Tottenham Bayar Rp600 Miliar untuk Tel, tapi Madueke Gratis Kini Bersinar di Arsenal
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur mengeluarkan dana besar untuk Mathys Tel, namun performanya di Liga Inggris belum menunjukkan hasil memuaskan.
- Noni Madueke, yang meninggalkan akademi Spurs secara gratis pada 2018, kini menjadi andalan Arsenal dan timnas Inggris.
- Keputusan Spurs melepas Madueke menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya jalur pengembangan pemain muda di klub elit.

Tottenham Hotspur kembali menuai sorotan setelah keputusan mereka mengakuisisi Mathys Tel dari Bayern Munich dengan harga £30 juta (sekitar Rp600 miliar) pada musim panas 2025 dinilai belum membuahkan hasil. Sementara itu, Noni Madueke—pemain yang mereka lepas secara gratis pada 2018—kini bersinar bersama Arsenal dan tim nasional Inggris. Kontras ini menjadi bahan perdebatan di kalangan pengamat sepak bola Inggris.
Tel, penyerang sayap berusia 21 tahun asal Prancis, baru mencatatkan 259 menit bermain di Liga Inggris musim ini tanpa satu pun gol, assist, atau peluang besar yang tercipta. Ia bahkan ditarik keluar saat laga melawan Liverpool di Piala Liga pekan lalu setelah tampil minim kontribusi. Pelatih Roberto De Zerbi disebut mulai kehilangan kesabaran dan berencana mencadangkan Tel saat menjamu Aston Villa akhir pekan ini.
Di sisi lain, Madueke yang meninggalkan akademi Tottenham pada usia 16 tahun untuk bergabung dengan PSV Eindhoven, kini menjelma menjadi winger mumpuni. Setelah bersinar di Chelsea, ia diboyong Arsenal dengan nilai transfer mencapai £52 juta pada musim panas 2025. Bersama The Gunners, pemain berusia 23 tahun itu turut mengantarkan timnya meraih gelar Liga Inggris dan tampil impresif di Piala Dunia bersama Inggris.
Keputusan Tottenham melepas Madueke tanpa biaya transfer menjadi ironi tersendiri. Pemain kelahiran London itu memilih hengkang karena merasa peluang menembus tim utama Spurs saat itu sangat kecil. Kini, ia justru memperkuat dua rival sekota, Chelsea dan Arsenal, serta meraih trofi bersama keduanya. Sementara Tel, yang didatangkan dengan ekspektasi tinggi, masih kesulitan beradaptasi dengan kerasnya kompetisi Inggris.
"Spurs seharusnya bisa meyakinkan Madueke bahwa ada jalur ke tim utama. Sekarang, ia jelas merupakan peningkatan besar dibandingkan apa yang dimiliki De Zerbi," tulis analis Football FanCast.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi cerminan pentingnya manajemen bakat di level akademi. Klub-klub besar Eropa semakin menyadari bahwa mempertahankan pemain muda potensial sama pentingnya dengan belanja mahal. Tottenham, yang tengah membangun skuad bersama De Zerbi, harus segera membenahi strategi pengembangan pemain jika tidak ingin terus menyesali kehilangan talenta seperti Madueke.
Ke depan, keputusan Spurs untuk tetap memainkan Tel atau memberikan kesempatan kepada pemain muda lain akan menjadi sorotan. Jika Tel terus gagal memenuhi ekspektasi, bukan tidak mungkin Tottenham akan kembali menyesali investasi besar mereka, sementara Madueke terus bersinar di Emirates Stadium.



