Polisi Malaysia Lacak Oknum Staf KLIA yang Diduga Komplotan Kopilot Kurir 26 Kg Ekstasi
Baca dalam 60 detik
- Penyelidikan PDRM mengarah pada keterlibatan petugas pemeriksaan bandara yang diduga melancarkan perjalanan narkoba kopilot MSO.
- Tersangka diduga mengambil ekstasi dari apartemen Ampang dan menitipkan bagasi di KLIA sebelum terbang ke Kinabalu.
- Polisi Malaysia menunggu data dari Indonesia untuk memperluas penangkapan ke jaringan internasional.

Kepolisian Malaysia (PDRM) mengidentifikasi seorang staf Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) yang diduga terlibat dalam penyelundupan 26 kilogram ekstasi yang dibawa kopilot asal Malaysia, MSO, ke Indonesia. Individu tersebut kini menjadi target pemeriksaan intensif, dan jika terbukti bersalah, penangkapan akan segera dilakukan.
Direktur Departemen Investigasi Kriminal Narkotika (NCID) Bukit Aman, Datuk Hussein Omar Khan, mengungkapkan bahwa oknum staf tersebut termasuk di antara petugas yang bertugas di area pemeriksaan KLIA. "Kami akan menggali keterangannya, dan jika terbukti, kami akan melakukan penangkapan," ujarnya di Kuala Lumpur, Selasa. Langkah ini membuka dimensi baru dalam kasus yang sebelumnya berfokus pada aksi individu MSO.
Kronologi yang terungkap menunjukkan pola operasi yang terorganisir. MSO diduga memperoleh narkoba dari sebuah apartemen di Ampang, Malaysia, pada pagi hari. Ia kemudian menitipkan bagasi berisi ekstasi di KLIA sebelum terbang ke Kota Kinabalu. Setelah itu, ia kembali ke Kuala Lumpur, mengambil koper tersebut, dan terbang ke Jakarta dengan membawa barang haram itu.
Kasus ini tidak hanya menyoroti lemahnya pengawasan di bandara, tetapi juga mengindikasikan adanya jaringan yang lebih luas. Keterlibatan petugas KLIA menunjukkan bahwa penyelundupan narkoba skala besar sering kali memanfaatkan celah internal. Bagi Indonesia, temuan ini menjadi peringatan akan pentingnya memperketat koordinasi intelijen dengan negara tetangga, terutama dalam pertukaran data penumpang dan kargo.
Hussein menegaskan bahwa pihaknya masih menunggu informasi dari Kepolisian Republik Indonesia untuk mengirim personel ke Jakarta. Kerja sama lintas negara ini krusial untuk mengungkap aktor lain yang mungkin terlibat, termasuk jaringan pemasok di Malaysia dan penerima di Indonesia. Sebelumnya, Kementerian Perhubungan RI juga telah berkoordinasi dengan otoritas Malaysia mengenai sanksi bagi pilot yang terlibat.
"Individu tersebut termasuk di antara staf yang terlibat dalam pemeriksaan di KLIA," kata Hussein, mengindikasikan bahwa penyelidikan tidak berhenti pada MSO.
Modus yang digunakan MSO—terbang ke Kinabalu lalu kembali untuk mengambil bagasi—menunjukkan upaya untuk mengelabui petugas. Namun, keberhasilan Bea Cukai RI menggagalkan aksinya menjadi bukti bahwa pengawasan di sisi Indonesia cukup ketat. Pertanyaannya, apakah bandara lain di Indonesia memiliki tingkat kewaspadaan yang sama? Koordinasi antara maskapai, otoritas bandara, dan bea cukai perlu dievaluasi untuk mencegah modus serupa.
Ke depan, kasus ini berpotensi memicu audit menyeluruh terhadap prosedur keamanan di KLIA dan bandara-bandara utama di Asia Tenggara. Jika keterlibatan staf terbukti, Malaysia harus memperketat rekrutmen dan pengawasan internal. Sementara itu, Indonesia dapat mendorong perjanjian ekstradisi yang lebih efektif untuk memastikan para pelaku, termasuk yang berada di luar negeri, dapat diadili. Apakah kasus ini akan menjadi titik balik dalam pemberantasan narkoba di kawasan? Semua mata tertuju pada perkembangan penyelidikan.



