Ian Machado Garry: Diet Vegan Kunci di Balik Peluang Juara UFC 330
Baca dalam 60 detik
- Petarung Irlandia Ian Machado Garry mengaitkan kesuksesannya di UFC dengan keputusan beralih ke pola makan vegan lima tahun lalu.
- Garry akan menantang Islam Makhachev di UFC 330, dengan peluang menjadi juara Irlandia pertama sejak Conor McGregor.
- Selain performa, Garry juga menyoroti dampak positif veganisme terhadap lingkungan dan gaya hidupnya sebagai ayah.

Ian Machado Garry, petarung UFC asal Irlandia, menegaskan bahwa keputusan untuk mengadopsi pola makan vegan lima tahun lalu menjadi titik balik kariernya. Menjelang laga terbesar melawan Islam Makhachev di UFC 330, Philadelphia, 15 Agustus mendatang, Garry mengklaim perubahan diet tersebut menyelamatkan kariernya dari rentetan masalah kesehatan yang hampir menghambat langkahnya di oktagon.
Perjalanan Garry di UFC tidak selalu mulus. Meski debutnya berakhir manis melawan Jordan Williams, di balik layar ia kerap jatuh sakit saat proses pemotongan berat badan. Sistem imunnya melemah, membuatnya rentan terhadap infeksi dan penyakit. Kondisi ini mendorongnya untuk beralih ke pola makan nabati, sebuah keputusan yang ia yakini seratus persen bertanggung jawab atas posisinya saat ini.
Sejak menjadi vegan, Garry mengaku merasakan peningkatan signifikan dalam pemulihan, istirahat, dan performa latihan. Ia bahkan mampu menerima pertarungan mendadak, seperti melawan Carlos Prates dan Shavkat Rakhmonov, hanya dengan pemberitahuan tujuh hari. "Sebelumnya, saya tidak akan sanggup," ujarnya. "Manajemen berat badan saya sejak vegan luar biasa. Pemulihan, istirahat, dan latihan saya tidak ada duanya."
Keputusan Garry sejalan dengan tren atlet global yang beralih ke pola makan nabati, seperti Lewis Hamilton, Venus Williams, dan saudara Diaz. Namun, ia juga mengingatkan bahwa veganisme bukan untuk semua orang. "Tidak semua orang punya disiplin untuk menjalani gaya hidup ini. Tapi jika Anda melakukannya, Anda akan menuai manfaatnya," katanya. Ia menambahkan bahwa dalam 11 pertarungan terakhir sebagai vegan, ia tidak pernah mengalami cedera jaringan lunak atau masalah otot.
Di luar aspek performa, Garry juga vokal mengenai dampak veganisme terhadap lingkungan dan kesejahteraan hewan. Bermitra dengan Peta, ia ingin menggunakan platformnya untuk meningkatkan kesadaran akan perubahan iklim. Dalam wawancara terakhir, ia menyoroti gelombang panas ekstrem di Inggris sebagai bukti nyata pemanasan global. "Keputusan kita memengaruhi hewan, burung, lebah, dan semua manusia di dunia," tegasnya.
Konteks Indonesia: Tren pola makan nabati juga mulai menggeliat di Indonesia, terutama di kalangan atlet dan anak muda urban. Meski belum sepopuler di Barat, kesadaran akan kesehatan dan lingkungan perlahan tumbuh. Namun, tantangan seperti ketersediaan protein nabati dan norma sosial masih menjadi hambatan. Kisah Garry bisa menjadi inspirasi bagi atlet Indonesia untuk mengeksplorasi diet vegan, meski perlu pendampingan ahli gizi agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi.
Jika berhasil mengalahkan Makhachev, Garry tidak hanya akan mengukir sejarah sebagai juara Irlandia pertama sejak McGregor, tetapi juga membuktikan bahwa gaya hidup vegan tidak menghalangi pencapaian di level tertinggi. Ia juga berharap bisa menjadi panutan yang lebih humanis di tengah budaya maskulinitas toksik yang kerap mewarnai dunia MMA. "Saya seorang ayah. Saya menunjukkan pada anak saya bahwa kita menghormati wanita dan hewan," ucapnya.
Pertanyaan besarnya kini: akankah kemenangan di UFC 330 membuka era baru bagi petarung vegan di panggung terbesar MMA dunia? Atau justru Makhachev akan mempertahankan dominasinya dan mementahkan narasi Garry? Jawabannya akan terjawab di Philadelphia, dan dunia akan menyaksikan apakah diet nabati benar-benar menjadi resep sukses di oktagon.



