Negeri Sembilan Memilih: Ujian Besar Anwar di Tengah Pakta PN-BN dan Polemik Rasial
Baca dalam 60 detik
- Hampir 900 ribu pemilih di Negeri Sembilan menentukan nasib koalisi pimpinan Anwar Ibrahim, yang tertekan setelah kekalahan di Johor.
- Aliansi tak lazim antara Barisan Nasional dan Perikatan Nasional berpotensi menggalang suara Melayu, mengancam dominasi Pakatan Harapan di negara bagian tersebut.
- Hasil pemilu ini bisa menjadi katalis bagi pemilu nasional lebih cepat atau justru memperkuat posisi Anwar menjelang 2028.

Seremban, Malaysia โ Sekitar 900 ribu pemilih di Negeri Sembilan memberikan suara mereka pada Sabtu (1/8) dalam pemilihan negara bagian yang dianggap sebagai ujian krusial bagi Perdana Menteri Anwar Ibrahim dan koalisi Pakatan Harapan (PH). Di tengah tekanan politik domestik dan pakta politik yang tidak lazim antara Barisan Nasional (BN) dan Perikatan Nasional (PN), hasil pemungutan suara ini diprediksi akan menentukan arah stabilitas pemerintahan federal Malaysia hingga pemilu berikutnya pada 2028.
PH yang menguasai 17 kursi di parlemen negara bagian berupaya mempertahankan dominasinya setelah mengalami kekalahan telak di Johor pada 11 Juli lalu. Namun, kali ini mereka menghadapi tantangan yang lebih kompleks: BN yang merupakan mitra koalisi di tingkat federal justru berkoalisi dengan PN di Negeri Sembilan. Pakta ini memicu spekulasi bahwa pemerintahan persatuan nasional yang dipimpin Anwar mungkin tidak bertahan lama, meskipun ketua BN Ahmad Zahid Hamidi membantahnya.
Analis menilai pakta PN-BN dirancang untuk mengonsolidasikan suara Melayu, yang merupakan kunci kemenangan di negara bagian dengan komposisi etnis beragam ini. Pada pemilu 2023, UMNO yang menjadi tulang punggung BN hanya meraih 14 kursi, sementara PH memperoleh 17 kursi dan PN lima kursi. Dengan aliansi baru ini, PN-BN diprediksi mampu menggeser keseimbangan kekuatan, terutama di daerah-daerah semi-rural yang selama ini menjadi lumbung suara Melayu.
Ketua Komisi Pemilihan Umum (EC) Ramlan Harun menargetkan partisipasi pemilih antara 72 hingga 75 persen, lebih tinggi dari 68 persen pada pemilu 2023. Suasana kampanye yang dinamis disebut menjadi pendorong tingginya antusiasme. Pemungutan suara berlangsung di 401 tempat pemungutan suara (TPS) mulai pukul 08.00 hingga 18.00 waktu setempat. Hasil awal diperkirakan mulai diumumkan sekitar pukul 22.00, dengan hasil final sebelum tengah malam.
Sejumlah pemilih yang ditemui di TPS Kolej Mara Seremban mengungkapkan harapan mereka akan perubahan dan pembangunan. Arif Safwan, teknisi listrik berusia 24 tahun, menegaskan bahwa pilihannya kali ini adalah untuk masa depan. Sementara itu, Jeyhraj, seorang pengelas berusia 44 tahun, menyoroti melonjaknya biaya hidup yang memberatkan kelas pekerja. Ia mengaku mengubah pilihannya dibanding pemilu sebelumnya, meski enggan merinci. Di TPS Institut Perguruan Raja Melewar Sikamat, sejumlah pemilih berharap pemerintahan saat ini dapat melanjutkan program-program yang telah berjalan, termasuk peningkatan infrastruktur seperti stasiun kereta Seremban dan pembangunan bandara.
Pertarungan sengit terjadi di beberapa daerah pemilihan kunci seperti Chennah, Linggi, Sikamat, dan Rantau. Di Chennah, Sekretaris Jenderal DAP Anthony Loke berupaya mempertahankan kursinya untuk keempat kalinya melawan kandidat BN, Siow Kong Choon. Sementara itu, di Linggi, caretaker Menteri Besar Aminuddin Harun mencoba merebut kursi yang selama ini menjadi benteng UMNO sejak 1959. Aminuddin, yang sebelumnya memenangkan Sikamat selama empat periode, harus menghadapi petahana BN Faizal Ramli dan kandidat Bersatu Zamri Said. Langkah berisiko ini menjadi ujian bagi mesin politik PH tanpa popularitas pribadi Aminuddin.
Di tengah hiruk-pikuk kampanye, isu rasial mencuat setelah Direktur Pemilihan PAS Sanusi Md Nor melontarkan pernyataan kontroversial bahwa "Melayu hanya punya Malaysia" dan menyebut etnis minoritas memiliki ikatan leluhur dengan China dan India. Pernyataan ini memicu kecaman dari politisi PH dan laporan polisi. Ketua BN Zahid Hamidi dengan tegas menjauhkan diri dari pernyataan tersebut, menekankan realitas multirasial Malaysia. Perdana Menteri Anwar juga menegaskan bahwa kekuatan Malaysia terletak pada penerimaan terhadap semua warga negara, termasuk komunitas Tionghoa dan India yang loyal.
Ketegangan politik semakin diperumit oleh sengketa internal istana Negeri Sembilan yang melibatkan dua klaim atas takhta. Sengketa ini menjadi pemicu pemilihan negara bagian lebih awal setelah 14 anggota dewan dari BN menarik dukungan terhadap Aminuddin. Istana pun mengingatkan semua pihak untuk tidak menyeret institusi kerajaan ke dalam politik. Pengamat menyoroti ketidakpastian jika koalisi pemenang harus menunjuk menteri besar dengan persetujuan penguasa negara bagian.
Bagi Indonesia, dinamika politik Malaysia ini relevan mengingat posisi negara tersebut sebagai mitra dagang utama dan sesama negara ASEAN. Stabilitas politik Malaysia berdampak langsung pada iklim investasi dan kerja sama bilateral, terutama di sektor ekonomi dan keamanan kawasan. Hasil pemilu Negeri Sembilan akan menjadi indikator awal apakah pemerintahan Anwar mampu bertahan hingga 2028 atau justru memicu pemilu nasional lebih cepat, yang dapat mengubah lanskap politik di kawasan.
Dengan prediksi beragam dari lembaga survei, mulai dari kemenangan telak PN-BN hingga kemungkinan hung assembly, pertanyaan besarnya adalah apakah pakta politik ini akan menjadi model baru di Malaysia. Seperti yang dikatakan analis Adib Zalkapli, "Bagaimana orang Melayu memilih di Negeri Sembilan akan menentukan apakah aliansi ini layak direplikasi di tempat lain." Jika PN-BN menang, tekanan terhadap Anwar untuk membubarkan parlemen akan semakin besar. Namun, jika PH mampu bertahan, itu akan menjadi angin segar bagi perdana menteri untuk membuktikan bahwa dukungan publik masih berpihak padanya. Apakah Negeri Sembilan akan menjadi titik balik atau justru awal dari keruntuhan pemerintahan persatuan? Kita tunggu hasil resminya.



