Isla Fisher Buka Suara: Sahabat Perempuan Jadi Kunci Bangkit Usai Cerai dari Sacha Baron Cohen
Baca dalam 60 detik
- Aktris Isla Fisher mengungkap peran krusial lingkaran pertemanan perempuannya dalam memulihkan kepercayaan diri pasca perceraian dari Sacha Baron Cohen.
- Proses perceraian yang rampung tahun lalu disebutnya sebagai 'duka yang berbeda', namun ia menemukan kegembiraan dalam membangun identitas baru.
- Fisher menegaskan bahwa hubungan lama yang sempat terpinggirkan kini kembali menjadi pusat kehidupannya, sebuah pelajaran tentang arti dukungan sosial.

Isla Fisher, aktris berusia 50 tahun yang dikenal lewat film-film komedi romantis, mengungkapkan bahwa persahabatan dengan sesama perempuan menjadi penyelamat terbesarnya dalam menghadapi guncangan hidup pasca perceraian dengan Sacha Baron Cohen. Pernyataan ini disampaikan Fisher di tengah promosi film terbarunya, menegaskan bahwa kekuatan sejati justru ditemukannya dari dukungan lingkaran terdekat, bukan dari sorotan publik.
Fisher dan bintang 'Borat' itu mengumumkan perpisahan pada April 2024, dan proses hukum mereka tuntas pada Juni tahun yang sama, setelah menjalani 13 tahun pernikahan dan lebih dari dua dekade kebersamaan. Dalam wawancara dengan E! News, Fisher mengaku, "Saya jauh lebih kuat dari yang saya kira, dan saya harus katakan bahwa persahabatan saya, khususnya dengan sesama perempuan, benar-benar menjadi instrumen penting dalam menemukan kembali kekuatan itu. Saya sangat bersyukur." Pengakuan ini muncul di tengah kesibukannya mempromosikan film komedi 'Spa Weekend', di mana ia beradu peran dengan Leslie Mann, Anna Faris, dan Michelle Buteau.
Dinamika di balik layar 'Spa Weekend' rupanya menjadi ruang pemulihan yang tak terduga bagi Fisher. Ia menuturkan bahwa kekompakan para pemain terbentuk secara alami sejak pembacaan naskah pertama. "Kami semua memiliki chemistry alami, dan kami semua adalah 'girls' girls'. Ada banyak dukungan dan dorongan satu sama lain, dan itu sangat istimewa," ujarnya. Pengalaman ini memperlihatkan bagaimana ikatan profesional dapat bertransformasi menjadi penyangga emosional yang signifikan, terutama di masa-masa sulit.
Lebih jauh, Fisher pernah menyebut perceraian sebagai "duka yang berbeda"—sebuah pengalaman yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah mengalaminya. Namun, di balik kepahitan itu, ia justru menemukan kegembiraan dalam proses membangun ulang jati diri. "Anda bisa merefleksikan nilai dan tujuan, mengeksplorasi minat baru, fokus pada apa yang Anda inginkan, dan membangun kembali rasa diri Anda," tuturnya kepada NewBeauty Magazine. Sikap reflektif ini menunjukkan bahwa krisis justru bisa menjadi pintu untuk transformasi diri yang lebih otentik.
Fisher juga mengakui adanya "banyak hal positif" yang lahir dari perceraian, salah satunya adalah kesempatan untuk terhubung kembali dengan orang-orang yang dulu bukan prioritas utama. "Semua hubungan yang Anda miliki yang tidak selalu menjadi fokus waktu Anda karena Anda menikah... hubungan yang sangat suportif, brilian, dan sering kali sudah lama itu bisa kembali mengambil peran utama. Saya pikir itu hal yang sangat menarik," jelasnya. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya menjaga jejaring sosial di luar ikatan pernikahan, sebuah pelajaran yang relevan bagi banyak orang.
Dalam wawancara dengan Elle Decoration, Fisher menggambarkan proses membangun kehidupan baru sebagai sesuatu yang "menantang tetapi sangat berharga". Ia bahkan mengaku menikmati kesederhanaan hidup barunya: "Saya tidak perlu lagi berpesta di rumah. Saya suka berendam di bak mandi, menyalakan lilin, membawa laptop, dan menonton Netflix. Itu sudah cukup seru." Pernyataan ini menunjukkan pergeseran nilai dari kehidupan sosial yang hingar-bingar menuju ketenangan personal, sebuah refleksi yang mungkin menggema di tengah budaya kerja dan gaya hidup masyarakat urban Indonesia yang kerap mengejar validasi eksternal.
Kisah Fisher mengingatkan bahwa perceraian, meski menyakitkan, dapat menjadi momentum untuk menemukan kembali diri sendiri. Di Indonesia, stigma terhadap perceraian masih cukup kuat, terutama bagi perempuan. Namun, pengalaman Fisher menunjukkan bahwa dukungan sosial—terutama dari sesama perempuan—dan keberanian untuk membangun ulang identitas bisa menjadi kunci pemulihan. Pertanyaannya, akankah masyarakat kita semakin terbuka untuk melihat perceraian sebagai bagian dari perjalanan hidup yang manusiawi, bukan sebagai kegagalan?



