Tragedi Sekolah di Thailand: Pelajar 14 Tahun Tembak Kakek-Nenek Lalu Amuk di Kelas, 7 Tewas
Baca dalam 60 detik
- Seorang siswa di Nonthaburi, Thailand, menembak mati kakek-neneknya sebelum melukai 23 orang dan mengakhiri hidupnya di sekolah, memicu evaluasi regulasi senjata.
- Perdana Menteri Thailand berjanji mengajukan undang-undang baru untuk membatasi kepemilikan senjata, menyusul insiden yang menambah daftar panjang kekerasan bersenjata di negara itu.
- Peristiwa ini menjadi pengingat bagi Indonesia untuk memperketat pengawasan senjata api ilegal dan memperkuat deteksi dini masalah kesehatan mental di kalangan remaja.

Seorang remaja berusia 14 tahun di Thailand menewaskan tujuh orang, termasuk kakek dan neneknya sendiri, dalam penembakan di sekolah menengah di Nonthaburi, dekat Bangkok, Jumat pagi (7/8). Pelaku yang masih berstatus pelajar itu kemudian menembak dirinya sendiri dan tewas di rumah sakit, menjadikan insiden ini sebagai aksi kekerasan bersenjata terburuk di Thailand sejak 2022.
Kronologi bermula sekitar pukul 05.00 waktu setempat, ketika pelaku menembak kakek dan neneknya di kediaman mereka yang berada di kawasan pinggiran Bangkok. Menurut Kepala Polisi Bang Bua Thong, Kolonel Thadsakorn Konthong, kedua korban tewas dengan satu tembakan di kepala. Senjata yang digunakan diduga milik sang kakek, dan polisi menemukan tanda-tanda pelaku sempat mencari senjata tersebut di kamar sang kakek. Setelah itu, pelaku naik ke mobil antar-jemput sekolah yang datang menjemputnya, membawa senjata dan puluhan butir peluru.
Sekitar pukul 09.30, saat pelajaran kedua berlangsung, pelaku mengeluarkan senjata dan mulai menembak di lantai enam gedung sekolah. Tiga guru tewas, termasuk seorang guru bahasa Thailand yang tertembak di bagian mata. Pelaku kemudian berjalan menyusuri koridor sambil menembaki siswa, dan menewaskan wakil kepala sekolah serta sekretaris kepala sekolah yang sedang menaiki tangga untuk memeriksa situasi. Polisi menerima laporan penembakan pada pukul 09.57 dan tiba di lokasi tak lama kemudian. Suasana kacau; sejumlah siswa mengira suara tembakan adalah petasan, sementara yang lain berlarian tanpa alas kaki sambil membawa ponsel dan kertas.
Petugas darurat, Kiatikhun Verapongpradith, menuturkan bahwa timnya kesulitan mengevakuasi korban karena belum mengetahui jenis senjata yang digunakan pelaku. Polisi akhirnya membersihkan gedung lantai demi lantai dan menemukan pelaku di lantai empat dalam kondisi terluka parah akibat tembakan sendiri. Ia sempat diberikan CPR dan dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tak tertolong. Total, pelaku melepaskan setidaknya 26 tembakan dan masih membawa 34 butir peluru saat ditemukan.
Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, yang mengunjungi lokasi kejadian, mengungkapkan bahwa pelaku diduga stres karena tekanan akademis. "Tindakannya terencana," ujarnya. Polisi juga menemukan bahwa pelaku, yang dikenal pendiam dan cenderung menyendiri, sering bermain game menembak hingga larut malam dan mengikuti les tambahan di akhir pekan. Sebelumnya, ia sempat mengunggah foto senjata kakeknya yang memiliki izin resmi.
Insiden ini kembali memicu perdebatan tentang regulasi senjata di Thailand, negara dengan kepemilikan senjata per kapita tertinggi di Asia Tenggara. Anutin, yang pernah memperketat aturan senjata saat menjabat Menteri Dalam Negeri, berjanji akan mengusulkan undang-undang baru yang lebih membatasi hak membawa senjata api oleh publik. "Kita harus menciptakan suasana aman," tegasnya.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi alarm akan pentingnya pengawasan senjata api ilegal dan deteksi dini masalah kesehatan mental di kalangan remaja. Meski kepemilikan senjata di Indonesia lebih ketat, kasus kekerasan dengan senjata tajam atau senjata rakitan masih terjadi. Penguatan peran sekolah dan keluarga dalam memantau kondisi psikologis siswa, serta penegakan hukum yang tegas terhadap peredaran senjata ilegal, menjadi langkah krusial untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di tanah air.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Thailand mampu benar-benar mengetatkan regulasi senjatanya di tengah kuatnya budaya kepemilikan senjata, dan apakah langkah serupa akan diadopsi negara-negara tetangga untuk mencegah meluasnya kekerasan bersenjata di kawasan.



