Baznas RI Kirim 1.900 Porsi Makanan untuk Penyintas Gempa NTT: Dapur Umum dan Posko Kesehatan Disiagakan
Baca dalam 60 detik
- Baznas RI menyalurkan 1.900 porsi makanan siap saji ke dua desa terdampak gempa di Manggarai Timur, NTT, dengan jangkauan 137โ800 jiwa per posko.
- Selain dapur umum, Baznas mengoperasikan dapur air untuk kebutuhan anak-anak dan mendirikan Posko Layanan Kesehatan di Pondok Pesantren Pancasila, Manggarai.
- Pemerintah pusat melalui Menko PMK memastikan percepatan pemulihan pascagempa M 7,7 Flores, dengan sinergi lintas lembaga sejak hari pertama.

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI bergerak cepat menyalurkan 1.900 porsi makanan siap saji bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur. Distribusi difokuskan di Desa Nanga Mbaling dan Desa Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, menyasar titik-titik pengungsian dengan jumlah penerima bervariasi antara 137 hingga 800 jiwa per posko.
Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan, Idy Muzayyad, menegaskan bahwa operasi kemanusiaan ini dirancang untuk menjaga ketahanan fisik para pengungsi di tengah situasi darurat. "Kami terus memastikan kebutuhan dasar seluruh korban terdampak gempa di Manggarai Timur terpenuhi secara cepat dan merata melalui dapur umum Baznas," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu. Langkah ini bukan sekadar memberi makan, tetapi juga upaya mencegah memburuknya kondisi kesehatan di lokasi pengungsian yang kerap rentan terhadap penyakit.
Di lapangan, tim Baznas Tanggap Bencana (BTB) tidak hanya mendirikan dapur umum. Mereka juga menyisir permukiman warga untuk memetakan kebutuhan logistik yang paling mendesak. Personel BTB, Dede Nurjaman, melaporkan adanya fasilitas dapur air yang menyuplai susu untuk anak-anak, kopi, teh, serta makanan ringan. "Makanan siap saji ini kami antarkan langsung ke titik-titik posko pengungsian agar para korban gempa dapat mengonsumsinya secara tepat waktu," kata Dede. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak hanya berhenti pada distribusi, tetapi juga adaptasi terhadap kebutuhan spesifik kelompok rentan.
Selain pangan, Baznas telah mendirikan Posko Layanan Kesehatan Rumah Sehat Baznas (RSB) di Pondok Pesantren Pancasila, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Fasilitas ini menjadi bukti bahwa respons kemanusiaan berjalan paralel dengan upaya pemulihan kesehatan masyarakat. Sementara itu, pemerintah pusat melalui Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan komitmennya untuk mempercepat penanganan darurat dan pemulihan pascagempa. "Sejak hari pertama kejadian kita sudah berada di NTT untuk meninjau lapangan dan membahas percepatan pemulihan," ungkap Pratikno. Kehadiran jajaran menteri dan pimpinan lembaga sejak awal diharapkan mampu memangkas birokrasi dan memastikan bantuan tepat sasaran.
Bagi masyarakat Indonesia, respons cepat Baznas dan pemerintah ini menjadi cermin pentingnya solidaritas sosial dalam menghadapi bencana. Namun, pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana kelanjutan pemulihan jangka panjang, terutama rehabilitasi infrastruktur dan ekonomi warga yang rumahnya hancur. Akankah bantuan pangan dan kesehatan ini diikuti dengan program pemberdayaan yang berkelanjutan, atau hanya menjadi respons sesaat? Pengalaman bencana sebelumnya menunjukkan bahwa fase rekonstruksi sering kali lebih menantang daripada tanggap darurat. Dengan sinergi yang ada, publik menanti langkah konkret berikutnya agar warga Manggarai Timur tidak hanya bertahan, tetapi bangkit kembali.



