Asian Games: Kebangkitan Hoki Putri India dan Tiket Olimpiade yang Menanti
Baca dalam 60 detik
- Tim hoki putri India menatap Asian Games dengan modal performa terbaik dalam lima dekade setelah finis kelima di Piala Dunia 2026.
- Kepemimpinan pelatih Sjoerd Marijne dan perpaduan pemain senior-junior menjadi kunci kebangkitan, meski lini serang masih jadi kelemahan.
- Medali emas di Asian Games menjamin tiket langsung ke Olimpiade Los Angeles, dengan China, Jepang, dan Korea Selatan sebagai penghalang utama.

Tim hoki putri India memasuki Asian Games di Jepang dengan tekanan dan harapan yang tidak biasa: bukan sekadar bersaing, melainkan menantang medali emas. Optimisme itu bukan tanpa dasar. Sejak Agustus, skuad asuhan Sjoerd Marijne menunjukkan transformasi yang membuat mereka kembali diperhitungkan di panggung dunia.
Puncaknya terjadi di Piala Dunia Hoki 2026. Penjaga gawang Bichu Devi Kharibam menjadi pahlawan lewat penyelamatan gemilang yang menggagalkan peluang emas Inggris. India, yang dikapteni Salima Tete, mengakhiri turnamen di peringkat kelima—capaian terbaik mereka sejak menempati posisi keempat pada 1974. Hasil itu mengangkat India ke peringkat delapan dunia, sebuah lompatan setelah dua tahun penuh gejolak.
Mantan kapten India, Pritam Siwach, menilai kebangkitan ini bertumpu pada disiplin pertahanan dan ketenangan di bawah mistar. India menahan imbang China, Inggris, dan Australia dengan catatan kebobolan minimal. "Kami mungkin tidak membakar rumah lawan, tapi kami juga tidak akan membiarkan rumah kami dibakar," ujarnya menggambarkan gaya main tim.
Kebangkitan ini tidak lepas dari sosok Marijne. Pelatih asal Belanda itu pernah membawa India ke semifinal Olimpiade Tokyo 2021—sebuah pencapaian bersejarah—sebelum performa tim menurun pasca-kepergiannya. Ia dipanggil kembali pada Januari 2026, dan sejak itu ia menanamkan pendekatan yang menekankan kohesi, bukan sekadar taktik.
Pendekatan itu terlihat dari detail kecil: pemain mengenakan gelang persatuan kuning-merah di pergelangan tangan, dan dalam sesi latihan, pemain senior ditutup matanya lalu dipandu oleh junior mengelilingi lapangan. Latihan itu dirancang membangun kepercayaan. "Ciptakan persatuan, dan tunjukkan kepada dunia bahwa mereka menikmati permainan dan merupakan satu tim," kata Marijne, mengutip arahan Hockey India seperti dilaporkan The Indian Express.
Kapten Salima Tete, 24 tahun, adalah simbol dari perjalanan ini. Ia tumbuh di Barkichapar, desa kecil di Jharkhand, dan belajar hoki dengan stik bambu buatan ayahnya. Kemampuannya bertransisi cepat dari bertahan ke menyerang menjadikannya pemain kunci. Latar belakang sederhana juga mewarnai skuad: gelandang Neha Goyal mengaku terjun ke hoki demi mendapatkan "sepatu dan pakaian yang layak", dan ibunya sempat bekerja di pabrik selama bertahun-tahun setelah ayahnya meninggal pada 2017.
Skuad ini juga menjelma sebagai perpaduan lintas generasi—dari Savita yang berusia 36 tahun hingga Sakshi Rana yang baru 18 tahun. Marijne bahkan tidak ragu mencoret nama mapan dan memberi kesempatan kepada pemain seperti Shilpi Dabas yang lama berada di pinggiran tim nasional. Dukungan staf spesialis, termasuk performance scientist, turut memperbaiki kondisi fisik pemain. "Kredit juga untuk para pemain yang memberikan 100 persen," kata Bodhisattva Dass, mantan asisten fisioterapis Hockey India.
Namun, persoalan mendasar belum sepenuhnya teratasi: lini serang. Di Piala Dunia, India hanya mencetak 11 gol dan gagal menjebol gawang Inggris, Belanda, serta Australia. Enam gol justru disarangkan ke gawang Afrika Selatan. Siwach menegaskan tim perlu lebih efisien dalam memanfaatkan peluang. Jurnalis Norris Pritam menyoroti buruknya konversi penalty corner dan kebutuhan bermain lebih menyerang untuk mengurangi beban lini belakang.
Di Asian Games kali ini, China, Jepang, dan Korea Selatan diprediksi menjadi lawan terberat. Sejumlah pemain seperti Navneet Kaur, Nikki Pradhan, Sushila Chanu, dan Lalremsiami kembali dengan pengalaman Asian Games 2023, di mana India meraih perunggu. Bagi Lalremsiami, Jepang menyimpan kenangan pahit: pada 2019 di Hiroshima, ia baru mengetahui ayahnya meninggal saat sedang bertanding. Ia memilih tetap bersama tim dan membantu India meraih tiket kualifikasi Olimpiade.
Kali ini, taruhannya sama besar. Emas di Asian Games akan mengantar India langsung ke Olimpiade Los Angeles. "Pelatih baru telah menanamkan kepercayaan diri dan kekompakan. Mereka bermain sebagai satu kesatuan. China akan menjadi rival terberat, tapi jika India fokus, mereka bisa melewatinya," ujar Pritam.
Bagi Indonesia, kisah ini bukan sekadar catatan olahraga internasional. Kebangkitan hoki putri India menunjukkan bagaimana investasi pada staf pendukung, pembinaan lintas generasi, dan pembangunan budaya tim dapat mengubah nasib sebuah program olahraga dalam waktu singkat. Indonesia, yang tengah berupaya membangun ekosistem olahraga prestasi, bisa mengambil pelajaran dari cara India mengelola transisi pelatih dan memadukan pemain dari latar belakang beragam. Pertanyaannya, akankah India benar-benar mengubah peluang menjadi emas—atau justru mengulang catatan buruk di lini depan yang selama ini menghantui?



