Aljazair dan Maroko Pastikan Tiket ke Piala Dunia Wanita 2025, Indonesia Bisa Belajar dari Afrika
Baca dalam 60 detik
- Aljazair dan Maroko lolos ke Piala Dunia Wanita 2025 usai menang di perempat final Piala Afrika, menandai debut bagi Aljazair dan kali kedua bagi Maroko.
- Kesuksesan Afrika Utara ini menunjukkan perkembangan pesat sepak bola wanita di kawasan tersebut, dengan infrastruktur dan pembinaan yang menjadi kunci.
- Bagi Indonesia, prestasi ini menjadi momentum untuk merefleksikan pengembangan sepak bola putri yang masih tertinggal dan membutuhkan perhatian serius.

Aljazair dan Maroko memastikan diri melaju ke putaran final Piala Dunia Wanita 2025 yang akan digelar di Brasil, setelah keduanya meraih kemenangan di babak perempat final Piala Afrika Wanita (WAFCON) pada Sabtu lalu. Ini merupakan kali pertama bagi Aljazair, sementara Maroko kembali tampil setelah debut mereka di edisi 2023.
Di Casablanca, Aljazair menaklukkan Pantai Gading dengan skor 2-1 meski sempat tertinggal lebih dulu. Gol balasan dicetak oleh Ines Khiri dan Amira Ould Braham di babak kedua. Kemenangan ini terasa dramatis karena Pantai Gading harus bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-41 setelah Nsira Ouedraogo diusir wasit akibat mengayunkan kaki ke wajah kiper Aljazair, Chloe N'Gazi. Pantai Gading juga gagal memanfaatkan penalti di babak kedua setelah tendangan Rebecca Elloh membentur tiang.
Sementara itu, Maroko menang tipis 2-1 atas Afrika Selatan di Rabat. Gol dari Sakina Ouzraoui dan penalti Hanane Ait El Haj membawa Maroko unggul 2-0, namun Thembi Kgatlana memperkecil kedudukan di pertengahan babak kedua. Meski sempat tertekan, Maroko berhasil mempertahankan keunggulan dan mengamankan tiket ke Brasil.
Kesuksesan Aljazair dan Maroko menjadi bukti nyata kebangkitan sepak bola wanita di Afrika Utara. Maroko, yang menjadi tuan rumah WAFCON tahun ini, telah menunjukkan progres signifikan dengan infrastruktur dan pembinaan usia muda yang serius. Aljazair, yang sebelumnya jarang terdengar di kancah internasional, kini mencatat sejarah dengan lolos untuk pertama kalinya. Kedua negara ini menjadi contoh bagaimana investasi jangka panjang pada sepak bola wanita dapat membuahkan hasil.
Bagi Indonesia, pencapaian ini layak dijadikan bahan refleksi. Sepak bola putri Indonesia masih jauh tertinggal, baik dari segi kompetisi, pembinaan, maupun dukungan finansial. Padahal, potensi pemain putri Indonesia tidak kalah dengan negara-negara Afrika yang kini bersaing di level tertinggi. Jika Aljazair dan Maroko bisa melaju ke Piala Dunia, bukan tidak mungkin Indonesia suatu saat menyusul, asalkan ada kemauan politik dan investasi yang serius dari semua pemangku kepentingan.
Langkah berikutnya, Maroko akan menghadapi pemenang laga Kamerun vs Nigeria, sementara Aljazair menunggu pemenang Ghana vs Malawi. Di sisi lain, Pantai Gading dan Afrika Selatan masih berpeluang lolos melalui jalur play-off antar-konfederasi yang menyediakan tiga tiket tambahan. Dengan persaingan yang semakin ketat, sepak bola wanita Afrika dipastikan akan menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan di Brasil nanti. Pertanyaannya, kapan Indonesia mulai serius meniru jejak mereka?



