Courtney Love Blak-blakan soal Ketidaknyamanan Menjadi Ikon Rock: 'Saya Tak Punya Keterampilan Sosial'
Baca dalam 60 detik
- Courtney Love mengaku tidak siap dengan tekanan ketenaran yang datang setelah Hole meledak pada 1990-an.
- Ia menyoroti minimnya dukungan label untuk musisi non-pop, termasuk soal merchandise yang harus ia urus sendiri.
- Love membagikan resep kreatifnya: menulis jurnal tangan setiap pagi dan berani merasa aman untuk gagal.

Vokalis Hole, Courtney Love, kembali membuka lembaran kelam perjalanan kariernya. Dalam wawancara terbaru dengan Interview Magazine, perempuan 62 tahun itu mengaku tidak pernah benar-benar nyaman dengan status selebritas yang melekat padanya sejak akhir 1980-an. “Saya tidak punya nyali untuk itu. Saya tidak punya keterampilan sosial atau infrastruktur pendukung,” ujarnya, menggambarkan betapa asing dirinya dengan dunia gemerlap yang menuntut penampilan dan relasi sosial mulus.
Ketidaknyamanan itu bukan tanpa sebab. Love mengingat masa-masa awal tur dunia bersama Hole pada dekade 90-an, ketika ia merasa dibiarkan berjuang sendiri oleh label rekamannya. Menurutnya, ada perlakuan istimewa bagi musisi pop, sementara untuk genre alternatif, pendapatan dari merchandise menjadi penopang utama. “Kalau kamu pop, kamu dapat dukungan. Kalau bukan, ya dari jualan merch,” kenangnya. Ia bahkan harus memesan sendiri aksesori rambut seperti tiara dan bando dari China. Kini, benda-benda itu justru dijual ratusan dolar di eBay. “Karena saya benar, dan mereka salah. Saya bersyukur masih bisa menceritakan ini,” tambahnya.
Kisah Love bukan sekadar nostalgia. Ia menyoroti sisi gelap industri musik yang jarang terekspos: bagaimana label kerap abai pada musisi non-mainstream, terutama dalam hal pengelolaan karier dan kesejahteraan psikologis. Hal ini relevan dengan lanskap musik Indonesia, di mana banyak musisi indie harus mandiri mengurus produksi, distribusi, hingga merchandise. Peran label masih timpang, dan tekanan untuk tampil sempurna di media sosial memperparah kerentanan mental para seniman.
“Saya sudah mengalami banyak keberhasilan dan kegagalan. Kegagalan itu sangat sulit diatasi. Saya tidak punya banyak nasihat karena saya belum benar-benar berhasil, tapi saya terus mencoba. Hal-hal yang harus dilakukan itu sangat sederhana. Kamu harus tetap aneh dan berolahraga. Jika kamu seorang pecandu—seperti saya—kamu harus berdoa. Lalu duduk dan menulis 20 halaman tangan. Tulisannya harus kecil, semakin kecil semakin baik. Kamu menulis halaman-halaman sampah. Tidak masalah apa yang kamu tulis. Itu caramu melepaskan sesuatu yang kreatif setiap pagi. Terdengar bodoh, tapi membantu. Kamu harus merasa aman untuk gagal.”
Pernyataan Love tentang rutinitas menulis jurnal tangan sejalan dengan temuan psikologi klinis mengenai manfaat ekspresif writing bagi kesehatan mental. Menulis bebas tanpa beban kesempurnaan dapat membantu mengurangi kecemasan dan membuka jalan bagi pemulihan trauma. Bagi industri kreatif Tanah Air yang kian kompetitif, pesan ini menjadi pengingat bahwa ketahanan mental sama pentingnya dengan bakat.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Courtney Love akan kembali merilis album, tetapi bagaimana ekosistem musik global—dan Indonesia—dapat menciptakan lingkungan yang lebih suportif bagi seniman yang rentan. Regulasi ketenagakerjaan di sektor kreatif, akses layanan kesehatan mental, dan distribusi pendapatan yang adil menjadi pekerjaan rumah bersama. Tanpa itu, kisah Love berpotensi terulang pada generasi musisi berikutnya.



