Rindu Kereta Malam Kembali Beroperasi: Penumpang Malaysia Desak KTMB Hidupkan Lagi Layanan ETS
Baca dalam 60 detik
- Penumpang setia ETS di Malaysia mengusulkan agar layanan kereta malam dihidupkan kembali untuk memangkas biaya akomodasi dan waktu tempuh.
- KTMB menyatakan proyek KVDT2 yang sedang berlangsung menjadi kendala teknis utama, sehingga layanan malam belum bisa direalisasikan.
- Jika terealisasi, layanan ini berpotensi mengubah mobilitas antar kota di Semenanjung Malaysia dan menjadi pelajaran berharga bagi pengembangan kereta api di Indonesia.

Rindu akan layanan kereta api malam yang dulu menjadi andalan perjalanan antar kota di Semenanjung Malaysia kembali mengemuka. Sejumlah penumpang setia Electric Train Service (ETS) mendesak operator Keretapi Tanah Melayu Berhad (KTMB) untuk menghidupkan kembali rute malam yang pernah populer, guna menjawab kebutuhan mobilitas yang lebih efisien dan hemat biaya.
Layanan kereta malam seperti Ekspres Senandung Malam dengan gerbong tidur telah dihentikan sekitar satu dekade lalu, menyusul restrukturisasi operasional KTMB pasca elektrifikasi dan pembangunan jalur ganda. Kini, para pengguna setia berharap layanan serupa dapat dihadirkan kembali di jaringan ETS yang menghubungkan kota-kota besar di Semenanjung Malaysia.
Seorang pekerja rehabilitasi yang hanya mau disebut Deepu, yang setiap minggu melakukan perjalanan antara Johor Baru dan Kuala Lumpur, mengungkapkan bahwa layanan ETS malam yang berangkat sekitar tengah malam akan menjadi solusi ideal. Dengan tiba di tujuan antara pukul 04.00 hingga 05.00, penumpang yang bekerja dapat melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi umum yang sudah mulai beroperasi. โPenumpang bisa naik LRT atau KTM pertama di Kuala Lumpur dan langsung menuju tempat tujuan, seperti yang dulu biasa terjadi,โ ujarnya. Saat ini, ETS terakhir dari Johor Baru tiba di Kuala Lumpur pada malam hari, memaksa penumpang mencari penginapan.
Senada dengan Deepu, akuntan asal Johor Baru, Syazurin Aziz (35), yang kerap menggunakan ETS untuk mengunjungi orang tuanya di Kuala Lumpur, menilai layanan malam akan sangat membantu. โSaya lebih suka ETS karena lebih nyaman dan lebih murah daripada pesawat,โ katanya. Dengan adanya kereta malam, ia bisa menghabiskan akhir pekan lebih lama bersama keluarga dan kembali bekerja pada Senin pagi. Mahasiswa Universitas di Selangor, Amira Syakira (22), juga menambahkan bahwa penumpang bisa beristirahat dan tidur selama perjalanan malam antara Johor Baru dan Lembah Klang.
Namun, harapan tersebut masih terkendala oleh realitas operasional. KTMB menyatakan saat ini hanya mengoperasikan delapan layanan ETS harian pada rute KL Sentral-JB Sentral, dengan empat keberangkatan di setiap arah. Proyek Klang Valley Double Tracking Phase 2 (KVDT2) yang sedang berlangsung menjadi kendala utama. Pekerjaan infrastruktur ini memerlukan akses jalur khusus, termasuk penutupan total jalur antara pukul 21.30 hingga 05.30 setiap hari, sehingga tidak ada pergerakan kereta yang diizinkan pada segmen yang terdampak.
Meski demikian, KTMB menegaskan bahwa setelah proyek KVDT2 selesai, mereka akan memiliki fleksibilitas operasional yang lebih besar untuk menyempurnakan jadwal dan menyesuaikan layanan dengan kebutuhan penumpang yang terus berkembang. Pernyataan ini memberikan secercah harapan bagi para pengguna setia yang merindukan kenyamanan kereta malam.
Fenomena ini sejalan dengan tren di berbagai negara, di mana kereta api malam kembali diminati sebagai alternatif transportasi yang ramah lingkungan dan efisien. Bagi Indonesia, wacana ini relevan mengingat PT Kereta Api Indonesia juga tengah mengembangkan layanan kereta cepat dan jarak jauh. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap menghadirkan inovasi serupa untuk meningkatkan konektivitas antar kota, atau justru akan tertinggal dalam memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat yang semakin dinamis?



