Tewasnya Siswi 12 Tahun dalam Penembakan Sekolah di Thailand: 9 Korban Jiwa dan Pertanyaan soal Keamanan Senjata
Baca dalam 60 detik
- Korban tewas penembakan di sekolah Nonthaburi bertambah menjadi sembilan setelah seorang siswi berusia 12 tahun meninggal di rumah sakit.
- Pelaku berusia 14 tahun diduga mengalami stres terkait sekolah dan menggunakan senjata api yang terdaftar atas nama kakeknya.
- Insiden ini memicu kembali perdebatan tentang kepemilikan senjata di Thailand, yang memiliki tingkat kepemilikan sipil tertinggi kedua di Asia.

BANGKOK โ Seorang siswi berusia 12 tahun yang menjadi korban penembakan di sebuah sekolah menengah di Nonthaburi, Thailand, akhirnya meninggal dunia pada Sabtu (8/8), sehingga total korban jiwa dalam insiden tersebut menjadi sembilan orang. Pelaku, seorang siswa berusia 14 tahun, dilaporkan melepaskan tembakan di sekolah dan rumahnya sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya.
Peristiwa berdarah itu terjadi Jumat pagi sekitar pukul 10.00 waktu setempat di Sekolah Debsirin Nonthaburi, yang terletak di barat laut Bangkok. Sebelum menyerang sekolah, pelaku diduga telah membunuh kakek dan neneknya di rumah keluarga. Kementerian Kesehatan Thailand mengonfirmasi bahwa siswi yang meninggal adalah siswa kelas tujuh, dan sekolah sempat mengunggah permintaan donor darah di Facebook untuk dua siswa yang terluka.
Hingga Sabtu, empat belas orang masih dirawat di rumah sakit, dengan tujuh di antaranya dalam kondisi kritis. Sebagian besar korban luka berusia antara 12 hingga 14 tahun. Kepala Institut Kedokteran Forensik Bangkok, Wiroon Supasingsiripreecha, menyatakan bahwa sebagian besar korban meninggal akibat luka tembak tunggal di area vital seperti dada atau kepala. Ia juga mengatakan bahwa luka tembak pada pelaku konsisten dengan senjata yang digunakannya, dan hasil forensik lebih lanjut, termasuk toksikologi, masih menunggu.
Senjata yang digunakan pelaku, yang digambarkan kecil dan ringkas, ternyata terdaftar secara legal atas nama kakeknya. Hal ini kembali menyoroti tingginya angka kepemilikan senjata di Thailand, yang menurut data Small Arms Survey dan GunPolicy.org tahun 2017 mencapai 15,1 senjata per 100 penduduk โ jauh lebih tinggi dibandingkan Malaysia yang kurang dari satu per 100. Angka kematian akibat senjata api di Thailand mencapai 3,49 per 100.000 orang pada 2023, tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Filipina.
Insiden ini bukan yang pertama. Pada Februari lalu, seorang remaja berusia 17 tahun mencuri senjata dari polisi dan menembaki sebuah sekolah di Thailand selatan, menewaskan satu orang. Pada 2023, seorang anak berusia 14 tahun juga dituduh melakukan penembakan di pusat perbelanjaan besar di Bangkok. Meskipun penembakan massal tidak umum, tren kekerasan bersenjata di kalangan remaja mulai mengkhawatirkan.
Sejumlah warga dan orang tua murid terlihat membawa bunga ke gerbang sekolah pada Sabtu pagi. Charin Siriananchai, yang membawa kedua putranya yang masih kecil, mengaku terkejut dan berduka. โSemua orang sedih dan terkejut, karena ini tidak terduga terjadi di Thailand, dan ini kehilangan yang besar,โ ujarnya. Seorang ayah yang enggan disebutkan namanya mengatakan putranya yang berada di sekolah saat kejadian masih mengalami trauma dan tidak bisa tidur sendiri.
Sekolah, yang memiliki sekitar 3.000 siswa berusia 12โ18 tahun, mengumumkan penutupan sementara pada 10โ14 Agustus dan meminta staf bekerja dari rumah. Pihak berwenang masih menyelidiki motif pelaku, yang menurut laporan menunjukkan tanda-tanda stres terkait sekolah, meskipun kerabatnya mengaku tidak mengetahui masalah yang dihadapinya.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya pengendalian kepemilikan senjata dan perhatian pada kesehatan mental remaja. Meskipun kepemilikan senjata di Indonesia jauh lebih rendah, kasus kekerasan di sekolah dan tekanan akademik yang dialami pelajar juga menjadi perhatian. Apakah sistem pendidikan dan pengawasan senjata di kawasan ini cukup kuat untuk mencegah tragedi serupa?



