T-BEAUTY: Gelombang Baru Kecantikan Asia Tenggara yang Mengguncang Pasar Global
Baca dalam 60 detik
- Industri kecantikan Thailand mencatat penjualan ritel 270 miliar baht pada 2025, didorong oleh produk yang dirancang untuk iklim tropis.
- Berbeda dengan K-beauty atau J-beauty, T-beauty mengedepankan fungsionalitas dan ketahanan produk di tengah panas dan kelembapan tinggi.
- Para pelaku industri menilai masa depan T-beauty bergantung pada penguatan narasi global dan inovasi berkelanjutan, bukan sekadar mengikuti tren.

Industri kecantikan Thailand, yang selama ini dikenal sebagai rahasia belanja wisatawan di Bangkok, kini menjelma menjadi kekuatan ekspor kecantikan dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara. Dengan pasar senilai 270 miliar baht atau sekitar 8,08 miliar dolar AS pada 2025, produk-produk yang dirancang untuk kulit tropis dan iklim lembap ini mulai mendominasi rak-rak apotek di Singapura hingga toko daring di berbagai negara.
Fenomena yang kemudian dijuluki T-beauty ini lahir dari kebutuhan nyata masyarakat tropis. Berbeda dengan K-beauty dari Korea Selatan yang mengedepankan rutinitas perawatan kulit berlapis, atau J-beauty dari Jepang yang dikenal dengan kesederhanaannya, Thailand justru membangun identitas melalui produk yang tahan terhadap panas, kelembapan, dan paparan sinar UV sepanjang hari. Wongwiwat Theekhakhirikul, direktur managing Karmarts yang menaungi merek seperti Cathy Doll dan Browit, menegaskan bahwa produk-produk ini dikembangkan untuk kondisi nyata, bukan sekadar mengikuti tren global.
Keunggulan ini semakin relevan ketika gelombang soft power Thailand meluas melalui drama dan musik. Aktor-aktor seperti Bright Vachirawit dan Win Metawin tidak hanya memikat penonton internasional, tetapi juga membuka pintu bagi produk kecantikan Thailand untuk dikenal lebih luas. Kementerian Perdagangan Thailand bahkan mencatat lonjakan 20 persen pendaftaran perusahaan kecantikan baru, menjadikan kosmetik sebagai salah satu industri 'rising star' negara tersebut.
Bagi konsumen Indonesia, fenomena ini memiliki arti penting. Iklim tropis yang serupa membuat produk-produk T-beauty sangat relevan dengan kebutuhan kulit masyarakat Indonesia. Larry Yeo, penata rias selebriti asal Singapura, mengakui bahwa ia kerap menghabiskan waktu berjam-jam di toko kecantikan Eveandboy di Bangkok untuk mencari produk-produk seperti tabir surya ringan dari Mistine atau bedak translusen dari Srichand yang mampu mengontrol minyak tanpa membuat riasan tampak kusam.
Namun, perjalanan T-beauty tidak selalu mulus. Beberapa kategori produk, terutama kosmetik warna, masih perlu penyesuaian dengan preferensi lokal. Yeo mencatat bahwa warna-warna hangat khas Thailand seringkali kurang cocok dengan selera konsumen Singapura yang lebih menyukai nuansa peach. Meski demikian, para pelaku industri menolak untuk sekadar menjadi 'K-beauty berikutnya'. Mereka ingin mendefinisikan kategori baru yang berakar pada keahlian tropis dan pemahaman mendalam tentang konsumen Asia Tenggara.
Kanyachat 'Elle' Lerttanapaiboon, pendiri merek clean beauty Her Hyness, membawa perspektif berbeda. Berbekal pengalaman sebagai mantan eksekutif L'Orรฉal, ia menyaksikan sendiri bagaimana standar kecantikan Asia yang mengejar kulit putih justru merusak kesehatan kulit. Kini, Her Hyness mengembangkan produk yang menargetkan masalah seperti melasma dan pigmentasi dengan pendekatan ilmiah, termasuk meneliti pigmen lipofuscin yang sering diabaikan. "Kulit putih dan kulit sehat adalah dua hal yang berbeda," tegasnya, menggarisbawahi pergeseran paradigma dari sekadar mencerahkan menjadi merawat.
Pergeseran ini juga tercermin dalam cara konsumen memandang 'clean beauty'. Mereka tidak lagi puas dengan klaim kosong, melainkan menuntut penjelasan ilmiah di balik formulasi produk. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi merek-merek Thailand untuk membuktikan bahwa produk mereka tidak hanya efektif, tetapi juga aman dan transparan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah T-beauty mampu mempertahankan momentum dan menembus pasar global yang lebih luas. Rawit Hanutsaha, CEO Srichand United Dispensary, menekankan bahwa keberhasilan jangka panjang bergantung pada konsistensi dalam riset, kualitas, dan inovasi. "Masa depan T-beauty bukan tentang mengikuti tren, tetapi membuktikan bahwa Thailand memiliki filosofi kecantikan yang khas, dibangun di atas kinerja dan pemahaman mendalam tentang konsumen tropis," ujarnya. Dengan dukungan soft power yang kuat dan keunggulan iklim yang serupa dengan banyak negara Asia Tenggara, T-beauty berpotensi menjadi kekuatan utama di industri kecantikan global. Namun, akankah merek-merek Indonesia mampu mengambil pelajaran dan bersaing di panggung yang sama?



