Duka Dunia Pendakian: Nirmal Purja Tewas Tertimbun Longsor di Broad Peak
Baca dalam 60 detik
- Pendaki legendaris Nirmal Purja dan sembilan anggota ekspedisinya dinyatakan tewas akibat longsoran salju di Broad Peak, Pakistan.
- Peristiwa ini menambah daftar panjang tragedi di salah satu gunung paling berbahaya di dunia, dengan rekor puluhan nyawa melayang sejak pendakian pertama pada 1957.
- Kepergian Purja meninggalkan jejak besar dalam dunia alpinisme, sekaligus memicu pertanyaan tentang keselamatan pendakian gunung ekstrem di tengah perubahan iklim.

Dunia pendakian gunung berduka. Nirmal Purja, pendaki asal Nepal yang memecahkan rekor dunia dengan menaklukkan 14 puncak tertinggi di dunia dalam waktu kurang dari tujuh bulan, dikonfirmasi tewas dalam longsoran salju di Broad Peak, Pakistan, Kamis lalu. Kabar duka ini disampaikan langsung oleh Elite Expeditions, perusahaan ekspedisi yang didirikan Purja, melalui pernyataan resmi di media sosial.
Longsoran yang terjadi di ketinggian 8.047 meter tersebut menewaskan seluruh anggota tim ekspedisi yang berjumlah sepuluh orang. Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, dalam cuitannya menyatakan rasa duka mendalam atas tragedi yang menimpa enam pendaki Nepal dan empat warga asing lainnya. "Sejarah keberanian, dedikasi, dan kontribusi mereka akan selalu menginspirasi," tulisnya.
Hingga berita ini diturunkan, tim penyelamat Pakistan masih berupaya mengevakuasi jenazah para korban. Tiga jenazah telah berhasil ditemukan, yaitu Mallory Geis dari Amerika Serikat, Nadhira Ahmed Abdullah Al Harthy dari Oman, dan Pur Bahadur Gurung dari Nepal. Proses pencarian dan evakuasi dilakukan di tengah kondisi cuaca ekstrem yang menjadi tantangan besar bagi tim penyelamat.
Nama Nirmal Purja melambung setelah dokumenter Netflix berjudul 14 Peaks: Nothing Is Impossible rilis pada 2021. Film tersebut mengisahkan perjuangannya menaklukkan 14 puncak tertinggi di dunia, termasuk Everest, dalam waktu 189 hariโsebuah pencapaian yang sebelumnya dianggap mustahil. Sebelum menjadi pendaki profesional, Purja mengabdi di Angkatan Darat Inggris sejak 2003 dan kemudian bergabung dengan Special Boat Service (SBS), unit khusus Angkatan Laut Inggris, pada 2009.
Broad Peak, yang berada di rangkaian Pegunungan Karakoram, memang dikenal sebagai salah satu gunung paling mematikan bagi para pendaki. Sejak pendakian pertama yang berhasil dilakukan ekspedisi Austria pada 1957, puluhan nyawa telah melayang di sana. Tahun 2013 tercatat sebagai salah satu tahun tergelap dengan enam pendaki tewas dalam waktu singkat. Kombinasi cuaca ekstrem, medan es yang tidak stabil, dan risiko longsor menjadikan gunung ini ujian berat bagi siapa pun yang mencoba menaklukkannya.
Tragedi ini kembali menyoroti risiko besar yang dihadapi para pendaki gunung ekstrem, terutama di tengah perubahan iklim yang membuat kondisi salju dan es semakin tidak stabil. Para ahli memperkirakan bahwa pemanasan global meningkatkan frekuensi longsoran salju di kawasan Himalaya dan Karakoram, menjadikan pendakian semakin berbahaya. Bagi para pendaki Indonesia yang bercita-cita menaklukkan puncak-puncak dunia, peristiwa ini menjadi pengingat penting akan pentingnya persiapan matang, pemilihan waktu yang tepat, dan kewaspadaan terhadap kondisi alam yang dinamis.
Kepergian Nirmal Purja meninggalkan duka mendalam bagi komunitas pendaki global. Namun, warisannya sebagai pendaki yang berani menembus batas kemampuan manusia akan terus dikenang. Pertanyaan yang kini menggantung: apakah tragedi ini akan mendorong perubahan signifikan dalam protokol keselamatan pendakian gunung ekstrem, atau justru semakin menguatkan tekad para pendaki untuk menaklukkan puncak-puncak yang lebih tinggi?



