Kabut Asap Karhutla Palembang Renggut Nyawa Pengemudi Ojol: Peringatan Serius bagi Kesehatan Publik
Baca dalam 60 detik
- Seorang pengemudi ojek online di Palembang meninggal setelah mengalami sesak napas yang diduga dipicu paparan kabut asap karhutla yang telah menyelimuti wilayah Sumatera Selatan hampir dua bulan.
- Insiden ini menambah daftar korban jiwa akibat bencana ekologis tahunan, sementara delapan penerbangan di Bandara SMB II Palembang juga terganggu akibat jarak pandang di bawah standar.
- Keluarga korban mendesak pemerintah mengambil tindakan tegas, sementara otoritas bandara terus memantau kondisi cuaca yang belum menunjukkan perbaikan signifikan.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan kembali menelan korban jiwa. Ardiansyah (41), seorang pengemudi ojek online asal Kertapati, Palembang, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas yang diduga kuat berkaitan dengan paparan asap yang telah menyelimuti kota itu selama hampir dua bulan terakhir.
Peristiwa ini menjadi pukulan telak bagi keluarga korban sekaligus alarm bagi publik bahwa krisis kabut asap bukan sekadar gangguan jarak pandang atau aktivitas sehari-hari, melainkan ancaman nyata bagi keselamatan jiwa. Istri almarhum, Rita Yunita, mengungkapkan bahwa suaminya memiliki riwayat asma dan kondisinya memburuk drastis sejak kabut asap pekat menyelimuti Palembang.
Sebagai pengemudi ojol, Ardiansyah menghabiskan sekitar sembilan jam sehari di luar rumah dengan sepeda motor. Paparan udara tercemar partikel asap menjadi bagian tak terhindarkan dari rutinitasnya. Rita menuturkan, suaminya sering batuk dan sesak setiap kali pulang bekerja. Pada pagi nahas itu, sesak kembali kambuh saat ia baru keluar dari kamar mandi yang tidak beratap, sehingga kabut asap langsung masuk ke dalam ruangan.
"Dia bilang, 'Ya Allah, kabut asap ini'," kenang Rita, menggambarkan betapa pekatnya asap yang masuk ke rumah mereka.
Keluarga segera membawa Ardiansyah ke IGD RS Bari, namun nyawanya tidak tertolong meski tim medis telah melakukan resusitasi. Kepergiannya meninggalkan istri dan anak-anak yang kini harus menghadapi masa depan tanpa sosok tulang punggung keluarga.
Dampak kabut asap tidak berhenti pada korban jiwa. Pada hari yang sama, Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang mencatat setidaknya delapan penerbangan terganggu. General Manager bandara, Ahmad Syaugi Sahab, merinci empat penerbangan kedatangan dan empat keberangkatan mengalami penundaan, dengan satu pesawat rute Jakarta-Palembang harus kembali ke bandara asal (return to base).
"Penundaan ini terjadi akibat visibility below minimum, atau jarak pandang di bawah standar minimal penerbangan," ujar Ahmad. Pihak bandara bersama maskapai terus berkoordinasi memantau perkembangan cuaca, dengan prioritas utama keselamatan penumpang. Penumpang diimbau memantau informasi penerbangan melalui maskapai masing-masing.
Insiden ini menyoroti lemahnya mitigasi bencana kabut asap yang kerap berulang setiap tahun. Meskipun karhutla telah menjadi persoalan kronis, upaya pencegahan dan penegakan hukum dinilai belum menyentuh akar masalah. Keluarga korban, melalui Rita, menuntut pemerintah bergerak lebih cepat. "Kalau memang kondisi lagi tidak aman, kabut sudah ada, asap sudah ada, jangan sampai ada korban yang lain. Cukup kami," tegasnya.
Pernyataan itu menggambarkan frustrasi publik terhadap respons otoritas yang dianggap lambat. Dalam konteks lebih luas, kabut asap tidak hanya berdampak pada kesehatan warga, tetapi juga mengganggu sektor transportasi dan ekonomi regional. Bandara SMB II, sebagai gerbang utama Sumatera Selatan, menanggung beban operasional akibat visibilitas rendah yang berulang.
Pemerintah daerah dan pusat perlu memperkuat sistem peringatan dini, menyediakan ruang udara bersih bagi kelompok rentan, serta menindak tegas pelaku pembakaran lahan. Tanpa langkah konkret, korban jiwa berikutnya hanya menunggu waktu. Sementara itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama mereka yang memiliki penyakit pernapasan, dengan mengurangi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara memburuk.
Ke depan, pertanyaan besarnya: apakah tragedi ini akan menjadi titik balik kebijakan penanggulangan karhutla, atau hanya menjadi statistik yang terlupakan begitu hujan datang? Pemerintah memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan tidak ada lagi Ardiansyah-Ardiansyah lain yang menjadi korban dari bencana yang sebenarnya bisa dicegah.



