Gelombang Panas Ekstrem Melanda Korea Selatan, Kasus Penyakit Akibat Panas Tembus Rekor
Baca dalam 60 detik
- Suhu di Korea Selatan diprediksi mencapai 37 derajat Celsius, memicu lonjakan kasus gangguan kesehatan akibat panas hingga tiga kali lipat dalam satu dekade terakhir.
- Pemerintah setempat menangguhkan sementara ujian mengemudi di sejumlah wilayah sebagai langkah antisipasi terhadap dampak cuaca ekstrem.
- Fenomena ini menjadi alarm bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia, untuk memperkuat sistem mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Sebagian besar wilayah Korea Selatan tengah dilanda gelombang panas yang memecahkan rekor, dengan suhu siang hari diperkirakan menembus 37 derajat Celsius. Badan meteorologi setempat, Administrasi Meteorologi Korea (KMA), mengeluarkan peringatan dini dan meminta warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Kondisi ini bukan sekadar cuaca ekstrem biasa; data menunjukkan tren peningkatan kasus gangguan kesehatan akibat panas yang mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir.
KMA memperkirakan hujan lebat dengan curah hujan hingga 100 milimeter akan mengguyur wilayah pesisir timur dan pegunungan Provinsi Gangwon pada Sabtu sore. Sementara itu, Seoul dan wilayah tengah diperkirakan menerima hujan hingga 40 milimeter. Meski hujan sempat menurunkan suhu, panas dan kelembapan diprediksi segera kembali, memperpanjang masa kritis ini.
Lonjakan kasus gangguan kesehatan akibat panas menjadi perhatian utama. Berdasarkan data pemerintah, rata-rata 638 kasus dilaporkan setiap tahun selama periode 2021โ2025, hampir tiga kali lipat dibandingkan rata-rata 215 kasus pada 2011โ2015. Pada 2024 saja, tercatat 1.299 orang mengalami gangguan kesehatan dan 12 orang meninggal dunia. Angka-angka ini menggambarkan eskalasi yang tidak bisa dianggap remeh.
Pihak berwenang telah mengambil langkah antisipatif, termasuk mengurangi atau menangguhkan sementara pelaksanaan ujian mengemudi di sejumlah daerah. Langkah ini diambil untuk melindungi warga dari risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh suhu ekstrem, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak.
Fenomena ini tidak hanya menjadi masalah domestik Korea Selatan. Gelombang panas yang semakin intensif di kawasan Asia Timur sejalan dengan tren pemanasan global yang berdampak luas. Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Meski Indonesia beriklim tropis, fenomena suhu ekstrem juga pernah terjadi, seperti gelombang panas yang melanda sejumlah wilayah pada Oktober 2023. Adaptasi infrastruktur dan sistem peringatan dini menjadi krusial untuk melindungi masyarakat.
Para ahli iklim memperkirakan gelombang panas akan berlanjut hingga akhir Agustus, dengan suhu siang hari berkisar 31โ35 derajat Celsius di seluruh negeri. Pola ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang harus dihadapi. Pertanyaannya, seberapa siap negara-negara di kawasan ini, termasuk Indonesia, untuk beradaptasi dengan normalitas baru yang lebih panas?



