di lini serang Liverpool. Analis The Athletic, Duncan Alexander, dalam podcast Totally Football Show, menilai pemain berusia 27 tahun itu sebagai "player of the season" bagi Liverpool. Penilaian tersebut bukan tanpa dasar. Gakpo tercatat mencetak gol pembuka melawan Newcastle United, memberikan assist melengkung indah untuk Alexander Isak saat menghadapi Nottingham Forest, serta dua assist tambahan di laga kontra Ipswich Town—salah satunya melalui umpan trivela yang memukau.
Kontribusi Gakpo tidak hanya sebatas statistik. Dalam laga Carabao Cup melawan Tottenham Hotspur, ia mencetak gol dengan gaya khasnya dan bahkan mengenakan ban kapten di akhir pertandingan. Momen itu menegaskan statusnya sebagai pemimpin di ruang ganti. Liverpool pun patut bersyukur karena mampu mempertahankannya dari godaan klub-klub besar pada jendela transfer lalu. Kehilangan Gakpo, bahkan untuk beberapa pekan, bisa menjadi pukulan telak bagi ambisi Iraola menjaga tren positif.
Di sisi lain, kedatangan Jeremy Jacquet dari Rennes dengan harga £60 juta pada Januari lalu mulai membuahkan hasil. Pemain muda Prancis itu langsung menunjukkan kualitasnya dengan lima clean sheet dalam lima start di Premier League—catatan terbaik bersama tim lain di divisi tersebut. Penampilannya bersama timnas Prancis juga mengundang pujian. Dalam laga melawan Italia, ia mencatatkan akurasi umpan 100% dari 79 operan dan hanya kehilangan bola sekali. Sebelumnya, melawan Belgia, ia memenangkan enam dari sembilan duel dan melakukan tujuh kontribusi defensif.
Kehadiran Jacquet dan Ronald Araujo di jantung pertahanan memberikan ketenangan baru bagi lini belakang Liverpool. Gaya bermainnya yang tenang, pace pemulihan yang cepat, serta kemampuannya membaca permainan mengingatkan pada sosok Virgil van Dijk muda. Bahkan, ia hanya dilewati lawan sebanyak 0,2 kali per pertandingan—angka yang sangat impresif untuk pemain berusia 21 tahun. Momen ketika ia dengan mudah menyingkirkan Omar Marmoush dalam laga Carabao Cup melawan Tottenham menjadi bukti kekuatan fisik dan mentalnya.
Meski demikian, ketergantungan Liverpool pada Gakpo di lini depan menjadi perhatian serius. Dengan cedera yang membayangi, Iraola harus segera mencari solusi agar produktivitas gol tetap terjaga. Pemain seperti Bradley Barcola, yang baru bergabung, masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan intensitas Premier League. Jika Gakpo absen dalam periode krusial, bukan tidak mungkin laju tak terkalahkan Liverpool akan terganggu, terutama saat menghadapi tim-tim papan atas yang mampu memanfaatkan celah di lini serang.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, dinamika di Liverpool ini menjadi cermin betapa pentingnya kedalaman skuad di kompetisi sepanjang musim. Liga Indonesia sering kali menghadapi masalah serupa ketika pemain kunci cedera, dan klub harus mengandalkan pemain muda atau opsi terbatas. Manajemen Liverpool yang berani mengeluarkan dana besar untuk Jacquet dan mempertahankan Gakpo menunjukkan bahwa investasi tepat di posisi krusial adalah kunci untuk bersaing di level tertinggi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa lama Gakpo akan menepi dan apakah Liverpool mampu mempertahankan momentum tanpa dirinya. Jika cedera itu hanya masalah ringan, Iraola bisa bernapas lega. Namun, jika absennya berkepanjangan, ujian sesungguhnya bagi kedalaman skuad dan taktik sang pelatih baru akan dimulai. Premier League tidak memberi ruang bagi tim yang bergantung pada satu pemain, dan Liverpool harus membuktikan bahwa mereka lebih dari sekadar Gakpo atau Jacquet.



