UFC Rugi Rp480 Miliar Gelar Freedom 250 di Gedung Putih, TKO Tetap Catat Pertumbuhan Pendapatan
Baca dalam 60 detik
- Penyelenggaraan UFC Freedom 250 di Gedung Putih Juni lalu menelan kerugian hingga US$30 juta, namun TKO Group mencatat kenaikan pendapatan kuartal kedua.
- Acara eksklusif yang dihadiri Presiden Trump itu berhasil menarik 34 juta penonton global, menjadi salah satu event MMA paling banyak ditonton.
- Kerugian ini diprediksi sudah diperhitungkan, dengan pendapatan dari hak siar Paramount+ dan kemitraan global membantu menutup biaya operasional.

Penyelenggaraan UFC Freedom 250 di halaman Gedung Putih pada Juni lalu menjadi peristiwa bersejarah, namun di balik kemegahannya, event tersebut mencatatkan kerugian hingga US$30 juta atau sekitar Rp480 miliar. Meski demikian, induk usaha UFC, TKO Group Holdings, mengumumkan pendapatan kuartal kedua yang tetap tumbuh signifikan, menunjukkan bahwa kerugian tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.
Acara yang digelar untuk merayakan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat ini hanya mengundang sekitar 4.300 tamu, termasuk Presiden Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance. Tiket tidak dijual untuk publik, dan biaya awal diperkirakan menembus US$60 juta. Namun, UFC berhasil menutup sebagian biaya melalui sponsor, eksposur media, dan kemitraan lainnya, sehingga kerugian bersih menjadi US$30 juta.
Menurut Andrew Schleimer, Chief Financial Officer TKO Group, biaya yang dikeluarkan untuk Freedom 250 jauh lebih tinggi dari normal, tetapi dapat diimbangi dengan penjualan paket kemitraan global yang ludes. "Mengingat profil acara ini, kerugian sekitar US$30 juta sudah kami perkirakan. Margin UFC dan perusahaan secara konsolidasi memang terdampak," ujarnya dalam konferensi dengan investor, Senin (28/7).
Kerugian ini tidak menghentikan laju pertumbuhan UFC. TKO melaporkan pendapatan UFC meningkat 29% year-on-year menjadi US$535,7 juta pada kuartal kedua 2026. Lonjakan ini didorong oleh kenaikan pendapatan hak siar sebesar US$64,7 juta, berkat kontrak baru dengan Paramount senilai US$7,7 miliar untuk jangka waktu tujuh tahun. Sejak 2026, Paramount+ menjadi rumah eksklusif siaran UFC di Amerika Serikat, dan Freedom 250 menjadi ajang perdana yang disiarkan di platform streaming tersebut.
Meski merugi, event ini berhasil menarik rata-rata 34 juta penonton di seluruh dunia, menjadikannya salah satu acara MMA paling banyak ditonton sepanjang sejarah. Angka ini menunjukkan daya tarik global UFC yang semakin menguat, terutama dengan dukungan politik dan media yang besar.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik dicermati. Meski UFC belum memiliki acara besar di Asia Tenggara, pertumbuhan pendapatan dan ekspansi global UFC membuka peluang bagi penggemar MMA di Indonesia untuk menikmati lebih banyak konten berkualitas. Selain itu, strategi UFC yang berani mengambil risiko demi eksposur politik dan media bisa menjadi pelajaran bagi industri olahraga nasional dalam mengelola event besar.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah UFC akan mampu mempertahankan momentum pertumbuhan ini setelah euforia Freedom 250 mereda. Dengan kontrak Paramount yang baru dimulai, tekanan untuk menghasilkan konten menarik dan menguntungkan akan semakin besar. Apakah UFC akan terus berinovasi dalam penyelenggaraan event, atau justru fokus pada efisiensi biaya? Hanya waktu yang akan menjawab, namun langkah TKO Group menunjukkan bahwa mereka siap bermain di level tertinggi.



