FIFA Bantah Tuduhan Terhadap Infantino di Tengah Krisis Kepemimpinan
Baca dalam 60 detik
- FIFA mengecam keras pemberitaan yang dianggap tidak berdasar terkait presidennya, Gianni Infantino, sebagai upaya sistematis untuk melemahkan otoritasnya.
- Kontroversi muncul setelah rencana investasi swasta untuk Piala Dunia dibatalkan, memicu ketegangan dengan UEFA yang mengancam boikot.
- Menjelang pemilihan presiden Maret mendatang, Infantino menghadapi tekanan dari berbagai pihak, sementara FIFA menegaskan komitmennya pada proses demokrasi internal.

FIFA akhirnya angkat bicara. Dalam pernyataan resmi yang dirilis Sabtu (8/8), induk organisasi sepak bola dunia itu mengecam keras apa yang mereka sebut sebagai "upaya terkoordinasi dan berkelanjutan" untuk merongrong institusi serta posisi presidennya, Gianni Infantino. Sikap ini muncul di tengah gelombang kritik yang menerpa Infantino, termasuk tudingan dari media Inggris yang menyebutnya pernah membayar sejumlah uang kepada mantan kekasihnya saat masih menjabat di UEFA.
Krisis yang membelit Infantino sejatinya sudah memanas sejak akhir Juli lalu. Saat itu, ia mengumumkan rencana kontroversial untuk membuka investasi swasta dalam penyelenggaraan Piala Dunia. Rencana tersebut sontak memicu penolakan luas, terutama dari UEFA, yang bahkan mengancam akan memboikot turnamen. Meski akhirnya rencana itu dibatalkan, UEFA menilai pencabutan tersebut tidak cukup dan tetap pada pendiriannya untuk memboikot.
Di tengah tekanan itu, The Telegraph pada Jumat (7/8) melaporkan bahwa Infantino, yang pernah menjabat Sekretaris Jenderal UEFA periode 2009-2016, diduga menggunakan pengaruhnya untuk mempromosikan seorang karyawan UEFA yang menjalin hubungan intim dengannya. Kabar tersebut juga menyebutkan bahwa karyawan itu menerima uang dengan jumlah enam digit saat keluar, ditambah biaya kuliah sekolah bisnis sekitar ยฃ45.000 atau setara US$60.700. UEFA sendiri, saat dikonfirmasi AFP, mengakui bahwa pembayaran pesangon memang dilakukan, termasuk biaya program MBA di sekolah bisnis setempat.
Menanggapi berbagai tudingan tersebut, FIFA menegaskan bahwa mereka menyambut baik pengawasan yang sah, tetapi mengingatkan bahwa pengawasan bukanlah lisensi untuk memutarbalikkan fakta atau memproduksi distraksi. "Di mana pemberitaan tidak akurat atau menyesatkan, FIFA akan menantangnya secara langsung dan tegas," demikian bunyi pernyataan yang diunggah di media sosial itu. FIFA juga menegaskan tidak akan mentoleransi proses pemilihan presiden yang tidak sesuai dengan statuta dan tata kelola yang berlaku.
Pernyataan FIFA ini juga menyiratkan pesan kepada pihak-pihak yang dinilai mencoba memanfaatkan situasi. "Mereka yang tidak memiliki dukungan dari asosiasi anggota FIFA seharusnya tidak berusaha mencapai tujuan melalui tuduhan, sindiran, atau misinformasi, yang tidak akan mereka dapatkan melalui proses demokrasi yang telah ditetapkan," tambah pernyataan tersebut. Infantino sendiri dijadwalkan kembali mencalonkan diri pada pemilihan presiden Maret mendatang.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, dinamika ini menarik dicermati. Pasalnya, FIFA dan UEFA adalah dua kekuatan besar yang kerap bersitegang, dan hasil dari konflik ini bisa berdampak pada kebijakan sepak bola global, termasuk di Asia. Indonesia, yang tengah giat membenahi sepak bola nasional, tentu berharap stabilitas di tubuh FIFA tetap terjaga agar program pengembangan yang sedang berjalan tidak terganggu.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Infantino mampu bertahan menghadapi gempuran ini. Dengan dukungan dari banyak asosiasi anggota di luar Eropa, ia mungkin masih memiliki peluang besar untuk terpilih kembali. Namun, jika tudingan-tudingan tersebut terus bergulir dan semakin banyak bukti yang terungkap, tekanan publik bisa semakin kuat. Apakah FIFA akan mampu menjaga independensinya di tengah badai ini, atau justru semakin terpuruk dalam pusaran kontroversi? Waktu yang akan menjawab.



