Boycott terhadap American Diabetes Association Meluas, Jurnal Ilmiah pun Terdampak
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 400 peneliti dan profesional diabetes menandatangani seruan boikot terhadap American Diabetes Association (ADA) buntut pengusiran lima ilmuwan dari konferensi ilmiah tahunan.
- Kontroversi memuncak setelah ADA merilis temuan awal yang dianggap tidak independen, memicu penangguhan aktivitas editorial jurnal Diabetes Care dan ancaman eksodus komunitas riset.
- Jika tuntutan tidak dipenuhi, para pengkritik berpotensi beralih ke organisasi profesi alternatif, yang dapat menggeser lanskap riset diabetes global dan memengaruhi arah kebijakan kesehatan di banyak negara, termasuk Indonesia.

Sejumlah peneliti, klinisi, dan anggota profesional di bidang diabetes menggalang boikot terhadap American Diabetes Association (ADA) menyusul pengusiran lima ilmuwan dari ajang Scientific Sessions pada Juni 2026. Hingga Jumat, 11 September, lebih dari 400 orang—termasuk mantan presiden ADA, penerima penghargaan, editor jurnal, dan penyandang diabetes—telah menandatangani seruan tersebut, menurut laporan MedPage Today.
Pemicu utama adalah insiden di New Orleans pada 5 Juni 2026, ketika Steven Kahn, Maureen Gannon, Aaron Kelly, Justin Ryder, dan Desmond Schatz dikawal keluar dari ruang konferensi setelah membagikan salinan editorial jurnal Diabetes Care. Editorial itu mengkritik pemotongan dana National Institutes of Health (NIH) dan apa yang penulisnya sebut sebagai campur tangan pemerintah dalam riset medis.
CEO ADA, Charles Henderson, sempat menyampaikan permintaan maaf dan menjanjikan tinjauan independen. Namun, kesimpulan yang dirilis pada 1 September 2026 justru memperlebar jurang. Komite Audit dan Tata Kelola ADA menyatakan kelima peneliti dikeluarkan karena perilaku yang mengganggu jalannya acara, bukan karena isi materi yang mereka bagikan. ADA juga menegaskan petugas keamanan bertindak sesuai prosedur, meski mereka mengenakan seragam polisi New Orleans—yang menurut ADA adalah personel kontraktor, bukan aparat kepolisian.
Yang membuat situasi kian rumit, ADA menerbitkan pernyataan kedua pada 6 September yang mengakui temuan awal belum mempertimbangkan "kedalaman dan keluasan" investigasi. Laporan final dijadwalkan diserahkan ke dewan ADA dalam beberapa pekan mendatang. Namun, bagi para pengkritik, mundurnya ADA hanya memperkuat anggapan bahwa proses internal tidak transparan dan tidak dapat dipercaya.
Boikot ini tidak sekadar simbolis. Para pendukungnya berkomitmen menangguhkan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan ADA, mulai dari menghadiri pertemuan pimpinan dan dewan—termasuk Scientific Sessions 2027—menghadiri acara yang digelar ADA, meninjau hibah, mengirim manuskrip, mengelola jurnal, hingga berkontribusi pada pernyataan posisi. Mereka menuntut dewan ADA mengizinkan tinjauan formal atas struktur dan fungsi organisasi, dipimpin oleh akademisi independen, agar keanggotaan profesional terwakili secara layak.
"Kami tetap berkomitmen pada misi ADA untuk meningkatkan kehidupan penyandang diabetes, tetapi reformasi struktural yang bermakna diperlukan sebelum kami dapat berpartisipasi kembali," demikian bunyi surat para penggagas boikot.
Dampak paling langsung terasa pada Diabetes Care, jurnal unggulan ADA. Steven Kahn, yang juga editor-in-chief jurnal tersebut, menyatakan pada 10 September bahwa dewan editor menandatangani boikot dan untuk sementara tidak akan menjalankan tugas editorial. Ia mengklaim jurnal tidak menerima naskah baru. Namun, ADA membantah dan menyatakan proses publikasi berjalan normal. Kahn sebelumnya mengungkapkan bahwa pemberitahuan penangguhan di halaman pengajuan naskah telah dihapus oleh pihak ADA—sebuah detail yang menambah lapisan sengketa.
Bagi komunitas riset global, khususnya di Indonesia, gejolak ini bukan perkara jauh. Banyak peneliti dan dokter spesialis endokrinologi di Tanah Air yang rutin merujuk pedoman ADA dan mempublikasikan temuan klinis di jurnal-jurnal terafiliasi. Jika Diabetes Care benar-benar menghentikan sementara proses review, peneliti Indonesia yang tengah mengejar publikasi untuk kenaikan jabatan akademik atau pendanaan hibah bisa terdampak langsung. Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan ADA—yang selama ini menjadi acuan standar perawatan diabetes—berpotensi memengaruhi pembaruan protokol klinis di rumah sakit dan fasilitas kesehatan primer.
Di sisi lain, krisis ini menyoroti isu tata kelola organisasi kesehatan nirlaba berskala besar. Ketika lembaga yang seharusnya menjadi rujukan ilmiah justru tersandung konflik internal, kepercayaan publik terhadap rekomendasi medisnya bisa tergerus. Di Indonesia, di mana prevalensi diabetes terus meningkat dan akses terhadap edukasi kesehatan masih timpang, kredibilitas sumber rujukan menjadi taruhan. Organisasi profesi seperti Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) mungkin perlu memperkuat kemitraan dengan lembaga riset alternatif agar tidak bergantung pada satu otoritas global.
ADA sendiri menyatakan tetap fokus pada misinya. "American Diabetes Association adalah organisasi kesehatan sukarela terkemuka yang berjuang mengakhiri diabetes dan membantu orang hidup lebih baik. Saat tinjauan berlanjut, kami tetap fokus melayani jutaan orang yang mengandalkan kami," ujar juru bicara ADA. Namun, pernyataan itu belum menjawab tuntutan inti: independensi dan akuntabilitas.
Jika dalam beberapa pekan ke depan dewan ADA tidak mengabulkan permintaan boikot, bukan tidak mungkin para peneliti dan klinisi akan beralih ke organisasi profesi lain yang menaungi bidang diabetes, endokrinologi, obesitas, dan metabolisme. Skenario itu bisa memecah komunitas ilmiah, mempersulit konsensus global, dan pada akhirnya memperlambat inovasi terapi yang dinanti jutaan penyandang diabetes. Akankah ADA mampu memulihkan kepercayaan sebelum gelombang eksodus benar-benar terjadi?



