Zelenskyy: Ukraina Hadapi Musim Dingin Tanpa Pembangkit Listrik Tenaga Panas, Rusia Kian Gencar Serang Energi
Baca dalam 60 detik
- Serangan Rusia dalam 24 jam terakhir menewaskan 13 orang di Ukraina, termasuk seorang anak, dan menghancurkan sebagian besar pembangkit listrik tenaga panas.
- Kunjungan pertama Zelenskyy ke Serbia menyoroti tekanan diplomatik untuk menjatuhkan sanksi lebih keras kepada Moskow, sementara Beograd tetap menolak bergabung dengan sanksi Eropa.
- Dengan infrastruktur energi yang hancur, Ukraina meminta lebih banyak sistem pertahanan udara Barat, namun ketergantungan pada sekutu membuat negosiasi damai semakin rumit.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan bahwa negaranya akan menghadapi musim dingin yang sangat berat setelah serangan rudal Rusia pada Sabtu (8/8) menewaskan empat orang di wilayah Kyiv, termasuk seorang anak laki-laki berusia tiga tahun. Dalam kunjungan resmi pertamanya ke Beograd, Zelenskyy menegaskan bahwa pembangkit listrik tenaga panas Ukraina hampir tidak ada yang berfungsi, sehingga pasokan listrik nasional berada di ambang kehancuran menjelang musim pemanasan.
Serangan terbaru Moskow yang dilancarkan pada malam hari itu juga melukai puluhan warga di berbagai wilayah garis depan. Secara keseluruhan, dalam 24 jam terakhir, agresi Rusia telah merenggut 13 nyawa. Zelenskyy, dalam pernyataannya di samping Presiden Serbia Aleksandar Vucic, menegaskan bahwa rudal-rudal Rusia memang diarahkan untuk membuat hidup warga Ukraina tidak tertahankan, dengan fokus utama pada infrastruktur energi. Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa pembangkit listrik tenaga panas merupakan pelengkap penting bagi pembangkit nuklir yang selama ini menjadi tulang punggung jaringan listrik Ukraina.
Lebih dari empat tahun sejak invasi skala penuh Rusia dimulai, kedua negara kini sama-sama meningkatkan serangan jarak jauh. Moskow secara signifikan meningkatkan serangan ke ibu kota Ukraina dalam beberapa bulan terakhir, sering kali menggunakan rudal balistik yang sulit dicegat. Sebagai balasan, Kyiv meluncurkan rekor jumlah drone ke wilayah Rusia. Namun, korban sipil terus berjatuhan, dan Ukraina mendesak Barat untuk memasok lebih banyak sistem pertahanan udara, termasuk Patriot buatan AS.
Dalam kunjungannya ke Serbia, Zelenskyy kembali menyerukan sanksi yang lebih ketat untuk menghentikan aliran komponen rudal ke Rusia dari berbagai benua, termasuk dari negara-negara yang selama ini dianggap mitra dekat Ukraina. "Komponen-komponen ini tiba, dan kemudian rudal menyerang orang-orang, membunuh anak-anak, warga sipil, dan tentara," ujarnya. Ia juga menekankan perlunya akses yang lebih besar ke rudal pencegat untuk menghadapi serangan jarak jauh yang semakin meningkat. Serbia, yang merupakan sekutu lama Rusia, tetap menjadi salah satu dari sedikit negara Eropa yang tidak menjatuhkan sanksi terhadap Moskow.
Presiden Serbia Aleksandar Vucic, yang pemerintahannya terus memasok bantuan non-militer ke Ukraina, menegaskan bahwa kebijakannya tidak berubah meskipun telah membahas perang tersebut. "Kami tidak membahas kerja sama militer hari ini atau saat ini. Apa yang akan terjadi ketika perang berakhir adalah masalah lain," kata Vucic. Kremlin sebelumnya menuduh perusahaan-perusahaan Serbia menjual amunisi ke Ukraina, tuduhan yang berulang kali dibantah oleh Vucic. Meskipun Vucic telah mengunjungi Kyiv dan menjanjikan bantuan, ia menghindari menandatangani deklarasi dukungan formal dalam perang ini.
Kunjungan Zelenskyy ke Beograd terjadi di tengah meningkatnya tekanan diplomatik. Ukraina, yang telah berkeliling dunia mencari dukungan sejak invasi 2022, kini berupaya memperkuat hubungan dengan negara-negara yang masih netral. Namun, sikap Serbia yang hati-hati mencerminkan kompleksitas politik regional, di mana kepentingan ekonomi dan sejarah sering kali berbenturan dengan tuntutan moral.
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi yang tidak langsung namun signifikan. Sebagai negara yang mengimpor gandum dan energi dari kawasan Laut Hitam, gangguan pasokan akibat perang dapat mempengaruhi harga pangan dan energi domestik. Selain itu, posisi Indonesia yang konsisten menyerukan perdamaian dan penghormatan terhadap integritas teritorial sejalan dengan sikap Ukraina, namun Jakarta juga harus menjaga keseimbangan hubungan dengan Rusia. Dengan meningkatnya serangan terhadap infrastruktur energi, dunia menyaksikan bagaimana perang modern tidak hanya menghancurkan militer, tetapi juga kehidupan sipil dan fondasi ekonomi sebuah negara.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah komunitas internasional akan merespons seruan Zelenskyy untuk sanksi yang lebih keras dan bantuan pertahanan yang lebih besar. Tanpa langkah konkret, Ukraina mungkin harus menghadapi musim dingin yang paling kelam sejak invasi dimulai. Dan dengan Serbia yang tetap bertahan di garis netral, solidaritas Eropa terhadap Ukraina akan terus diuji.



