Enam Petugas Kesehatan di Nepal Timur Diserang dan Rumah Sakit Dirusak Massa
Baca dalam 60 detik
- Serangan berlapis di Palata Hospital, Kalikot, menargetkan enam tenaga medis hingga memicu penjagaan ketat polisi.
- Akar masalah dipicu sengketa sewa rumah dan larangan anak bermain game di area rumah sakit.
- Empat orang ditahan, termasuk anak di bawah umur; otoritas kesehatan menuntut proses hukum tegas.

Enam petugas kesehatan, termasuk seorang dokter, menjadi korban kekerasan di Palata Hospital, Thirpu, Kalikot, Nepal, Jumat lalu. Insiden yang dipicu oleh perselisihan sepele ini berujung pada perusakan fasilitas medis dan memaksa polisi berjaga semalaman di lokasi.
Menurut administrator rumah sakit, Janmarishi Neupane, kekerasan terjadi dua gelombang. Pada siang hari, sekelompok orang menyerang dokter, perawat, dan satpam setelah staf melarang anak-anak bermain gim video di area rumah sakit karena mengganggu pasien. Tak puas, kelompok yang sama kembali pada malam hari, merusak fasilitas, dan melukai tiga staf lainnya.
Korban siang hari adalah Dr. Ali Haider Rain, perawat Shanta Giri, dan satpam Gajendra Bam. Sementara pada malam hari, bidan Usha Shahi, tenaga kesehatan Bishnu Rokaya, dan satpam Darn Damai menjadi sasaran. "Mereka menyerang dokter dan lainnya pada siang hari, lalu kembali malam hari dan menyerang tiga orang lagi," ujar Neupane. Polisi dari Kantor Polisi Distrik Kalikot langsung mengamankan lokasi setelah serangan kedua.
Ketegangan ini berakar dari konflik antara staf rumah sakit dan mantan tuan tanah mereka. Dr. Rain menjelaskan, para pekerja sebelumnya menyewa kamar di rumah Sushil Kumar dan Maina Bam. Seminggu sebelum insiden, mereka pindah ke fasilitas staf rumah sakit atas keputusan komite manajemen. Sejak itu, tuan tanah diduga kerap melontarkan makian dan penghinaan. "Mereka marah karena kami pindah," kata Rain.
Peristiwa Jumat berawal ketika dua anak Maina datang ke halaman rumah sakit saat staf sedang merawat pasien dari Bajura. Mereka bermain gim dan mengganggu ketenangan. Satpam meminta mereka berhenti, namun ditolak. Saat perawat Giri menegur, ibu dan anak itu menyerangnya. Rain yang mencoba melerai pun ikut diserang. "Dia bilang tanah itu milik mereka dan anak-anak boleh bermain di sana," ungkap Rain. Giri menambahkan, serangan itu merupakan bentuk dendam karena mereka pindah ke rumah dinas.
Kepala Polisi Distrik Kalikot, Him Bahadur Khatri, membenarkan penahanan empat orang, termasuk Maina Bam (32), suaminya Sushil Kumar Bam, Tapendra Bam, dan anak Maina yang masih di bawah umur. "Perselisihan kecil meningkat menjadi penyerangan dan perusakan," katanya. Namun, Sushil membantah tudingan tersebut dan menuduh Dr. Rain memukul anaknya saat mencoba memisahkan mereka.
Pejabat Dinas Kesehatan Distrik, Katak Mahat, mengecam keras aksi tersebut. "Menyerang dokter dan petugas kesehatan yang mengabdi di daerah terpencil adalah intimidasi," tegasnya. Mahat juga mengungkapkan bahwa insiden serupa pernah terjadi tahun lalu, ketika seorang warga menyerang kepala rumah sakit sebelumnya. Ia mendesak agar para pelaku diproses hukum.
Ketua Palata Rural Municipality, Bishnu Bahadur Rokaya, menyayangkan kekerasan yang dipicu hal sepele. Para petugas kesehatan di Kalikot pun mendesak investigasi menyeluruh. Insiden ini menyoroti kerentanan tenaga medis di daerah terpencil, yang sering kali menjadi sasaran kemarahan warga akibat kesalahpahaman atau konflik pribadi. Di Indonesia, kasus serupa juga pernah terjadi di sejumlah daerah, menimbulkan pertanyaan tentang perlindungan hukum dan keamanan bagi tenaga kesehatan di lapangan.
Ke depan, akankah otoritas Nepal memperketat sanksi bagi pelaku kekerasan terhadap petugas kesehatan? Atau akankah insiden ini menjadi pengingat bahwa fasilitas kesehatan harus menjadi zona aman, bebas dari intervensi dan ancaman siapa pun?



