Sterilisasi Monyet di Singapura: Strategi Humanis Atasi Konflik Manusia-Satwa
Baca dalam 60 detik
- Otoritas taman nasional Singapura memulai program sterilisasi monyet ekor panjang di Maju Forest untuk menekan populasi dan mengurangi gangguan ke pemukiman.
- Berbeda dengan pemusnahan, metode ini menjaga struktur sosial kelompok monyet, namun para ahli mengingatkan perlunya habitat yang memadai dan patroli konsisten.
- Keberhasilan program di Hong Kong, yang menurunkan angka kelahiran secara signifikan, menjadi acuan bagi Singapura dalam mengelola populasi monyet secara berkelanjutan.

Otoritas taman nasional Singapura (NParks) mulai mensterilkan monyet ekor panjang di kawasan hutan Maju Forest sejak Juni lalu. Langkah ini diambil setelah warga sekitar kerap melaporkan satwa liar tersebut masuk ke rumah-rumah di sepanjang Sunset Way, Clementi Road, dan Clementi Avenue 4.
Program ini merupakan bagian dari pendekatan terpadu yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pengurangan sumber makanan manusia, edukasi warga, serta patroli pengusiran monyet. How Choon Beng, direktur kelompok pengelolaan satwa liar NParks, menegaskan bahwa upaya penegakan hukum juga dilakukan untuk mencegah pemberian makan ilegal yang kerap memicu kedatangan monyet.
Data pemerintah Singapura menunjukkan bahwa antara 2017 hingga 2022, terdapat sekitar 2.500 laporan terkait monyet setiap tahunnya, meningkat 35 persen dibanding dekade sebelumnya. Angka ini menggarisbawahi urgensi penanganan konflik manusia-satwa di negara kota tersebut.
Berbeda dengan metode pemusnahan, sterilisasi tidak memecah kelompok sosial monyet. Sebagian besar individu yang disterilisasi dikembalikan ke habitat aslinya, sehingga struktur kelompok tetap utuh sementara angka kelahiran secara bertahap menurun. Di Maju Forest, NParks telah memasang kandang jebak yang terletak sekitar dua menit berjalan kaki dari jalan utama.
Para ahli dan pegiat satwa menyambut baik langkah ini, namun mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pengendalian populasi. Andie Ang, primatologis yang juga memimpin Raffles' Banded Langur Working Group, menekankan pentingnya memastikan ketersediaan habitat yang cukup bagi spesies asli serta konsistensi patroli di daerah rawan. Ia juga merekomendasikan diadakannya pertemuan dengan warga untuk menjelaskan tata cara berinteraksi dengan monyet dan tujuan program sterilisasi.
Animal Concerns Research and Education Society (ACRES) menyoroti risiko fragmentasi kelompok monyet akibat sterilisasi atau pembangunan. Kalaivanan Balakrishnan, CEO ACRES, menjelaskan bahwa dalam konteks perkotaan Singapura, monyet yang terpisah dari kelompoknya bisa terdampar di tengah kota. "Di alam liar perkotaan kami, situasinya berbeda karena begitu mereka pergi, mereka akan terdampar di tengah kota," ujarnya.
Warga sekitar Maju Forest mengaku kerap melihat monyet, kadang dalam kelompok, hingga tiga kali seminggu. Meski tidak semua mengalami gangguan langsung, sebagian telah mengambil langkah antisipasi seperti menutup jendela dan tidak meninggalkan makanan di teras. Susan Kwan, salah satu warga, menuturkan bahwa monyet pernah masuk ke patio dan mengambil makanan yang tersisa. Warga lain melaporkan monyet sempat berkeliaran di area penyimpanan supermarket Cold Storage.
Kekhawatiran juga muncul mengenai arah perpindahan monyet ketika proyek pembangunan ulang di kawasan tersebut dimulai. Pengalaman di Punggol, yang menjadi titik rawan pertemuan dengan monyet, menjadi pelajaran berharga. Di sana, NParks memulai sterilisasi pada akhir 2023 setelah survei populasi dan pemodelan ilmiah. Sekitar 50 monyet berhasil ditangkap pada 2024, sebagian besar disterilisasi dan dikembalikan ke habitatnya.
Balakrishnan menilai sterilisasi sebagai salah satu cara paling manusiawi dalam mengelola populasi, sesuatu yang telah lama diperjuangkan ACRES. Ia menekankan bahwa tindakan sekarang dapat mengurangi konflik di masa depan, mengingat Clementi berpotensi menghadapi tantangan serupa dengan Punggol. "Penduduk baru akan pindah, dan monyet-monyet ini tiba-tiba akan terusir," katanya.
Meskipun NParks belum merilis data dampak sterilisasi terhadap populasi monyet di Singapura, pengalaman Hong Kong memberikan gambaran efektivitas metode ini. Sebuah studi menunjukkan bahwa dalam tiga tahun, proporsi monyet betina yang melahirkan turun dari 59 persen menjadi 31 persen, dan setelah itu angka kelahiran serta populasi tetap stabil. Para peneliti memperkirakan Hong Kong perlu terus mensterilkan sekitar 80 hingga 100 monyet per tahun untuk mencegah pertumbuhan populasi.
Bagi Indonesia, kisah Singapura ini relevan mengingat banyak wilayah di tanah air juga menghadapi konflik serupa dengan monyet ekor panjang, terutama di area perkotaan yang berbatasan dengan hutan. Pendekatan sterilisasi yang humanis dan berbasis ilmiah dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengelola taman nasional dan pemerintah daerah. Namun, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada kesadaran masyarakat untuk tidak memberi makan satwa liar dan menjaga kebersihan lingkungan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Singapura mampu meniru keberhasilan Hong Kong dalam menstabilkan populasi monyet tanpa mengorbankan kesejahteraan satwa. Dengan koordinasi yang matang antara otoritas, akademisi, dan warga, bukan tidak mungkin model ini menjadi rujukan bagi pengelolaan konflik satwa liar di kawasan Asia Tenggara.



