Lafarge Africa Terkoreksi 6,5%: Pasar Menanti Katalis Laba Kuartal Kedua
Baca dalam 60 detik
- Saham Lafarge Africa ambles 6,45% dalam sepekan, menyeret kapitalisasi pasar ke level terendah dalam 52 pekan.
- Kinerja kuartal pertama yang impresif—pendapatan naik 34,8%—belum mampu membendung aksi jual investor.
- Proyeksi broker saham menunjukkan pendapatan tahun fiskal 2026 bisa menembus N1,6 triliun, didorong kenaikan harga semen 30%.

Lafarge Africa Plc (WAPCO) kehilangan 6,45% nilai sahamnya dalam sepekan terakhir, menutup perdagangan di N290 per lembar pada Kamis (10/4). Penurunan ini memperpanjang tren negatif selama empat hari berturut-turut yang total mencapai 9%, sekaligus menggerus kapitalisasi pasar emiten semen tersebut menjadi N4,671 triliun—sekitar 18% di bawah puncak 52 pekan.
Volume transaksi yang tercatat mencapai 2,418 juta unit dengan nilai sekitar N697,5 juta menunjukkan tekanan jual masih dominan. Meski fundamental perusahaan tergolong solid, sentimen pasar jangka pendek lebih dipengaruhi oleh aksi ambil untung dan ketidakpastian menjelang rilis laporan keuangan kuartal kedua.
Analis pasar modal menilai koreksi ini bersifat sementara. Mereka meyakini rilis laba kuartal II-2026 akan menjadi katalis positif yang mampu mendorong re-rating saham, serupa dengan yang terjadi pada kuartal pertama. “Transaksi saat ini lebih didorong oleh sentimen dan ekspektasi, bukan data fundamental terbaru,” ujar seorang analis dari Lagos.
Kinerja kuartal pertama memang menunjukkan akselerasi signifikan. Pendapatan melonjak 34,8% year-on-year menjadi N334,9 miliar, didukung oleh kenaikan harga jual dan volume penjualan di semua lini produk. Segmen semen—penyumbang pendapatan utama—tumbuh 35% menjadi N327,6 miliar, sementara agregat dan beton naik 28,6% menjadi N6,9 miliar.
Efisiensi biaya operasional dan perbaikan posisi keuangan mendorong laba sebelum pajak (PBT) melesat 104% menjadi N149,1 miliar. Margin profitabilitas yang melebar ini menjadi modal kuat bagi perusahaan untuk menghadapi tekanan inflasi dan fluktuasi mata uang.
Proyeksi broker saham mengindikasikan momentum pertumbuhan masih akan berlanjut. Harga semen rata-rata diperkirakan naik 30% year-on-year menjadi N203.852 per ton pada tahun fiskal 2026, sementara volume penjualan diprediksi meningkat 10,8% menjadi 7,5 juta ton metrik. Dengan asumsi tersebut, pendapatan tahunan bisa mencapai N1,6 triliun, naik dari N1,1 triliun pada 2025.
“Kami memperkirakan laba sebelum pajak akan tumbuh 43,9% menjadi N681,9 miliar, ditopang oleh ekspansi pendapatan, moderasi tekanan biaya, dan pendapatan bunga bersih yang lebih baik,” tulis para broker dalam ulasan ekuitas mereka.
Bagi investor Indonesia, pergerakan saham Lafarge Africa memberikan gambaran tentang dinamika sektor semen di pasar berkembang. Kenaikan harga semen yang agresif—mirip dengan tren di Indonesia—menunjukkan bahwa produsen semen masih memiliki daya tawar tinggi di tengah permintaan infrastruktur yang kuat. Namun, risiko koreksi jangka pendek akibat aksi ambil untung tetap perlu diwaspadai.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah laba kuartal kedua mampu memenuhi ekspektasi pasar yang sudah tinggi. Jika realisasi di bawah proyeksi, bukan tidak mungkin tekanan jual berlanjut. Sebaliknya, jika kinerja kembali impresif, Lafarge Africa berpotensi merebut kembali level psikologis N300 per saham.



