Ken Griffin Kembali Jadi Penyelamat Wall Street: Dana AI yang Gagal Diakuisisi Citadel
Baca dalam 60 detik
- Citadel mengambil alih portofolio Situational Awareness setelah dana tersebut kehilangan 67% nilainya akibat aksi jual saham AI.
- Langkah ini menegaskan kembali strategi Griffin yang kerap memanfaatkan krisis untuk memperkuat posisi pasar.
- Akuisisi ini berpotensi mempengaruhi dinamika pasar saham teknologi global, termasuk sentimen investor di Indonesia.

Ketika dana lindung nilai lain mengalami kerugian besar, Ken Griffin, pendiri Citadel, kembali menunjukkan naluri bisnisnya dengan muncul membawa cek. Pekan ini, ia menyelamatkan dana lindung nilai asal California, Situational Awareness, yang terpuruk akibat taruhan buruk pada saham perusahaan kecerdasan buatan (AI).
Situational Awareness, yang didirikan oleh Leopold Aschenbrenner, mantan peneliti OpenAI, kehilangan 67 persen nilai portofolionya pada Juli setelah aksi jual besar-besaran saham AI. Dana tersebut terpaksa melepas sebagian besar posisi ekuitas publiknya yang bernilai 16 miliar dolar AS. Citadel, yang mengelola aset senilai 71 miliar dolar AS, kemudian membeli sebagian besar portofolio tersebut pada Kamis.
Langkah ini bukan yang pertama bagi Griffin. Sejak krisis Enron pada 2001, ia telah berulang kali memanfaatkan momen ketika pasar sedang tertekan. Dalam kasus Enron, Griffin menyewa jet pribadi untuk mewawancarai para trader dan analis energi yang kehilangan pekerjaan, yang kemudian membentuk divisi komoditas Citadel. Pola yang sama terlihat pada 2007 ketika Citadel mengambil alih portofolio Sowood Capital, dan pada 2021 ketika menyuntikkan dana 2,75 miliar dolar AS ke Melvin Capital yang terpuruk akibat aksi investor ritel di Reddit.
Bagi pasar Indonesia, aksi Citadel ini menjadi sinyal bahwa investor institusional besar masih percaya pada potensi jangka panjang saham teknologi, meskipun terjadi gejolak jangka pendek. Namun, perlu diingat bahwa pasar saham domestik memiliki karakteristik berbeda, dengan dominasi investor ritel dan volatilitas yang lebih tinggi. Keputusan Citadel untuk mengambil risiko di tengah krisis bisa menjadi pelajaran bagi manajer investasi lokal tentang pentingnya manajemen risiko yang disiplin.
Griffin, yang memulai kariernya dari kamar asrama Harvard, dikenal sebagai salah satu investor paling sukses di dunia dengan kekayaan pribadi diperkirakan mencapai 52 miliar dolar AS. Ia juga dikenal sebagai donor politik Partai Republik yang vokal, termasuk mengkritik kebijakan tarif Presiden Donald Trump sebagai "kesalahan besar". Dalam sebuah wawancara, ia menekankan pentingnya fokus pada skenario terburuk dalam pengelolaan portofolio.
Meskipun jumlah pasti keuntungan Citadel dari kesepakatan ini tidak diungkapkan, banyak saham AI dalam portofolio tersebut telah menunjukkan pemulihan. Ini menunjukkan bahwa keputusan Griffin untuk turun tangan mungkin kembali membuahkan hasil, seperti yang terjadi pada krisis-krisis sebelumnya. Pertanyaannya, apakah strategi ini akan terus berhasil di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi?



